Terjebak Cinta Bos Playboy

Terjebak Cinta Bos Playboy
Terjebak Cinta Bos Playboy_3


__ADS_3

Devan segera membuka pintu mobilnya, lalu menjatuhkan bobot tubuh Aresha di kursi depan.


"Astaga, kamu makan apa sih, kecil-kecil berat banget," gerutu Devan.


"Ya elah bapak, yang penting kan bapak udah bisa keluar, harusnya bapak itu berterima kasih sama saya," ucap Aresha, sembari membenarkan posisi duduknya.


Setelah itu, Devan pun masuk ke dalam mobil, lalu dengan segera ia menjalankan mobilnya.


"Kita makan nanti saja ya, kita balik ke kantor dulu," ujar Devan sembari fokus menyetir.


"Ya udah, tapi nanti bapak yang bayarin ya," pinta Aresha dengan senyum pepsodent.


"Iya iya, jangan kan bayarin makan, bayarin mas kawin aja aku siap," jawab Devan dengan senyum yang sulit diartikan.


"Ih bapak apaan sih," sungut Aresha, yang langsung memanyunkan bibirnya.


"Ngapain tuh bibirnya monyong-monyong, nanti jatuh loh," ledek Devan.


Aresha hanya meliriknya, lalu kembali fokus menatap ke luar jendela.


Setelah cukup lama dalam perjalanan, kini keduanya telah tiba di kantor, Devan segera keluar dari mobil dan bergegas melangkah menuju ke ruangannya, dan diikuti oleh Aresha.


Waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore, hampir semua pegawai sudah berhamburan untuk pulang, begitu juga dengan Aresha, kini ia tengah merapikan berkas-berkas yang berada di atas meja.


Setelah selesai Aresha bergegas keluar, dan ternyata sang bos sudah menunggunya di halaman kantor.


Aresha pun segera menghampiri nya.


"Buruan masuk," pinta Devan.


"Iya, sabar napa pak," jawab Aresha.


Setelah Aresha masuk ke dalam mobil, Devan segera menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang.


Dalam perjalanan, Aresha memilih untuk melihat pemandangan kota Jakarta dari balik jendela.


Gedung yang tinggi, serta bangunan lain yang sangat megah, dan kendaraan yang berlalu-lalang dari roda dua sampai roda empat.


Setelah hampir setengah jam perjalanan, mereka tiba disebuah restoran yang bergaya klasik, Devan sengaja mengajak ke restoran tersebut, karena ia sering makan di tempat itu.


"Ayo turun," ajak Devan.


Mereka pun segera turun, kini keduanya telah berada di dalam, mereka memilih tempat duduk lesehan, memang disediakan kursi juga, namun Aresha lebih senang jika duduk dengan lesehan.


Setelah itu Devan dan Aresha segera memesan makanan yang menjadi menu andalan restoran itu.


Selang beberapa menit, semua makanan sudah tersaji di atas meja, keduanya pun segera bersiap-siap untuk menyantap nya.


Namun Devan heran, dengan cara makan sekretarisnya itu, meski disediakan sendok dan garpu, tapi dia memilih untuk menggunakan tangannya.


"Sha kok nggak pake sendok," ujar Devan, saat melihat Aresha makan tidak memakai sendok.


"Lebih enak makan pake tangan pak," jawab Aresha, sembari mengunyah makanannya.


"Masa," ucap Devan tak percaya.


Aresha pun menghentikan aktivitasnya, lalu menatap tajam ke arah bosnya itu.


Tanpa diduga, tiba-tiba Aresha mengambil nasi dan potongan ayam yang ia colek kan ke sambal, lalu menyuapkan pada bosnya itu.


"Apa lagi makan dari tangan orang lain, itu lebih enak pak, a," ujar Aresha dengan menyodorkan tangannya yang berisi makanan tersebut.


Tanpa pikir panjang, Devan menerima suapan itu.


"Kamu benar, makan dari tangan orang lain lebih enak," ungkap Devan.


"Lagi dong," pinta Devan, seraya memajukan kepalanya dan membuka mulutnya.

__ADS_1


"Gak ah, bapak makan sendiri aja," tolak Aresha, namun Devan tetap kekeh dengan keinginannya itu.


"Udah playboy, manja lagi," cibir Aresha, sembari menyuapi Devan lagi.


Devan pun langsung menerima suapan itu, ia tidak peduli dengan cibiran yang Aresha berikan.


Devan begitu menikmati suapan demi suapan yang Aresha berikan, setelah selesai keduanya pun bergegas untuk pulang.


Devan segera mengantarkan Aresha pulang ke kos-kosannya.


Hari telah berganti, malam yang gelap kini telah berganti menjadi pagi yang cerah.


Pagi ini Aresha bangun lebih awal dari biasanya, kini ia tengah bersiap-siap untuk segera ke rumah bos playboy nya itu, iya siapa lagi kalau bukan Devan.


Jarak kos-kosan yang Aresha tempati dengan rumah Devan memang tidak terlalu jauh, hanya berjalan kaki saja sudah sampai, itu sebabnya jika Aresha sedikit terburu-buru, ia memilih untuk lari.


Aresha telah tiba di rumah mewah itu, meski mewah, namun Devan enggan untuk mencari asisten rumah tangga yang tinggal menetap di rumahnya, semua pekerja hanya datang pagi, dan setelah pekerjaan selesai mereka akan pulang.


"Pagi bi," sapa Aresha ramah, pada salah satu asisten rumah Devan.


"Pagi non Aresha, tumben datang lebih awal," jawabanya sembari tetap bekerja.


"Iya bi, kebetulan bangun cepet," balas Aresha.


"Oya bi, pak Devan mana, kok nggak kelihatan?" tanya Aresha, seraya mencari keberadaan bosnya itu.


"Tuan Devan belum bangun non, lebih baik non bangunin gih, udah siang," jawabnya, lalu menyarankan Aresha untuk membangunkannya.


"Apa bi, tapi saya nggak enak lah bi," tolak Aresha, yang merasa tidak enak, jika harus masuk ke dalam kamar bosnya itu.


"Nggak papa kok non, tadi bibi udah bangunin, tapi nggak bangun-bangun," jawabnya meyakinkan.


Setelah terdiam sedikit lama, akhirnya Aresha pun setuju untuk membangunkan bosnya itu.


Aresha bergegas menaiki anak tangga untu menuju ke kamar Devan.


Setelah Aresha tiba di depan kamar Devan, dengan sedikit ragu Aresha mengetuk pintunya, namun tak ada sahutan, akhirnya Aresha memaksa untuk membuka pintu tersebut, dan ternyata tidak dikunci.


"Lucu juga nih playboy kalau lagi tidur," ucap Aresha dalam hati.


"Pak, bangun udah siang, bapak," ucap Aresha sembari menggoyangkan tubuh Devan.


Devan hanya menggeliatkan tubuhnya saja, matanya masih setia terpejam, kemudian menarik selimutnya dan menenggelamkan wajahnya ke bantal.


"Aish nih orang, tidur kayak kebo," gerutu Aresha kesal.


Aresha pun terdiam, ia berfikir bagaimana caranya agar bosnya cepat bangun, sedangkan waktu sudah menunjukkan pukul 06.30.


Aresha kini bersiap-siap untuk berteriak di telinga bosnya itu, namun tiba-tiba matanya terbuka dan seketika Devan menarik tangan Aresha hingga terjatuh tepat di atasnya.


Deg, jantung Aresha berhenti berdetak, matanya membulat sempurna, entah mimpi apa semalam, sampai-sampai Aresha bernasib sial seperti ini.


"Pak lepasin, bapak apa-apaan sih, cari kesempatan aja," kesal Aresha dengan memanyunkan bibirnya.


"Kamu yang apa-apaan, begitu caranya bangunin orang," sahut Devan sedikit kesal.


"Habisnya, bapak dibangunin nggak bangun-bangun," balas Aresha, lalu bangkit dan berdiri.


Kemudian Devan pun bangkit dan duduk sembari memijit-mijit tengkuknya.


"Jam berapa sekarang?" tanya Devan.


"Udah jam setengah tujuh lewat pak," jawab Aresha.


"Apa, kok kamu nggak bangunin dari tadi sih," pekik Devan.


Dengan segera Devan bangkit dari tempat tidur dan langsung masuk ke dalam kamar mandi.

__ADS_1


"Aresha, tolong kamu siapkan baju kerjaku," teriak Devan dari dalam kamar mandi.


Tanpa menjawab, Aresha segera menyiapkan baju kerja Devan, dan ia letakkan di atas ranjang.


Belum sempat Aresha keluar dari kamar, tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka, lalu Devan pun keluar dengan hanya menggunakan handuk, Aresha yang tidak sengaja melihatnya seketika berteriak lalu menutup matanya dengan kedua telapak tangannya.


"Heh, ini bukan hutan, jadi nggak usah teriak-teriak," ujar Devan santai, sembari berjalan ke arah ranjang.


"Salah bapak sendiri, kenapa keluar nggak bilang-bilang," kesal Aresha, dengan masih menutup matanya.


"Udah dibuka, aku udah selesai kok pake bajunya," pinta Devan.


Perlahan Aresha pun membuka matanya, dan benar saja, Devan sudah selesai berpakaian.


Setelah itu, Aresha segera memakaikan dasi pada bosnya itu, dan lupa arlojinya.


"Kamu udah sarapan apa belum?" tanya Devan.


"Belum pak," jawab Aresha.


"Ya sudah, kita sarapan di kantor saja ya, kita sudah terlambat," ujar Devan, sembari memakai jasanya.


"Iya pak," jawab Aresha.


Setelah itu, keduanya bergegas pergi ke kantor.


Selama perjalanan, Aresha memilih untuk diam begitu juga dengan Devan, ia terus fokus menyetir.


Setelah hampir satu jam, akhirnya mereka tiba di pelataran kantor, Devan dan Aresha bergegas keluar, dan langsung melangkah masuk ke dalam.


"Aresha, nanti kamu ke ruangan saya ya, jangan lupa bawa berkas yang kemarin," pinta Devan, seraya berjalan menuju ke ruangannya.


"Iya pak," jawab Aresha.


Setelah tiba di depan ruangan, Devan segera masuk ke dalam, namun alangkah terkejutnya, saat melihat seorang wanita paruh baya, tengah duduk santai di sofa, siapa lagi kalau bukan ibu Erika, ibunda Devan.


"Mama," ucap Devan, seraya berjalan mendekati nya.


"Devan, dari mana saja kamu, jam segini baru datang," jawabanya lalu bangkit dari duduknya.


"Devan kesiangan ma, kenapa mama nggak langsung ke rumah saja si," balas Devan, lalu mencium punggung tangan ibunya.


"Mama sengaja langsung ke sini," ucapnya lalu duduk kembali.


Devan pun duduk di sebelah ibunya.


"Devan bagaimana, apa sudah nemu?" tanya Erika tanpa basa-basi.


"Nemu apa ma, namu harta Karun," jawab Devan yang pura-pura tidak tau.


"Mama serius tau, mama lagi nggak becanda," kesal Erika, lalu menjitak kepala Devan.


"Auh, sakit ma, tega banget sih, sama anak mama yang tampan ini," ringis Devan, yang langsung membanggakan diri.


"Tampan kok nggak laku-laku, jangan bilang kamu suka sama sesama jenis ya,"


ejek Erika, sembari menonyor kepala putranya itu.


"Enak aja, Devan masih normal ma, Devan suka sama cewek," bela Devan, yang tidak terima diejek seperti itu.


"Terus mana calon menantu mana, ingat ya, batas waktu yang mama kasih sudah habis," terang Erika.


"Bentar ma, sebentar lagi juga datang," jawab Devan.


Devan pun bangkit dari duduknya, berniat keluar, namun tiba-tiba Aresha datang, dengan segera Devan menarik tangan sekretarisnya itu dan diajaknya menghampiri ibu Erika.


Aresha yang tidak tau apa-apa hanya menurut saja.

__ADS_1


"Ma, kenalin dia calon istri Devan," ucap Devan memperkenalkan Aresha pada ibunya.


Erika seketika langsung bangkit dari duduknya, namun berbeda dengan Aresha, matanya melotot sempurna, jantungnya berasa loncat sampai ke liang lahat, Aresha berharap jika ini hanya mimpi saja, semoga Devan hanya bercanda.


__ADS_2