
Devan sudah tiba di cafe di mana ia dan Alice janjian, tanpa menunggu waktu lama Alice pun datang dan langsung menghampiri Devan.
"Sayang kamu sudah lama nunggunya," ujar Alice sembari berjalan mendekati Devan.
"Belum, sekarang langsung saja apa yang akan kamu katakan," ujar Devan dingin.
"Aku pesen minum dulu ya," saran Alice namun Devan menolaknya.
"Aku nggak punya banyak waktu, sekarang katakan apa mau kamu," tegas Devan yang membuat Alice sedikit terperanjat.
"Ok, langsung saja, kamu masih ingat kan, saat aku datang ke rumahmu dengan membawa surat dari rumah sakit, aku ingin kamu segera bertanggung jawab atas apa yang sudah kamu lakukan," jelas Alice yang membuat Devan terkejut.
Devan terdiam, raut wajahnya terlihat sangat kecewa, ia mencoba menahan amarahnya.
Di usap wajahnya dengan kasar, masalah baru telah menghadangnya.
"Maaf Alice, aku tidak bisa menikahi mu, aku sudah mempunyai istri, aku tidak mungkin menduakan nya," tutur Devan yang membuat Alice sedikit terkejut.
"Aku tidak peduli Van, yang jelas kamu harus tanggung jawab, karena ini darah daging mu," ujar Alice yang penuh paksaan.
"Apa kamu lupa, kamu yang sudah membuat aku begini, dan kamu harus bertanggung jawab," sambung Alice.
"Alice, kamu kan tau, aku benar-benar tidak ingat kejadian itu, dan aku merasa kalau aku tidak pernah melakukan itu terhadap kamu," jelas Devan untuk meyakinkan.
"Kamu nggak ingat, karena malam itu kamu mabuk," sahut Alice yang tak mau kalah.
Flash back on
Malam itu, Devan benar-benar frustasi, orang tuanya mendesak untuk segera bertunangan dengan Alexa, namun ia menolaknya dengan alasan pekerjaannya tidak bisa ditinggal.
Namun bukan itu saja, hari itu juga Devan telah kehilangan wanita yang sangat ia cintai, yaitu Sela, dia pergi tanpa pamit, tanpa ada alasan yang pasti, dan itu membuat Devan sangat terpuruk.
Hingga jalan yang ia ambil adalah pergi ke diskotik berharap masalah yang tengah ia hadapi bisa selesai.
Devan benar-benar menghabiskan malam itu untuk mabuk, dan itu adalah baru pertama kali dalam hidupnya menyentuh minuman kharam itu.
Hingga menjelang pagi, Devan masih setia berada di tempat terkutuk itu, dan saat hendak pulang Devan bertemu dengan Alice yang merupakan sahabat dan juga kekasihnya.
Alice yang melihat Devan seperti itu tak tega, dan akhirnya Alice membawa Devan pulang ke apartemennya, karena tidak mungkin Alice membawa Devan pulang ke rumahnya dalam keadaan mabuk berat.
Setibanya di apartemen Alice langsung membaringkan tubuh Devan di atas ranjang.
Melihat baju yang Devan pakai basah karena minuman, Alice pun terpaksa membukanya dan membiarkan Devan tertidur bertelanjang dada.
Pukul 9 pagi Devan baru tersadar dari alam mimpinya, perlahan ia membuka matanya, kepalanya masih terasa sangat pusing dan itu efek dari minuman yang semalam.
__ADS_1
Diedarkan pandangannya, dan saat Devan menoleh ke arah kanan terlihat seorang gadis tengah terduduk dengan dibalut selimut yang tebal.
Matanya merah dan sembab seperti habis menangis, Devan terperanjat saat tau jika gadis itu adalah Alice, sontak itu membuat Devan terduduk dari tidurnya.
"Alice apa yang terjadi, kenapa aku ada disini," ujar Devan seraya memijat tengkuknya.
Alice pun mendongakkan kepalanya dan menatap tajam ke arah Devan.
"Apa kamu lupa kejadian semalam," ujar Alice dengan tatapan tajam.
Devan terus memegangi tengkuknya, kepalanya masih terasa pusing dan juga berat, Devan juga sama sekali tidak mengingat kejadian semalam.
"Alice tolong jelaskan, apa yang sebenarnya terjadi," ungkap Devan tegas.
"Kamu mau tau apa yang sebenarnya terjadi, kamu sudah merenggut kesucian aku, puas kamu!" Bentak Alice yang membuat Devan terkejut.
"Nggak, nggak mungkin, kamu pasti bohong kan, aku nggak mungkin nglakuin itu," ucap Devan tak percaya.
Pikiran Devan semakin kacau, ia semakin frustasi dengan kejadian yang sama sekali tidak diingatnya.
Devan menjambak rambutnya dan mengusap wajahnya dengan kasar.
Devan terus mengacak-acak rambutnya sembari sesekali menggelengkan kepalanya, rasa tak percaya dengan apa yang telah terjadi.
Setelah cukup lama Devan termenung, ia bangkit dan menyambar baju yang berada di lantai, lalu keluar dari apartemen Alice.
"Devan, ini belum seberapa, kamu akan merasakan yang lebih dari ini," ucap Alice dengan senyum liciknya.
Setibanya di rumah, Devan langsung masuk ke kamarnya, ia luapkan kemarahan nya, hampir semua barang yang berada di kamar ia lempar, dan beberapa ada yang pecah, Devan benar-benar frustasi dengan masalah yang tengah ia hadapi.
Flash back off
Dua bulan sudah kejadian itu terjadi, Devan pikir jika masalah itu telah selesai, tapi nyatanya harapannya tidak sesuai dengan kenyataan, Alice datang kembali membawa masalah yang sudah membuatnya frustasi.
"Alice tolong kasih aku waktu, aku belum siap untuk membicarakan masalah ini dengan istri aku," putus Devan kemudian.
"Baik jika itu maumu, tapi kamu harus ingat, kalau kamu berani lari dari tanggung jawab, aku nggak segan-segan untuk menceritakan ini pada istri, bahkan keluarga kamu," ancam Alice yang membuat Devan merasa terpojok.
"Iya, aku pasti akan bertanggung jawab," sahut Devan.
"Ya sudah aku pulang dulu ya, bye sayang," pamit Alice dan beranjak pergi dari cafe tersebut.
Sementara itu, Devan masih terdiam, berkali-kali ia meremas rambutnya, lalu mengusap wajahnya dengan kasar.
Waktu terasa begitu cepat, sekarang jam sudah menunjukkan pukul 3 dini hari, Aresha yang sedari malam menunggu kepulangan Devan, ia justru tertidur di sofa ruang tamu.
__ADS_1
Selang beberapa menit terdengar suara gedoran pintu, seketika Aresha terbangun.
"Aresha buka pintunya," teriak Devan sembari menggedor pintu rumahnya.
"Hah, itu kan suara Devan," ujar Aresha setelah mendengar teriakkan dari luar.
"Sayang, cepat buka pintunya," teriak Devan lagi.
"Iya, iya," sahut Aresha dari dalam.
Aresha bergegas menuju ke pintu utama, setelah itu Aresha segera membuka pintu tersebut, tiba-tiba saja badan kekar suaminya roboh, dengan cepat Aresha menopang tubuh suaminya itu.
Penampilan yang sudah berantakan, rambut acak-acakan, jas yang sudah terselampir di bahu, dasi yang sudah kendur, serta kemeja yang sudah tidak rapi, bahkan kancingnya juga sudah beberapa terlepas, dan yang paling membuat Aresha curiga adalah bau alkohol yang sangat menyengat.
Itu berarti Devan habis mabuk.
"Devan, kamu mabuk ya?" tanya Aresha.
Dengan susah payah, Devan berdiri lalu menangkup wajah Aresha dengan kedua telapak tangannya, ditatap dalam-dalam wajah wanita yang berdiri didepannya itu.
"Kamu cantik sekali malam ini, membangkitkan nafsuku," ujar Devan dengan senyum yang penuh nafsu.
Mendengar itu, Aresha langsung melepas tangan suaminya itu, setelah pintu di tutup dan di kunci, Aresha segera merangkul Devan masuk ke dalam kamar, Aresha sedikit kewalahan, tapi ia tetap membantu suaminya menuju ke kamar mereka, sesekali Devan mencium pucuk kepala Aresha, dan itu membuat ia sedikit risih.
Setibanya di kamar, Aresha langsung merebahkan tubuh Devan di atas ranjang, namun saat Aresha hendak membuka sepatu yang Devan pakai, tiba-tiba tangan Aresha di tarik dan seketika jatuh di atas tubuh Devan.
Mata Aresha langsung melotot sempurna, ia berusaha bangkit namun tenaga Devan terlalu kuat.
"Devan tolong lepas, kamu mau apa," ucap Aresha seraya melepaskan tangan suaminya itu.
Tiba-tiba saja, Devan membalikkan posisi, sekarang Aresha berada dibawah, tubuh Aresha bergetar saat melihat wajah Devan yang di penuhi oleh nafsu.
"Kamu sangat cantik, kamu adalah istriku, sudah sepantasnya kamu melayani suamimu ini," ujar Devan dengan senyum penuh nafsu.
"Jangan Dev, kamu harus ingat perjanjian kita, aku mohon tolong lepaskan aku," pinta Aresha yang terus memohon.
"Aku tidak pernah melakukan ini terhadap orang lain, dan aku hanya akan melakukan ini kepada kamu, istriku," ungkap Devan yang membuat Aresha semakin takut.
Devan semakin erat mencengkeram kedua tangan Aresha, pengaruh minuman membuat Devan tidak bisa mengontrol diri dan juga nafsunya.
Sementara itu, Aresha hanya bisa pasrah, percuma memberontak, tenaga Devan terlalu kuat untuk di lawan.
Dalam hitungan detik, Devan berhasil ******* bibir ranum milik istrinya itu, seketika air mata Aresha mengalir tanpa permisi, terlebih saat Devan mulai melakukan yang lebih dari itu.
Nafsu yang tidak dapat di kendalikan membuat Devan tidak memperpedulikan tangisan istrinya itu.
__ADS_1
( Sensor )