
Devan dan Aresha saling berpandangan, mata mereka membulat sempurna.
"Devan, apa yang kamu lakukan dengan perempuan itu," seru wanita tersebut, seraya menunjuk ke arah Aresha.
"Sela," desis Devan.
Aresha segera bangkit dan berdiri di samping Devan.
Iya wanita itu adalah Sela salah satu kekasih Devan, yang sudah hampir dua tahun pergi ke Amerika.
"Sela, kamu sudah kembali," ujar Devan sedikit tak percaya.
"Iya aku baru nyampe tadi pagi, terus apa yang kamu lakuin dengan perempuan itu, pake buka baju segala lagi, jangan-jangan kalian," ujar Sela yang menggantungkan ucapannya.
"Eh kamu jangan asal tuduh ya, tadi kemeja aku ketumpahan kopi, jadi sengaja aku buka dulu," jelas Devan.
Sementara itu, Aresha hanya terdiam, ia merasa terabaikan.
Di lain sisi, ada beberapa karyawan yang mengintip di depan pintu.
Mereka merasa heran dengan apa yang terjadi di ruangan bosnya itu.
Apa lagi saat melihat bosnya hanya mengenakan kaos, dalam hati mereka bertanya-tanya, apa yang telah terjadi antara bos dan sekretarisnya itu.
"Beneran kamu nggak ngapa-ngapain dengan perempuan ini," ucap Sela dengan melirik sinis ke arah Aresha.
"Beneran, aku nggak bohong," jawab Devan meyakinkan.
"Kamu mau ngapain kesini?" tanya Devan.
"Aku kangen sama kamu, oya mama sama papa pengen ketemu sama kamu," jelas Sela seraya melirik sinis ke arah Aresha.
Tak ingin berlama-lama melihat drama di depannya itu, Aresha pun berpamitan dan segera keluar dari ruangan bosnya itu.
Hatinya terasa sakit saat ada wanita lain yang datang dan terlihat mesra dengan Devan, meski mereka menikah bukan atas dasar cinta, tapi Aresha sebagai istri pasti tetap akan merasa sakit dan cemburu.
Jika suaminya bermesraan dengan wanita lain.
"Saya permisi dulu pak," ucap Aresha dan bergegas pergi meninggalkan sang bos.
"Aresha tunggu," cegah Devan, namun tak dihiraukan oleh Aresha.
Saat Devan hendak mengejar pun, Sela langsung menarik tangan Devan agar mengurungkan niatnya.
"Sayang, mau kemana sih, emang dia siapa sih, penting banget apa buat kamu," ujar Sela yang merasa kesal dengan sikap Devan.
"Di-dia sekretaris aku," sahut Devan gugup.
"Cuma sekretaris doang, kamu tuh harus hati-hati sama sekretaris kayak gitu, takutnya dia ngrayu kamu biar bisa dapetin harta kamu." Terang Sela yang membuat Devan kesal.
"Sela, dia tidak seperti itu, dia sudah bekerja di sini lebih dari 8 tahun, jadi aku tau betul siapa dia," tegas Devan yang merasa tidak terima jika Sela menghina Aresha.
__ADS_1
"Iya, maaf, maaf, ya sudah kamu jangan ngambek dong," pasrah Sela sembari mengelus-elus punggung Devan.
Sementara itu, saat Aresha keluar dari ruangan Devan, beberapa karyawan yang berada di depan pintu, seketika bubar dan menatap Aresha dengan tatapan yang mencurigakan.
Bahkan tak sedikit dari mereka yang terlihat seperti berbisik-bisik dengan menatap sinis ke arah Aresha.
"Ya Tuhan, mereka pasti telah melihat kejadian tadi, dan pasti mereka memikirkan yang tidak-tidak tentang aku, aku benar-benar sudah terjebak cintanya bos playboy itu, ini semua gara-gara pak Devan," gerutu Aresha dalam hati.
Merasa sedih Aresha justru berjalan menuju ke toilet, ia ingin membasuh wajahnya agar lebih tenang, namun saat Aresha hendak masuk ke toilet, tiba-tiba tangannya di seret oleh seorang wanita yang tak lain adalah Alexa.
Alexa membawa Aresha menuju ke belakang kantor tepatnya di depan gudang.
"Heh, lepasin tangan aku, kamu mau apa lagi sih," seru Aresha seraya memberontak.
"Lo bisa diem nggak, berisik tau," gertak Alexa.
Alexa terus menyeret tangan Aresha sampai akhirnya mereka tiba di sebuah gudang yang sudah tidak terawat lagi.
Alexa langsung mendorong tubuh Aresha hingga jatuh tersungkur.
"Auh," ringis Aresha.
"Alexa mau kamu apa sih, kenapa kamu gangguin aku terus, apa salah aku," ujar Aresha yang merasa geram dengan tingkah wanita itu.
Kemudian Alexa menjambak rambut panjang Aresha, sampai Aresha meringis kesakitan.
"Lo mau tau, apa kesalahan lo itu, lo udah ngrebut Devan dari gue, dan sebagai hukumannya, gue akan nyiksa lo, gue akan bikin hidup lo nggak tenang, gue akan bikin hidup lo penuh dengan penderitaan, ngerti!" Tutur Alexa dengan kemarahan yang sudah tidak dapat ia bendung lagi.
"Alexa, aku minta maaf, aku nggak pernah ada niatan untuk ngrebut pak Devan dari kamu, tapi," terang Aresha yang terpotong, lantaran Alexa mendorong tibuh Aresha sampai kepalanya terbentuk tembok.
Cairan merah mengalir di pelipis Aresha, pikiran yang sedang tidak tenang, membuat kepalanya terasa pusing dan pandangannya mulai buram, perlahan kelopak mata Aresha tertutup sempurna.
Waktu terasa begitu cepat, jam juga sudah menunjukkan pukul 6 sore, para karyawan sudah pulang ke rumah masing-masing, hanya ada Devan dan beberapa satpam yang tengah berjaga malam.
Devan tengah mondar-mandir sembari terus menghubungi handphone Aresha, namun sama sekali tak ada jawaban.
Devan memang belum sepenuhnya mencintai Aresha, tapi entah kenapa, jika tak ada kabar dari wanita itu, perasaan Devan menjadi kacau dan juga khawatir.
Apa mungkin itu yang di namakan cinta.
"Astaga, Aresha kamu di mana sih," gumam Devan yang sangat khawatir akan keadaan istrinya itu.
"Pak bagaimana, apa kalian menemukan Aresha?" tanya Devan pada due satpam yang baru saja menghampirinya.
"Kami sudah mengelilingi kantor ini pak, tapi kami tidak menemukan Bu Aresha," jelas satpam tersebut.
"Ya Tuhan, Aresha kamu di mana," ratap Devan yang merasa putus asa.
"Kalian sudah cek gudang yang berada di belakang kantor ini?" tanya Devan dengan tatapan tajam.
"Belum pak," jawab salah satu satpam tersebut.
"Sekarang juga kalian cek ke sana," pinta Devan yang di balas anggukan oleh kedua satpam itu.
__ADS_1
Di lain sisi, kelopak mata Aresha mulai terbuka secara perlahan.
Kepalanya masih terasa pusing, penglihatannya juga tidak jelas, terlebih suasana gudang gelap, hanya ada pantulan cahaya dari luar.
"Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan, siapa yang akan menolongku," gumam Aresha seraya memegangi kepalanya yang terasa pusing.
"Tolong, tolong, apakah ada orang di luar, tolong," teriak Aresha dengan suara yang gemetar.
Sementara itu, dua satpam kantor dan Devan sudah tiba di belakang kantor, mereka tengah berjalan menuju ke gudang tersebut.
Langkah pak Udin salah satu satpam tersebut tiba-tiba terhenti saat melihat kilatan cahaya di tanah.
Pak Udin pun menghentikan langkahnya dan mengambil benda tersebut.
"Ada apa pak?" tanya Devan heran.
"Ini pak, bapak tau ini punya siapa," ujar pak Udin, sembari menunjukkan benda tersebut.
Devan pun mengambil benda itu, sebuah gelang emas yang bertuliskan inisial A.
Devan berpikir sejenak, ia teringat jika dirinya pernah memberikan hadiah pada Aresha, saat ultah tahun lalu.
"Aresha, iya gelang ini punya Aresha," ucap Devan setelah mengingatnya.
Tiba-tiba terdengar suara minta tolong, namun suara itu sangat lirih dan hampir tak terdengar.
Dengan cepat Devan dan dua satpam itu mencari sumber suara tersebut.
"Pak sepertinya dari dalam gudang," ujar pak Udin.
"Iya pak sepertinya dari dalam gudang," timpal pak Eko.
"Ya sudah kita periksa ke sana," sahut Devan.
Mereka pun bergegas berjalan menuju ke gudang tersebut, pak Udin mencoba untuk membuka pintu gudang itu, namun sangat sulit.
Dan akhirnya pak Udin dan pak Eko mendobrak pintu itu.
Satu dobrakan yang kuat, pintu gudang berhasil terbuka.
Betapa terkejutnya Devan dan dua satpam itu, saat melihat tubuh Aresha tergeletak di lantai gudang itu.
"Aresha," pekik Devan, lalu berlari menghampirinya.
Di angkat tubuh lemas Aresha, perasaan khawatir dan takut masih menyelimuti hati Devan, namun ia bersyukur karena bisa menemukan Aresha.
"Pak Devan," lirih Aresha, lalu matanya terpejam.
"Aresha bangun, kamu nggak papa kan, Aresha," ujar Devan panik saat melihat mata Aresha terpejam.
Devan pun langsung merengkuh tubuh lemas Aresha dalam pelukannya.
Saat itu juga air mata Devan lolos tanpa terduga, baru kali ini Devan meneteskan air mata.
__ADS_1