Terjebak Cinta Bos Playboy

Terjebak Cinta Bos Playboy
Terjebak Cinta Bos Playboy_11


__ADS_3

Mentari pagi telah menyeruak menembus dinding kaca yang tebal, kicauan burung saling bersahutan, dan gemerisik dedaunan yang tersapu angin pagi.


Tepat pukul 8 pagi Aresha membuka perlahan kelopak matanya, di regangkan otot-ototnya lalu ia edarkan pandangannya.


Badannya terasa remuk akibat permainan nya semalam.


Lagi-lagi air mata Aresha lolos saat mengingat kejadian semalam yang sama sekali belum ia harapkan.


Aresha merasa sedih, kecewa, dan juga hancur, meski ia tau jika suaminya sendiri yang telah merenggut mahkota kesuciannya, Aresha sama sekali belum siap.


Namun nasi telah menjadi bubur, semua sudah terjadi.


Devan yang mendengar isakan tangis istrinya itu, dengan terpaksa membuka perlahan kedua matanya, kepalanya masih terasa berat, ia pun menoleh ke samping kanan di lihatnya sang istri yang tengah terduduk sembari menekuk kakinya dan mengeratkan selimut yang menutupi tubuhnya.


Air matanya tidak berhenti mengalir, sorot matanya menunjukkan rasa marah dan juga kecewa.


Seketika Devan bangkit dan duduk, Aresha yang menyadari itu, seketika menatap tajam ke arah Devan.


"Aresha, kamu," ucap Devan yang terpotong oleh Aresha.


"Kamu jahat, aku kecewa sama kamu, mana janji yang sudah kita sepakati, kenapa kamu tega mengingkarinya, kamu jahat, jahat, aku benci," ujar Aresha lalu memukuli tubuh Devan dengan tangannya berkali-kali.


Melihat kemarahan istrinya, Devan langsung merengkuh tubuh ramping Aresha, namun ia memberontak, tapi apa daya tenaga Devan lebih kuat.


"Sayang aku minta maaf, aku nggak bermaksud buat kamu kecewa, aku melakukan ini diluar kesadaran ku, aku menyesal, tolong maafkan aku," ucap Devan penuh penyesalan.


"Kamu jahat Devan, kamu jahat, aku benci sama kamu, aku benci," teriak Aresha diiringi isak tangisnya.


Aresha terus menangis dengan mengucapkan kebenciannya terhadap Devan.


Tangannya pun tak henti-hentinya memukul dada bidang suaminya itu.


"Kamu berhak benci sama aku, kecewa dan marah dengan perbuatan aku, pukul aku sepuas hatimu, luapkan semua kemarahan mu itu, aku memang jahat, aku bukan laki-laki yang baik, aku bukan suami yang baik untukmu." Tutur Devan sembari mempererat pelukannya.


Hampir satu jam Aresha menangis, kini tangisannya mulai reda.


Perlahan Devan melepas pelukannya, lalu menghapus bekas air mata yang mengalir di pipi mulus sang istri.


Satu jam kemudian, Aresha dan Devan selesai membersihkan diri.


Sejak kejadian semalam Aresha lebih banyak diam, ia merasa masih kecewa dengan perlakuan Devan.


Kini Aresha tengah berdiri di dekat jendela kamarnya sembari memandang lurus ke luar.


Hari ini Devan sengaja tidak masuk kantor, ia khawatir jika Aresha akan berbuat yang tidak-tidak.

__ADS_1


Devan kini tengah sibuk dengan layar leptop nya, namun tiba-tiba handphonenya berdering.


Ia pun segera mengambil benda pipih itu lalu mengangkat nya.


[ Halo ]


[ Maaf aku sedang sibuk ]


[ Aku lagi kerja, besok saja ya ]


[ Ok, ok, aku ke sana sekarang ]


Panggilan telepon telah berakhir, Devan merasa bimbang, ia harus pergi, atau tetap di rumah, tapi jika Devan tidak pergi, pasti wanita itu akan datang ke rumah, dan itu akan membawa masalah.


Setelah lama berfikir, akhirnya Devan memutuskan untuk pergi, ia pun menutup leptop nya, dan beranjak dari duduknya.


"Aresha, aku pergi dulu ya sebentar," ujar Devan, namun Aresha sama sekali tidak menanggapi nya.


Devan tau, sejak kejadian semalam, Aresha terus diam, Devan pun berjalan dan menghampiri sang istri yang masih berdiri di dekat jendela.


"Sayang aku pergi dulu ya, nggak lama kok, kamu baik-baik di rumah," pamit Devan lalu mencium kening Aresha.


Setelah itu Devan pun melangkah keluar dari kamar, dan mulai menuruni anak tangga.


"Devan pasti mau nemuin pacar-pacarnya yang selusin itu, sampai kapan kamu seperti itu terus, apa kamu tidak bosan dengan semua itu," ucap Aresha bermonolog sendiri.


"Untuk apa aku mikirin dia, toh belum tentu juga dia mikirin aku," ucapnya lagi.


Devan kini telah tiba di apartemen Alice, ia pun segera masuk ke dalam.


"Alice ada apa, kenapa kamu maksa aku datang ke sini," ujar Devan setelah masuk ke dalam.


Alice pun berjalan mendekati Devan, lalu bergelayut manja di lengan kekar Devan.


"Kita jalan-jalan yuk, aku bosen di rumah terus," pinta Alice dengan manjanya.


"Apa, jadi kamu nyuruh aku cepet-cepet ke sini cuma mau minta jalan-jalan," pekik Devan sedikit kesal.


"Bukan aku yang minta loh, tapi yang di dalam," sahut Alice sembari mengelus perutnya yang masih rata.


Devan pun melirik sekejap, antar percaya dan tidak, karena setau Devan, ia tidak pernah melakukan hal sekejih itu terhadap Alice.


"Ya udah buruan, aku nggak bisa lama-lama," putus Devan dengan terpaksa.


"Ya udah ayok," ujar Alice penuh semangat.

__ADS_1


Alice pun langsung memeluk lengan kekar Devan, dan mulai berjalan keluar dari apartemen nya.


Mereka kini tengah menuju ke resto tempat biasa di mana dulu mereka sering makan.


Setibanya di sana, Alice langsung memesan makanan dan juga minuman.


Tak butuh waktu lama semua pesanan telah tersedia di atas meja.


"Sayang kita makan dulu ya," ajak Alice lalu menyuapi Devan dengan makanan yang Alice pesan.


"Kamu aja yang makan, aku udah kenyang," tolak Devan yang membuat Alice cemberut.


"Sayang ayo dong, dede bayinya yang minta loh," bujuk Alice dengan embel-embel jika bukan dirinya yang meminta, melainkan calon anaknya yang masih di perut.


Dengan sangat terpaksa, Devan menerima suapan dari Alice, dan itu membuat Alice tersenyum bahagia.


"Aresha, maafin aku, aku belum bisa jujur dengan masalah ini, aku takut kamu akan membenciku, aku terlalu sayang sama kamu, aku tidak mau membuat kamu kecewa dan terluka," batin Devan, dan saat ia menatap wajah Alice, tiba-tiba wajahnya berubah menjadi wajah Aresha, dan itu membuatnya semakin merasa bersalah.


Di lain sisi, Aresha tengah mondar-mandir di dapur, perutnya yang sejak pagi belum terisi makanan, kini tengah demo ingin diisi dengan nasi dan anak buahnya.


"Duh mana nggak ada makanan lagi, bahan makanan juga sudah habis," ujar Aresha sembari mengecek bahan makanan yang ia simpan.


"Mending aku ke resto aja ah, Devan pasti pulangnya kan malam, kalau nunggu dia entar GR lagi," ucap Aresha kemudian.


Setelah itu Aresha bergegas masuk ke kamar dan mengambil tas selempang nya tak lupa handphone yang ia taruh di atas ranjang.


Kini Aresha sedang berdiri menunggu taksi, selang beberapa menit, taksi yang ia pesan datang, Aresha buru-buru masuk ke dalam.


30 menit kemudian, Aresha tiba di resto, ia bergegas masuk ke dalam tanpa merasa curiga, ia pun segera mencari kursi yang kosong.


Setelah itu Aresha segera memesan makanan dan juga minuman.


Di lain sisi, dan di tempat yang sama, Devan dan Alice masih menikmati makan siang bersama, bahkan mereka terlihat sangat mesra, itu semua Devan lakukan dengan sangat terpaksa.


"Sayang, yang ini enak loh," ujar Alice sembari menunjuk makanan yang ada di piring.


"Ya udah nih," sahut Devan, lalu menyuapi Alice.


Sementara itu, Aresha yang tengah menunggu pesanan datang, ia tak sengaja mendengar suara yang cukup familiar baginya, dengan perasaan was-was, Aresha mencari sumber suara tersebut, dan saat ia menoleh ke arah kanan pojok, ia melihat Devan tengah makan bersama dengan wanita lain, bahkan terlihat sangat mesra.


Dunia terasa berhenti berputar, jantungnya pun terasa berhenti berdetak, matanya mulai berkaca-kaca, Aresha tidak menyangka, jika Devan bisa melakukan itu di belakangnya.


"Aku menyesal telah memberimu kepercayaan, aku menyesal telah menerima pernikahan ini, seorang playboy sampai kapanpun tidak akan pernah berubah, aku benar-benar sudah terjebak oleh cintamu," batin Aresha, dengan air mata yang mulai lolos membasahi kedua pipinya.


Merasa tidak tahan lagi, Aresha memutuskan untuk pergi dari resto tersebut, pelayan yang membawa makanan tersebut pun menjadi bingung, pesanan sudah datang tapi justru di tinggal pergi begitu saja.

__ADS_1


__ADS_2