
Mereka kini sudah tiba di RS, Aresha juga langsung dibawa ke ruang bersalin.
Selama perjalanan sampai tiba di RS Aresha terus mengerang kesakitan, bahkan sekarang Aresha selalu menyebut-nyebut nama sang suami, yaitu Devan.
"Aaahh, sakit, ini semua gara-gara kamu, dasar suami tidak bertanggung jawab, aku benci sama kamu Devan, aahh," teriak Aresha sembari menahan rasa sakitnya.
Hampir 2 jam, Aresha belum bisa melahirkan buah hatinya, padahal sudah pembukaan sempurna, entah apa yang terjadi, dokter yang menangani pun menjadi khawatir, terlebih Aresha yang selalu menyebut-nyebut nama Devan.
Akhirnya dokter pun terpaksa keluar untuk menemui keluarganya.
Sementara itu, Kevin dan Raisa nampak mondar-mandir di depan ruang bersalin, mereka sangat khawatir dengan keadaan Aresha,
dan saat dokter keluar, Kevin langsung menghampirinya.
"Bagaimana dok, apa bayinya sudah lahir?" tanya Kevin panik.
"Apa bapak yang bernama Devan?" tanya dokter itu.
Kevin dan Raisa saling lirik, mereka bingung dengan pertanyaan yang dokter itu lontarkan.
"Bukan dok, saya saudaranya, memangnya kenapa dok," jawab Kevin, dengan raut wajah yang khawatir.
"Ibu Aresha terus memanggil nama Devan, apakah dia suaminya," balas dokter itu.
"Suami? Apa mungkin Aresha istrinya Devan," batin Kevin.
"Kalau iya, tolong suruh datang ke sini, karena kelihatannya bayinya akan lahir jika ayahnya ada di sini," pinta dokter itu.
"Ibu Aresha sudah pembukaan sempurna, tapi sampai saat ini bayinya belum juga lahir, kalau sampai setengah jam belum lahir juga, terpaksa harus operasi," imbuh dokter tersebut. Kevin dan Raisa sama-sama terkejut, mendengar ucapan sang dokter.
"Baik dok, saya akan bawa Devan ke sini," ujar Kevin kemudian.
Setelah itu dokter pun kembali masuk ke ruang bersalin.
"Sayang, aku pergi dulu ya, tolong kamu tetap di sini," ujar Kevin. Lalu berpamitan untuk segera pergi.
"Iya , hati-hati," balas Raisa.
Kini Kevin dalam perjalanan menuju kantor milik Devan, ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, agar cepat sampai.
Hanya butuh waktu 40 menit, mobil Kevin sudah berhenti di pelataran kantor Devan.
Kevin bergegas keluar dari mobil, dan berlari masuk ke dalam kantor.
Selang beberapa menit, Kevin tiba di depan ruangan Devan, namun saat Kevin hendak masuk, seorang perempuan mencegahnya.
"Maaf pak, anda tidak bisa masuk sekarang, pak Devan sedang ada tamu," tutur perempuan yang tengah berdiri di belakang Kevin.
"Maaf mba, tapi ini penting," ujar Kevin yang sangat panik.
"Iya pak, tapi sebaiknya bapak tunggu saja dulu," sahutnya dengan sopan.
"Mba, saya tidak bisa menunggu lagi, ini sangat penting, ini menyangkut istri Devan," seru Kevin yang sudah tersulut emosi.
Perempuan itu terdiam sejenak, dan saat itu juga, pintu ruangan Devan terbuka, melihat Devan keluar, Kevin pun langsung menghampirinya.
"Devan, sekarang juga kamu harus ikut aku," ucap Kevin. Lalu menarik tangan Devan.
"Sorry Vin, aku tidak bisa, sekarang aku ada rapat," jawab Devan.
"Van, ini lebih penting dari rapat kamu itu," seru Kevin. Lalu menunjukkan sebuah foto dalam ponselnya.
Seketika mata Devan terbelalak, ia tak percaya dengan apa yang baru saja dia lihat.
"Kamu kenal dengan wanita ini, sekarang dia sangat membutuhkan kamu, jadi sekarang kamu harus ikut aku, ayo," paksa Kevin. Lalu tanpa persetujuan dari Devan, ia langsung menarik tangan sahabatnya itu.
__ADS_1
"Pak ini rapatnya bagaimana?" tanya Arman sekretaris Devan.
"Kamu tunda saja dulu, kalau tidak mau, bisa kamu batalkan," ujar Devan sembari berjalan mengikuti langkah Kevin.
30 menit kemudian, Devan dan Kevin telah tiba di RS, Devan langsung berlari menuju ke ruang bersalin, setelah Devan masuk, Kevin menunggu dari luar bersama dengan Raisa.
Setibanya di dalam, Devan terdiam sejenak saat melihat sang istri tengah berjuang untuk melahirkan buah hatinya, tak terasa air matanya menetes, segera mungkin Devan hapus, lalu berjalan mendekati sang istri.
"Ayo sayang, kamu pasti bisa, kamu pasti bisa melahirkan buah cinta kita," ucap Devan lembut. Ia genggam erat tangan sang istri, sesekali Devan mengecup kening istrinya itu.
Aresha terus mengerang kesakitan, dan selang beberapa menit, bayi itu pun lahir, tangisnya mengisi ruangan tersebut, air mata bahagia pun menetes, senyum pun terukir di bibir Devan dan juga Aresha.
Berkali-kali Devan menghujani sang istri dengan kecupan, rasa syukur pun tak luput dari keduanya.
"Selamat ya pak, bu, bayinya perempuan," ujar dokter yang membantu persalinan Aresha.
Setelah selesai di bersihkan, baby girl itu pun di serahkan kepada Devan.
Dengan senyum yang mengembang, Devan pun menggendong putrinya itu, lalu ia berjalan mendekati sang istri.
"Lihat sayang, dia sangat cantik sepertimu," ucap Devan, sembari memperlihatkan wajah putrinya itu.
Aresha hanya tersenyum, ia tidak menyangka kalau akan bertemu lagi dengan Devan, setelah 9 bulan terpisah.
Masih ada yang mengganjal di hati Aresha, namun sekarang bukan waktunya untuk mempertanyakan itu.
Setelah satu jam, kini Aresha sudah di pindahkan ke ruang rawat, kedua orang tua Devan pun sudah datang, Kevin dan Raisa pun sudah berada di dalam.
Orang tua Devan terlihat sangat bahagia atas kelahiran cucu pertamanya.
"Thanks ya Vin, kamu udah jagain Aresha selama hampir 9 bulan," ucap Devan pada sahabatnya itu.
"Sama-sama Van, aku juga baru tau, kalau Aresha itu istri kamu," sahut Kevin.
"Oya, aku minta maaf ya, aku sudah salah paham sama kamu," sela Raisa. Ia pun menggenggam tangan Aresha.
"Ya udah, kita pamit dulu ya, kita masih ada urusan," ucap Kevin. Lalu berpamitan.
"Ya udah, sekali lagi makasih ya," ujar Devan.
"Sama-sama bro, om, tante, kita pamit dulu," sahut Kevin. Lalu berpamitan pada kedua orang tua Devan.
" Iya hati-hati ya," sahutnya bersamaan.
Setelah Kevin dan Raisa pergi, Devan langsung duduk di samping sang istri, namun saat ia hendak mencium bibirnya, dengan pelan, Aresha mendorong tubuh Devan.
Dan itu membuatnya sedikit bingung, ia pun mengernyitkan dahinya.
"Heh, kenapa nggak mau, emang kamu enggak kangen apa sama suamimu yang tampan ini," ujar Devan. Lalu memuji dirinya sendiri.
"Ada satu hal yang mau aku tanyain," jawab Aresha.
"Memangnya mau tanya apa, hem," balas Devan.
"Hubungan kamu dengan Alice gimana?" tanya Aresha ragu-ragu.
Devan tersenyum mendengar pertanyaan yang istrinya lontarkan.
"Aku sama dia kan nggak ada hubungan apa-apa, dan mungkin sekarang dia sudah bahagia bersama suaminya, dan juga anaknya," jelas Devan. Aresha mengernyitkan dahinya bingung.
"Maksudnya?" tanya Aresha bingung.
"Ya selama ini dia udah bohongin aku," terang Devan.
"Kamu sih bodoh, mau-maunya di bohongin," celetuk Aresha. Yang tiba-tiba mendapat sentilan di dahinya.
__ADS_1
"Pinter ya, ngatain suami sendiri bodoh," ujarnya sedikit kesal.
Aresha hanya menunjukkan senyum close up nya, sembari mengelus dahinya.
"Kalau nggak bodoh, mana mungkin bisa di tipu," ucap Aresha. Dengan menatap tajam ke arah Devan.
"Ya mau gimana lagi, yang penting sekarang kan kita sudah bersama lagi, jangan pernah tinggalin aku lagi ya," tutur Devan. Lalu memeluk erat sang istri.
"Iya, aku janji nggak akan ninggalin kamu lagi," sahut Aresha.
"Ehem," deheman dari ibu Erika dan pak Seno membuat Devan dan Aresha melepaskan pelukannya.
"Ingat, ini RS," ucap Erika, yang membuat Aresha tersipu malu.
Sementara itu, Devan hanya cengengesan mendapat tatapan tajam dari ibunya.
***
Sore harinya, Aresha pun sudah tiba di rumah, kini ia tengah istirahat di dalam kamar, sementara itu, baby girl tengah tertidur pulas di ranjang nya.
"Sayang, kamu makan dulu ya, nanti obatnya diminum," pinta Devan, sembari berjalan mendekati Aresha.
Devan pun duduk di tepi ranjang menghadap sang istri.
Aresha menatap malas makanan yang Devan bawa.
"Aku belum lapar," ucap Aresha.
"Tapi sekarang waktunya minum obat, jadi harus makan," pinta Devan. Lalu dengan telaten ia pun menyuapi sang istri.
Setelah makanan habis, Devan pun segera mengambil obat yang akan Aresha minum.
Selang 5 menit, obat sudah berhasil Aresha telan.
"Oya, kamu mau kasih nama apa sama putri kita?" tanya Devan sembari membereskan baju-baju Aresha.
"Menurut kamu siapa?" Aresha bertanya balik.
Devan pun menghentikan aktivitasnya, lalu berjalan mendekati sang istri yang tengah duduk bersender di kepala ranjang.
"Bagaimana kalau Vanesha Albercio," usul Devan yang di balas anggukan oleh Aresha.
"Jadi kamu setuju," sambung Devan.
"Iya, aku setuju," sahut Aresha.
Devan tersenyum, begitu juga dengan Aresha, kini kebahagiaan mereka telah kembali, setelah lama terpisah, kini Devan dan Aresha bisa merasakan bahagia lagi.
"Cantik," ucap Devan. Yang menatap lekat wajah sang istri.
"Iya dong, aku kan memang cantik," jawab Aresha dengan bangga. "Nggak kayak kamu jelek," sambung Aresha. Lalu mengejeknya.
Devan langsung menatap tajam ke arah sang istri.
"Kamu berani ya, ngatain suami sendiri jelek," ujar Devan, dengan mencengkeram kedua bahu sang istri.
"Ih, emang beneran kok, kamu tuh jelek," ejek Aresha lagi.
"Ok, karena kamu udah ngatain suami sendiri jelek, kamu akan mendapatkan hukumannya," ujar Devan. Lalu mendekatkan wajahnya ke wajah sang istri.
Aresha tersenyum geli saat Devan menelusuri leher jenjang istrinya itu.
"Ih, kamu lagi ngapain sih, geli tau," ucap Aresha, yang merasa geli.
"Bodo, ini hukuman buat kamu," sahut Devan acuh.
__ADS_1
"Devan!" Seru Aresha. Saat diam-diam Devan mencium bibirnya. Lalu saat Devan berlari menjauh, Aresha melemparinya dengan dengan bantal.