Terjebak Cinta Bos Playboy

Terjebak Cinta Bos Playboy
Terjebak Cinta Bos Playboy_18


__ADS_3

Sebulan sudah Aresha dan Devan hidup bahagia bersama dengan putri mereka.


Kebahagiaan yang sempat tertunda, tapi kini mereka telah mendapatkan nya, sejak kembalinya Aresha dan hadirnya Venesha, hidup Devan lebih bermakna.


Devan juga lebih giat dan semangat dalam bekerja, secapek apapun dan selelah apapun, setiap kali pulang dari kantor, ia akan tersenyum saat melihat anak dan istrinya, rasa lelah akan hilang seketika.


Seperti malam ini, Devan memang sering pulang malam, tapi setibanya di rumah, ia akan menyempatkan diri untuk melihat putri kecilnya.


Rasa penat terasa hilang saat melihat istri tercintanya dan juga putri kecilnya.


"Devan, jangan digangguin dong, nanti Vanes bangun," bisik Aresha, saat melihat Devan menciumi pipi mungil Vanesha.


"Ya ampun, Sayang, aku kangen banget sama Vanes," ujar Devan, sedikit kesal.


"Udah-udah, sekarang kamu mandi, nanti aku siapin makanan," putus Aresha, lalu mendorong tubuh Devan agar menjauh.


"Iya, iya, bawel banget sih kamu," sahut Devan, lalu mencium pipi Aresha dan beranjak pergi.


Aresha hanya mendengus kesal, ia menatap tajam ke arah suaminya yang mulai menghilag di balik pintu.


Devan memang selalu seperti itu, rasa cinta dan perhatian terhadap anak dan istrinya semakin bertambah.


Kini Devan dan Aresha sudah berada di ruang makan, Aresha nampak menemani sang suami makan malam.


"Kamu lembur terus ya, pulangnya selalu malam," ujar Aresha.


"Iya, di kantor juga lagi ada masalah," jawab Devan.


Setelah selesai makan, Devan bergegas menuju ke kamarnya, sementara itu, Aresha membereskan meja makan lalu mencuci piring dan gelas yang kotor.


***


Keesokan harinya, seperti biasa, setelah selesai memakai kemeja kerjanya, Aresha selalu memasangkan dasi di lehernya.


"Sampai kapan sih, kamu seperti ini terus, pake dasi nggak bisa-bisa," gerutu Aresha, sembari memasangkan dasi tersebut.


"Ya mungkin sampai aku menutup mata," jawab Devan, yang membuat Aresha terdiam sejenak.


"Udah selesai," ujarnya lalu mengambil jas di atas ranjang.


Setelah Devan selesai dan pun bergegas turun ke bawah dan diikuti oleh Aresha.


Kini Devan dan Aresha sudah berada di ruang makan, keduanya tengah menikmati sarapan pagi, belum sempat Devan menyentuh makanan yang di hadapannya itu, tiba-tiba handphonenya berdering.


"Sebentar Sha, aku angkat telepon dulu," ujar Devan, lalu bangkit dari duduknya.


Via telepon.


"Halo, ada apa pagi-pagi kamu sudah nelfon?" ucap Devan.


"Maaf Pak, kalau saya mengganggu, tapi ini sangat penting Pak," jawabane dari sebrang sana.


"Iya penting apa, kalau ngomong yang bener, nggak usah bertele-tele," sahut Devan, sedikit kesal.


"Pabrik tekstil Bapak yang di Bandung mengalami kebakaran, dan semuanya habis Pak, tidak ada yang tersisa," jelasnya dengan nada bicara sedikit bergetar.


Devan sangat terkejut mendengar kabar itu, matanya terbelalak, rasa tak percaya akan yang baru saja ia dengan, persendiannya terasa lemas, Devan yang awalnya berdiri, kini terduduk lemas di sofa.


Aresha yang melihatnya, bergegas bangkit dan menghampiri suaminya itu.


"Devan, ada apa?" tanya Aresha panik.


Devan masih terdiam, perasaan dan pikirannya masih terombang-ambing.


"Apa ada korban jiwa," lanjut Devan, dengan suara yang lemas.


"Tidak Pak, karena kejadiannya semalam, tapi sampai sekarang api belum bisa di padamkan," terangnya kemudian.


Setelah itu, Devan langsung menutup sambungan teleponnya.


Dan detik itu juga, sebuah pesan video masuk, Devan pun segera membukanya.


Kali ini ia benar-benar percaya, bahwa pabriknya memang mengalami kebakaran.

__ADS_1


Tak terasa air matanya menetes, ia merasa sangat frustasi dengan apa yang tengah menimpanya.


"Devan, kamu kenapa, kamu nggak papa kan?" tanya Aresha, yang semakin panik.


Devan memperlihatkan video tersebut kepada Aresha, ia sama-sama terkejut dan syok dengan apa yang dia lihat.


"Devan, apa video ini nyata?" tanya Aresha meyakinkan.


Devan hanya mengangguk, lidahnya terasa kelu, hanya tetesan air mata yang mewakili perasaan nya saat ini.


Aresha kini duduk di samping Devan, ia memeluk suaminya dari samping, hanya itu yang dapat Aresha lakukan, memberi semangat untuk sang suami.


"Kamu yang sabar ya Van, ini adalah ujian buat kamu," ucap Aresha, sembari menepuk pelan punggung suaminya itu.


"Ujian," lirih Devan.


Devan menggeleng tak percaya, rasanya ini lebih dari ujian, ini adalah musibah yang tengah menimpanya.


Ia berharap kalau ini hanya mimpi, tapi semua itu adalah nyata, bukan mimpi.


"Kamu tau kan Sha, pabrik yang di Bandung itu pabrik terbesar dan pertama yang aku bangun, karyawan di sana lebih dari 2 ribu orang, mereka sudah bekerja bertahun-tahun, dan kamu pasti tau kan, berapa kerugian yang aku tanggung, tidak sedikit," terang Devan dengan nada bicara sedikit tinggi.


"Iya Van, aku tau, tapi kamu harus tenang, kamu harus tetap semangat, jangan pernah menyerah," tutur Aresha, yang mencoba menenangkan suaminya itu.


Setelah 20 menit, Devan mulai tenang, ia pun memutuskan untuk berangkat ke kantor.


"Aku pergi dulu ya," pamit Devan, lalu mencium kening sang istri dan tak lupa juga dengan putri kecilnya.


"Iya, hati-hati ya," sahut Aresha, lalu mencium punggung tangan suaminya itu.


"Sayang, ayah pergi dulu ya, kamu jangan nakal sama bunda," ucap Devan, seraya mengelus pipi halus Vanesha.


"Iya Ayah, Vanes nggak nakal kok," sahut Aresha dengan suara layaknya anak kecil.


Devan tersenyum mendengar tingkah istrinya itu, setelahnya ia beranjak pergi.


***


"Ayah, Ibu," ucap Aresha, saat melihat ayah dan ibunya berdiri di depan pintu.


"Mari masuk Bu, Yah," sambung Aresha.


Kedua orang tua Aresha pun masuk ke dalam, setelah itu mereka pun duduk di ruang tamu.


"Bagaimana kabar cucu ibu," ucapnya seraya membelai lembut wajah cucunya itu.


"Kabarnya baik Bu," jawab Aresha.


Ibunda Aresha pun mengambil alih Vanesha, ia menggendong cucunya itu.


Terlihat sangat bahagia melihat cucu pertamanya.


"Aresha, langsung saja ya, kedatangan kami ke sini untuk menjemput kamu dan juga anakmu itu," tutur ayah Aresha, yang membuatnya sangat terkejut.


"Mak-maksud Ayah, menjemput kami?" tanya Aresha terbata-bata.


"Iya, kami sudah tau semuanya, selama kamu hamil suamimu tidak mengurusi mu kan, kamu pergi, dia tidak mencari mu kan, justru dia enak-enakan dengan perempuan lain, tanpa memikirkan perasaan kamu," jelas ayah Aresha, yang membuatnya tercengang.


"Yang Ayah katakan memang benar, tapi sekarang kami sudah bahagia, kami sudah melupakan masalah itu, jadi tolong Ayah jangan ungkit lagi, kami sudah sangat bahagia, terlebih setelah Vanesha lahir, kebahagiaan kami sudah lengkap," terang Aresha.


"Sudah, ayah tidak mau mendengar apapun lagi, sekarang juga kamu harus ikut kami pulang, sudah cukup kamu menderita, suami kamu itu tidak becus mengurus istri," tegas ayah Aresha.


"Tapi Yah, Aresha tidak bisa pergi begitu saja, Aresha masih menjadi tanggung jawab Devan," pungkas Aresha.


"Bu, ayo cepat, kita harus segera pergi dari sini," panggil ayah Aresha.


Tak lama kemudian, ibunda Aresha turun sembari membawa barang-barang milik putrinya dan juga cucunya.


"Bu, Aresha mohon, jangan paksa Aresha untuk meninggalkan Devan," mohon Aresha kepada ibunya.


"Baik, kalau kamu tidak mau ikut kami pulang, ibu akan bawa Vanesha, tidak peduli kamu mau ikut atau nggak," seru ibu Aresha.


"Aresha mohon Bu, jangan pisahkan Aresha dengan Vanes, jangan pisahkan dia dengan ayahnya, Aresha mohon," ujar Aresha yang terus memohon, tapi kedua orang tua Aresha sama sekali tidak menghiraukan nya.

__ADS_1


"Kalau kamu tidak ingin berpisah dengan putrimu, sekarang ikut kami pulang, ayo," tegas ayah Aresha, lalu menarik paksa tangan putrinya itu.


"Ayah, Aresha mohon, jangan pisahkan kami dengan Devan," mohon Aresha dengan air mata yang mulai menetes.


Ayah Aresha sama sekali tidak menghiraukan permohonan putrinya itu, ia terus menarik tangan Aresha untuk keluar dari rumah mewah itu.


Aresha hanya bisa meneteskan air matanya, sementara itu, ibunda Aresha terlebih dahulu membawa Vanesha keluar dari rumah tersebut.


"Ya Tuhan, kasihan nyonya sama non Vanes," ucap asisten rumah tangga Devan.


"Aku harus telfon tuan," sambungnya.


Lalu segera menelepon majikannya itu, tapi sial, Devan sama sekali tidak mengangkat telepon dari rumahnya.


"Kok nggak diangkat, mungkin tuan sedang sibuk," ucapnya lalu menutup telepon nya.


***


Pukul 5 sore, Devan sampai di rumah, ia sengaja pulang lebih awal karena sudah sangat rindu dengan putri kecilnya itu.


Devan melangkah masuk, suasana sepi tidak seperti biasanya, tawa putrinya yang biasanya menyambutnya pun tak terdengar.


Heran, itu yang Devan rasakan.


"Bi, Aresha sana Vanes mana, kok sepi?" tanya Devan, pada bi Sumi asisten rumah tangganya.


"Itu tuan, tadi siang orang tua nyonya datang ke sini, terus membawa nyonya dan non Vanes pergi," jelas bi Sumi, seraya menundukkan kepalanya.


"Pergi kemana bi?" tanya Devan lagi.


"Ke rumahnya tuan, mereka membawa nyonya pulang ke rumahnya," terang bi Sumi.


"Apa," pekik Devan.


Tanpa pikir panjang, Devan langsung menyambar kunci mobilnya yang berada di atas meja, lalu bergegas naik ke mobil dan melaju dengan kecepatan tinggi agar cepat sampai ke rumah mertuanya itu.


Hanya butuh 40 menit Devan tiba di pelataran rumah yang cukup sederhana, bergegas Devan keluar dari mobil dan melangkahkan kakinya menuju teras rumah tersebut.


Setibanya di depan pintu, Devan mengetuk pintu rumah itu.


Selang beberapa menit, pintu rumah pun terbuka.


"Devan," lirik Aresha, saat melihat suaminya yang telah bertamu.


"Jadi benar, kamu ada di sini," ucap Devan.


"Aku minta maaf Van, aku nggak sempat bilang sama kamu, ayah sama ibu yang memaksaku," jelas Aresha, dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


Devan terdiam, tapi saat melihat istrinya meneteskan air matanya, Devan langsung menarik tubuh istrinya itu dalam pelukannya.


"Kamu tidak salah, mungkin ini karma buat aku, karena aku pernah menyakitimu, aku pernah menyia-nyiakan kamu," ucap Devan yang membuat Aresha bertambah sedih.


Tiba-tiba saja, saat ayah Aresha melihat putrinya di peluk oleh Devan, tanpa pikir panjang, dia menarik tubuh Aresha agar menjauh dari lelaki yang dia benci.


"Jangan pernah sentuh putriku lagi, kamu adalah suami yang tidak bertanggung jawab, lelaki brengsek seperti kamu tidak pantas memilikinya!" Bentak ayah Aresha.


Sebuah tamparan keras mendarat di pipi kanan Devan, emosi telah menguasai ayah Aresha, bukan satu tamparan saja yang Devan terima, bahkan pukulan demi pukulan ia dapatkan.


Devan memilih diam dan tidak melawan, ia tau, mertuanya berhak melakukan itu, dan itu pantas Devan dapatkan.


Setelah Devan jatuh tersungkur, Aresha langsung memeluk tubuh suaminya itu, air matanya semakin deras mengalir, ia tidak bisa melihat suaminya terluka seperti itu.


"Sudah cukup Yah, kasihan Devan," ucap Aresha, seraya memeluk sang suami.


"Kamu tidak perlu kasihan dengan lelaki seperti dia, sekarang ikut ayah masuk, ayo" tegas ayah Aresha, lalu dengan paksa menarik tangan putrinya itu.


"Ayah, Aresha mohon, jangan pisahkan kami," mohon Aresha.


Devan hanya bisa terdiam, tak terasa air matanya menetes, entah cobaan apa lagi yang tengah menimpanya.


Perlahan jemarinya terlepas dari genggaman erat sang istri.


__ADS_1


__ADS_2