
Di sebuah rumah yang sangat mewah dan juga megah, terlihat seorang pria tengah berdiri di depan cermin, tangannya tengah berkutat dengan kain panjang yang melingkar di lehernya.
Namun hampir setengah jam, pria itu belum bisa memasang kain tersebut, ia begitu nampak kesulitan, padahal itu adalah perkara mudah, tapi semenjak Aresha dijadikan sekretaris pribadinya, pekerjaan sepele seperti itu menjadi sangat sulit.
"Aarght, susah banget sih, perasaan dulu bisa," erangnya seraya melempar kain tersebut, lalu dengan segera pria itu mengambil handphonenya dan menghubungi seseorang.
[ Halo,cepat datang ke rumah sekarang, aku tunggu ]
Ucapnya lewat via telepon, lalu mematikan nya.
20 menit kemudian, seorang gadis lari tergesa-gesa dan tanpa mengetuk pintu, gadis itu masuk ke dalam rumah mewah tersebut.
"Lama banget sih," gerutu pria itu, yang tak lain adalah Devan.
"Astaga, aku udah ngos-ngosan kayak gini, masih mending mau datang, nggak menghargai banget jadi orang," gerutu gadis itu dalam hati, siapa lagi kalau bukan sekretaris pribadinya.
"Ada apa sih, pagi-pagi Bapak udah nyuruh saya lari maraton," ujar Aresha kesal. Nafasnya pun masih ngos-ngosan.
Dengan perlahan, Devan pun berjalan mendekati Aresha, lalu melempar kain panjang tersebut yang sedari tadi ia pegang, dan tepat ke arah Aresha.
"Pakein dong," pinta Devan tanpa basa-basi.
__ADS_1
Aresha hanya menghela nafas, lalu memutar bola matanya malas, di ambilnya kain panjang itu, lalu dengan segera melingkarkan di leher Devan.
"Sampai kapan sih, hidup Bapak tergantung sama orang lain terus, pake dasi aja nggak bisa," gerutu Aresha, tangannya sembari berkutat memasang dasi tersebut di leher bosnya.
Devan hanya tersenyum, ia terlalu fokus memandangi wajah cantik yang ada di depan matanya itu.
Tiba-tiba saja, suara cacing di perut Aresha berbunyi, dan itu membuat Devan menahan tawanya.
"Kamu belum sarapan?" tanya Devan. Dengan terus menahan tawanya.
"Gimana mau sarapan, masih pagi aja Bapak udah nyuruh saya ke sini," kesal Aresha.
"Ya udah sana masak, nanti kita sarapan bersama, aku juga belum sarapan," pinta Devan seraya berjalan lalu duduk di sofa.
"Tahun depan," jawab Devan.
Aresha pun bergegas menuju ke dapur, di lihatlah isi almari yang biasa untuk menyimpan bahan makanan, ada banyak jenis sayuran, daging dan lain sebagainya.
Sebelum Aresha memasak, ia melirik jam tangannya, dan waktu sudah menunjukkan pukul 06.15.
Akan sangat lama jika harus memasak sayuran, akhirnya ia putuskan untuk membuat nasi goreng, namun untuk bosnya itu, ia akan bertanya terlebih dahulu, Aresha takut jika selera bosnya, tidak sama dengannya.
__ADS_1
"Pak, Bapak mau sarapan pake apa," teriak Aresha dari dapur.
"Apa aja, terserah kamu, apa pun yang kamu masak, pasti akan aku makan," jawab Devan sembari fokus pada layar handphonenya.
Aresha yang mendengarnya, sedikit terkekeh.
Dengan segera ia menyiapkan bahan, serta bumbunya.
Setelah semuanya siap, dengan cekatan Aresha memulai
"Jadi kalau saya masak racun, bapak akan tetap memakannya," ledek Aresha.
"Tentu saja, asalkan makannya sama kamu," balas Devan, yang membuat Aresha tersenyum kikuk.
masih ada yang ingat dengan novel ini kan.
sekarang sudah jadi novel ya, jika ada yang berminat bisa menghubungi kontak di bawah ini.
Dibuku lebih menarik ya. Endingnya juga.
wa : 081233746051
__ADS_1