Terjebak Cinta Bos Playboy

Terjebak Cinta Bos Playboy
Terjebak Cinta Bos Playboy_7


__ADS_3

Acara telah selesai, kini Aresha sudah berada di rumah Devan.


Aresha nampak duduk di tepi ranjang, pikirannya masih kacau, ia takut kalau nanti Alexa akan berbuat yang tidak-tidak lagi terhadapnya.


Selang beberapa menit pintu kamar mandi terbuka, Devan pun melangkah keluar dengan hanya mengenakan handuk sebatas pinggang sembari mengusap-usap rambutnya yang masih basah dengan handuk kecil.


Aresha yang menyadari kehadiran sosok suaminya itu, segera mengalihkan pandangannya dan menutup mata.


"Kamu kenapa, kok tiba-tiba tutup mata gitu, emang lagi main petak umpet?" tanya Devan yang merasa aneh dengan istrinya itu.


"Ng-nggak, aku nggak papa kok, bapak pake baju dulu sana, mataku ini masih suci, jadi aku nggak mau lihat hal seperti itu," terang Aresha yang membuat Devan tertawa.


"Ce ileh, ngakunya suci, emang lupa waktu itu ya," goda Devan sembari mendekati Aresha.


"Itu kan nggak sengaja, udah buruan sana pake baju," elak Aresha.


"Iya-iya, bawel banget sih kamu," pasrah Devan, dan bergegas berjalan menuju ruang ganti.


Kini Devan telah selesai memakai baju, ia pun berjalan mendekati istrinya itu lalu merebahkan tubuhnya di atas ranjang.


"Kamu nggak mau tidur, udah malam tau, atau kamu mau," ujar Devan yang menggantungkan ucapannya.


"Mau apa, bapak jangan ngeres ya, ingat perjanjian kita," seru Aresha yang membuat Devan terkekeh.


"Iya,iya, ya udah tidur sini," ujar Devan seraya menepuk sebelahnya yang kosong.


"Apa, jadi kita tidur seranjang," pekik Aresha yang merasa kaget.


"Ya iya lah, emang kamu mau tidur di lantai," ujar Devan yang membuat Aresha kesal.


"Enak aja tidur di lantai, bapak aja sono, aku ogah ya," tolak Aresha mentah-mentah.


"Ya udah buruan tidur sini, besok kita harus berangkat kerja," sahut Devan sembari menyelimuti tubuhnya.


"Apa, jadi besok kita sudah mulai kerja lagi," ujar Aresha kaget.


"Iya," jawab Devan singkat.


"Bukannya masih libur pak," ucap Aresha pelan.


"Kita cuma libur dua hari, jika mau libur panjang, nanti kalau kita mau honeymoon," jelas Devan dengan sedikit menggoda Aresha.


"Ih enak aja honeymoon," ketus Aresha.


Setelah cukup lama terdiam, Aresha pun terpaksa naik ke atas ranjang, dilihatnya sang suami sudah terlelap.


Dengan perlahan Aresha merebahkan tubuhnya di samping Devan, dan pastinya membelakanginya, ia merasa takut jika menghadap ke arahnya.


Lima menit.


Sepuluh menit.


Lima belas menit.


Hingga dua puluh menit Aresha baru memejamkan matanya.


Malam yang gelap telah berlalu, mentari pagi telah menyapa dengan sinarnya yang terang.


Namun dua insan ini masih saja terlelap dalam mimpi indah mereka masing-masing, sampai sinar mentari masuk lewat celah-celah jendela, dan itu membuat Aresha terganggu.


Dengan perlahan Aresha pun membuka kelopak matanya, di regangkan otot-ototnya.


"Jam berapa sih," ujar Aresha lalu mengambil handphonenya yang terletak di atas nakas.


"Hah baru jam 6, aku harus buru-buru mandi sebelum pak bos bangun," ujarnya lalu beranjak bangkit dari tempat tidur.


20 menit kemudian Aresha pun keluar, dan dengan segera ia memakai baju, setelah itu Aresha bergegas membangunkan suaminya itu.

__ADS_1


"Pak bangun udah siang," ucap Aresha sembari mengguncangkan tubuh suaminya itu.


"Hem, bentar lagi ya, 5 menit lagi," jawab Devan dengan suara serak bangun tidurnya.


Devan pun menarik selimutnya dan menutup seluruh tubuhnya.


Aresha hanya menggelengkan kepalanya, lalu dengan segera ia menarik paksa selimut yang menutupi tubuh suaminya itu.


"Bangun pak udah siang, jangan malas-malasan," seru Aresha yang membuat Devan tersentak.


Dengan cepat Devan pun bangun dan duduk lalu menatap wanita yang tengah berdiri di depannya sembari berdecak pinggang.


Sudah seperti seorang ibu yang tengah membangunkan anaknya yang pemalas.


"Iya, iya, bawel banget sih kamu, udah kayak ibu tiri aja," kesal Devan dan beranjak masuk ke dalam kamar mandi.


Setelah Devan masuk ke dalam kamar mandi, Aresha bergegas menyiapkan pakaian kerja suaminya itu, setelah itu ia segera turun untuk menyiapkan sarapan pagi.


"Duh masak apa ya," ucap Aresha setelah tiba di dapur.


20 menit kemudian, Devan pun turun, melihat sang istri tengah berada di dapur, ia pun melangkah menghampirinya.


Lalu melingkarkan tangan kekarnya di perut istrinya itu, seketika Aresha pun terkejut dengan perlakuan suaminya itu.


"Masak apa sayang," ucap Devan seraya meletakkan dagunya di bahu Aresha.


"Ma-masak nasi goreng pak, bapak minggir dulu deh, nanti nggak selesai-selesai," ujar Aresha sembari melepas pelukan suaminya itu.


"Iya, iya, aku tunggu di meja makan ya," sahut Devan lalu berjalan menuju meja makan.


Selang 10 menit sarapan telah siap, mereka pun segera menyantap sarapan yang telah tersaji di atas meja makan.


Setelah selesai Aresha segera membereskan meja makan, karena sudah siang, ia biarkan piring kotor itu di dapur.


"Sayang," panggil Devan.


Devan pun menyodorkan dasi yang sedari tadi ia pegang, dengan segera, Aresha memakaikan dasi tersebut, setelah selesai mereka pun bergegas berangkat ke kantor.


Tepat pukul 07.30 mereka sudah berada di kantor, Devan nampak sibuk dengan tumpukan berkas yang harus ia tanda tangani.


Begitu juga dengan Aresha, ia juga terlihat sibuk, terlebih dua hari tidak masuk kerja, sekali masuk banyak pekerjaan yang telah menantinya.


"Huh ini semua gara-gara pak Devan, aku jadi libur dua hari, kerjaan jadi numpuk kayak gini," gerutu Aresha sembari berkutat dengan pekerjaannya.


"Kamu udah berangkat Sha, kirain masih libur," ucap Sarah teman kerja Aresha.


"Eh, iya, kamu dari mana," sahut Aresha.


"Dari toilet, pak Devan juga habis libur, kok bisa barengan gitu ya," ujar Sarah yang membuat Aresha mati gaya.


"Ah, mungkin hanya kebetulan saja," jawab Aresha beralasan.


Sarah hanya mengangguk, lalu kembali ke pekerjaannya.


Begitu juga dengan Aresha, meski terlihat gugup namun ia harus bersikap normal.


Belum sempat Aresha menyelesaikan pekerjaannya, tiba-tiba sang bos berteriak memanggilnya.


"Aresha," teriak Devan.


"Tuh pak bos manggil kamu," ucap Sarah yang mendengar teriakkan bosnya itu.


Aresha hanya mendengus kesal, lalu dengan segera ia bangkit dari duduknya dan langsung menuju ke ruangan pak bos.


"Ada apa pak, apa bapak perlu sesuatu?" tanya Aresha.


"Tolong bikinkan aku kopi ya, mataku sangat mengantuk," jelas Devan.

__ADS_1


"Ya udah, sebentar ya pak," sahut Aresha, dan beranjak pergi dari ruangan bosnya itu.


Selang beberapa menit Aresha kembali dengan membawa nampan yang berisi secangkir kopi pesanan pak bos.


Ia pun berjalan mendekati Devan yang tengah duduk di sofa, namun sial tiba-tiba kaki Aresha keseleo dan byuuurrr.


Aresha jatuh lalu kopi yang ia bawa tumpah dan menyiram kemeja yang Devan pakai.


"Astaga Aresha," ujar Devan lalu bangkit dari duduknya sembari mengibas-ngibaskan kemeja yang ia pakai dengan tangannya.


"Ops, maaf, maaf pak saya nggak sengaja," sesal Aresha cengengesan.


Dengan segera Aresha mengambil tisu yang terletak di atas meja, lalu mengelap kemeja Devan dengan tisu tersebut.


"Perasaan kamu udah sarapan, masa jalan sampai jatuh gitu," sindir Devan dengan senyum yang sulit diartikan.


"Ih apaan sih, aku kan nggak sengaja, tadi keseleo jadi jatuh," elak Aresha yang tidak terima dengan sindiran bosnya itu.


Devan hanya terkekeh melihat wajah Aresha yang terlihat kesal.


Setelah itu, Devan melepas kancing kemejanya satu persatu, dan itu membuat Aresha bergidik ngeri.


"Bapak mau ngapain, pake buka baju segala, awas ya pak, kalau macam-macam," ujar Aresha seraya berjalan mundur.


"Emang siapa yang mau macam-macam, nih kamu bersihin gih, untung aja kaosnya nggak ikut basah," terang Devan, setelah melepas kemejanya, lalu ia lempar ke arah Aresha berdiri.


"Huh, nyusahin banget sih," degus Aresha.


Devan kembali duduk lalu mengecek ponselnya.


Sementara itu, Aresha masuk ke kamar mandi untuk membersihkan noda yang terdapat di kemeja Devan.


Setelah 10 menit berlalu, Aresha pun keluar dari kamar mandi.


"Gimana bersih nggak?" tanya Devan lalu bangkit dari duduknya.


"Bersih dong pak, tapi masih basah," jawab Aresha.


"Ya sudah kamu gantung dulu biar cepat kering," ujar Devan kemudian.


Aresha pun segera menggantung kemeja tersebut.


Setelah itu ia ingin kembali ke meja kerjanya, namun terlebih dahulu Aresha mengambil cangkir dan nampan yang tadi ia bawa.


"Mau bikin kopi ulang nggak pak," ujar Aresha sembari mengambil cangkir dan nampan tersebut.


"Nggak usah, udah nggak ngantuk," jawab Devan.


"Syukur deh kalau gitu," sahut Aresha.


Saat Aresha hendak beranjak dari ruangan Devan, tak sengaja ia melihat noda bekas kopi di leher bosnya itu.


"Maaf pak, itu," ujar Aresha menunjuk ke arah leher Devan.


"Hah, apa," sahut Devan yang terlihat bingung.


Tiba-tiba saja Aresha mengambil tisu, lalu mendekat ke Devan, setelah itu Aresha mendongakkan wajah Devan dan membersihkan noda kopi yang menempel di leher.


"Ternyata kamu perhatian banget yah," batin Devan.


"Ngapain bapak senyum-senyum gitu, bapak belum minum obat ya," ujar Aresha yang merasa aneh dengan bosnya itu.


"Emang kamu pikir aku gila apa," ketus Devan.


Tiba-tiba saja pintu ruangan Devan terbuka,dan tanpa permisi seorang wanita masuk dan seketika menjerit melihat posisi Devan dan Aresha begitu dekat.


Sontak keduanya menoleh ke sumber suara tersebut.

__ADS_1


__ADS_2