
Belum sempat Kevin menjawab, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu, bergegas Kevin membuka pintu apartemennya, Kevin tercengang ketika melihat seorang wanita tengah berdiri di depan pintu.
"Raisa," ucap Kevin.
Iya, wanita itu adalah Raisa, dia kekasih Kevin yang berasal dari Singapura, mereka bertemu saat Kevin bertugas di sana.
Mereka telah setahun lebih menjalin hubungan, dan kedatangan Raisa ke Indonesia ingin membicarakan hubungannya dengan Kevin.
"Halo Sayang, aku boleh masuk kan," sapa Raisa, dengan senyum.
Kevin terlihat gugup, lantaran Raisa belum tau perihal Aresha yang tinggal di apartemennya.
"E, a, e," ucap Kevin yang tak jelas.
Merasa penasaran, tiba-tiba saja Aresha muncul.
"Kevin, siapa yang datang?" tanya Aresha, sembari berjalan menghampiri Kevin.
Kevin terkejut saat mendengar suara Aresha, sementara itu, mata Raisa membulat sempurna tatkala melihat seorang wanita yang tengah hamil besar keluar dari apartemen kekasihnya.
Seketika amarah Raisa memuncak, tanpa pikir panjang, Raisa langsung masuk dan mempertanyakan tentang wanita yang berada di apartemen Kevin.
"Heh, siapa kamu, kenapa kamu berada di apartemen Kevin, atau jangan-jangan kamu selingkuhan Kevin, ayo jawab!" Bentak Raisa sembari mendorong tubuh Aresha.
"Sayang, kamu tenang dulu, kamu jangan salah paham seperti ini, aku bisa jelasin ini semua," ujar Kevin. Lalu menarik tangan Raisa, agar tidak menyakiti Aresha.
"Jelasin apa, kamu tega ya, kamu bilang balik ke Indonesia untuk bekerja, tapi ini kerjaan kamu iya, selingkuh dan sampai hamilin perempuan lain," ujar Raisa dengan nada tinggi.
"Sayang, ini tidak seperti yang kamu kira, aku bisa jelasin ini semua," jawab Kevin, yang mencoba menenangkan sang kekasih.
Tanpa di duga, Raisa menarik tangan Aresha dan mendorongnya keluar dari apartemen.
"Saya minta maaf mba, tapi mba jangan salah paham dulu," ucap Aresha. Ia mencoba untuk membela diri.
"Aku nggak butuh maaf kamu, sekarang juga pergi dari sini," seru Raisa dengan tatapan tajam.
"Raisa, kamu tidak kasihan, dia sedang hamil," sela Kevin yang merasa kasihan dengan Aresha.
"Untuk apa kasihan dengan perempuan murahan seperti dia, dasar perempuan jal*ng, tidak tau diri," umpat Raisa dengan emosi yang meledak-ledak.
"Raisa aku mohon, kamu tenang dulu," ucap Kevin.
"Sekarang kamu pergi dari sini, pergi!" Bentak Raisa.
Dengan air mata yang sudah membasahi kedua pipinya, dengan sudah payah Aresha bangkit dan berjalan keluar dari apartemen.
Kevin hanya bisa melihat, sebenarnya ia ingin sekali mencegah, tapi ia tau ini akan menjadi masalah semakin rumit.
"Maafin aku Sha, aku tidak bisa menolongmu, aku tidak mau masalah ini semakin rumit, tapi aku janji, setelah Raisa tenang dan mau mendengarkan penjelasan dariku, aku akan mencari mu lagi," batin Kevin. Ia menatap punggung Aresha yang mulai tak terlihat.
Sementara itu, Aresha terus berjalan menyusuri jalanan, sekarang hidupnya sudah benar-benar hancur, orang yang dia cintai entah kemana tidak ada kabarnya.
Rasa kecewa, sakit hati, sedih, marah, semua telah menyatu, kesalahan apa yang telah di perbuat, kenapa cobaan hidup terus saja mengujinya.
__ADS_1
Aresha terus berjalan tanpa ada arah dan tujuan, perut yang sudah membesar membuatnya sedikit sudah untuk melangkah.
"Maafin ibu nak, sekarang kamu harus mendera seperti ini, andai saja ayahmu tidak melakukan kesalahan yang fatal, pasti ini semua tidak akan pernah terjadi," batin Aresha sembari memegangi perutnya. Air matanya terus mengalir.
***
Di lain sisi, Devan nampaknya keluar dari kantor, seperti biasa setiap ada waktu luang, Devan selalu menyempatkan diri untuk mencari keberadaan sang istri.
Meski sudah berbulan-bulan tidak ada hasilnya, tapi ia yakin, kalau suatu saat nanti mereka akan bertemu kembali, walaupun itu sangat tidak mungkin, tapi Devan selalu berharap bisa bertemu dengan Aresha.
Devan sudah mengelilingi setiap tempat yang sering Aresha kunjungi, tapi hasilnya tetap sama.
Kini ia putuskan untuk berhenti di sebuah taman, tempat dirinya serta sang istri sering menghabiskan waktu bersama.
Taman itu penuh dengan kenangan yang mungkin tidak akan pernah Devan lupakan.
"Sayang, kamu tau nggak, ini adalah tempat favorit kita, di mana kamu akan merengek minta ke sini, jika sehari saja kita tidak pergi ke tempat ini, banyak kenangan kita di sini, tawamu yang lepas saat berada di taman ini, rasa bahagia yang terpancar dari wajahmu membuat aku tidak bisa melupakannya." Ratap Devan. Tak terasa air matanya jatuh, saat mengingat kenangannya bersama sang istri.
***
Sementara itu, Aresha yang sedari tadi berjalan, langkahnya mulai lunglai, rasa capek dan letih ia rasakan.
Kini ia memutuskan untuk berhenti dan duduk di bangku panjang yang terletak di pinggir jalan, di mana tempat Aresha duduk, tepat di sebelah taman yang kini Devan juga masih berada di sana.
Tumbuhan bunga yang menjulang tinggi, serta pohon rindang yang menjadi pembatas taman itu.
Aresha kini tengah duduk, sembari mengatur nafasnya yang terengah-engah, kakinya juga sudah sangat pegal.
"Ya Tuhan, apa salah aku, kenapa aku harus mendapat cobaan seperti ini," keluh Aresha.
Setelah cukup lama duduk, tiba-tiba perut Aresha terasa sakit, ia pun memegangi perutnya, namun rasa sakit itu semakin hebat, terkadang hilang, tapi tanpa hitungan menit, rasa sakitnya datang kembali.
Aresha hanya bisa merintih menahan rasa sakit.
"Ya Tuhan sakit banget perut aku, aauuh, sakit," ringis Aresha menahan rasa sakit.
Aresha sudah tidak bisa menahan rasa sakitnya, yang awalnya Aresha duduk di bangku, kini ia sudah duduk di bawah, rasa sakit yang ia rasakan semakin menjadi.
Keringat pun sudah bercucuran membasahi tubuhnya.
"Auuhhh, sakit, aaa," ringis nya sembari memegangi perutnya.
Setelah hampir setengah jam Aresha merintih menahan sakit, tiba-tiba ada seorang ibu-ibu yang melihatnya, merasa kasihan ibu itu berlari menghampiri Aresha.
"Astaga, nak kamu kenapa?" tanya ibu itu khawatir.
"Sakit, aauuh, sakit banget," rintih Aresha.
"Ya Tuhan, apa kamu akan melahirkan," ucap itu panik.
"Astaga, air ketuban mu sudah pecah nak," sambung ibu itu semakin panik.
Aresha hanya bisa menangis merasakan sakit yang luar biasa.
__ADS_1
Sementara itu, ibu yang bersamanya, mencoba mencari pertolongan, namun karena suasana jalan yang cukup sepi, membuat dia sulit mencari bantuan.
Setelah hampir 30 menit, ada beberapa orang yang datang, namun lantaran mereka tidak mengenalnya, mereka hanya datang mengerumuni tanpa memberikan pertolongan.
***
Di lain sisi, di mana Devan masih duduk di taman, tiba-tiba sekilas Devan melihat orang yang berkerumun di sebelah taman tersebut, timbul rasa penasaran, ia pun berjalan mendekat, dan sesekali Devan mendengar rintihan yang suaranya tidak asing baginya.
Namun saat Devan ingin menghampirinya, tiba-tiba handphonenya berdering, terpaksa ia pun menjauh untuk menerima telepon tersebut.
[ Halo, ada apa ]
[ Apa tidak bisa di tunda ]
[ Ya sudah, aku segera ke sana ]
Setelah Devan menutup sambungan teleponnya, ia pun bergegas menuju ke mobilnya, dan kembali ke kantor.
Rasa penasaran yang ia rasakan semakin kuat, tapi karena ada urusan, Devan pun terpaksa harus kembali ke kantor.
***
Sementara itu, di lain sisi, Kevin nampak telah selesai memberikan Raisa penjelasan, kini dia mengerti apa yang sebenarnya terjadi, ada guratan penyesalan yang Raisa rasakan.
Seharusnya sebelum dia bertindak, dia harus mendengarkan penjelasan dulu, jangan asal mengambil keputusan.
"Vin, aku minta maaf ya, aku nyesel udah salah paham sama kamu, aku cuma nggak mau kehilangan kamu," sesal Raisa. Dia pun memeluk erat tubuh kekasihnya itu.
"Ita Sa, aku juga minta maaf, seharusnya aku jujur dari awal, aku sangat mencintaimu jadi tidak mungkin aku hianati kamu," tutur Kevin, yang membuat Raisa sedikit tenang.
"Vin, kita harus cari Aresha sekarang, aku takut terjadi apa-apa sama dia," usul Raisa pada sang kekasih.
"Iya kamu benar, ya udah yuk," jawab Kevin.
Mereka pun bergegas keluar dari apartemen tersebut, sekarang itu keduanya sudah berada di dalam mobil.
Mata Raisa tak ada hentinya melihat ke kanan dan juga kiri jalan, berharap mereka bisa menemukan Aresha dengan cepat.
Setelah hampir satu jam mencari, kini mereka melewati jalan di mana Aresha berada, Raisa yang melihat kerumunan orang di tepi jalan itu, merasa penasaran, akhirnya ia meminta Kevin untuk menepikan mobilnya.
Setelah mobilnya berhenti, Raisa bergegas keluar dari mobil dan diikuti oleh Kevin.
"Permisi mas, ini ada apa ya?" tanya Raisa pada seseorang yang berada di tempat itu.
"Itu mba, ada orang yang mau melahirkan, tapi kita tidak tau dia siapa," jawab orang tersebut.
Mendengar itu, Kevin buru-buru menerobos orang-orang itu, matanya terbelalak saat melihat orang yang mereka maksud adalah Aresha.
Seketika Kevin jongkok lalu tanpa pikir panjang, ia membopong tubuh Aresha untuk segera di bawa ke RS.
"Raisa buka pintunya," pinta Kevin pada Raisa.
Dengan cepat Raisa membuka pintu mobilnya, lalu dengan hati-hati Kevin mendudukkan tubuh lemah Aresha di jok belakang, Raisa pun ikut masuk dan duduk di sampingnya.
__ADS_1
Sementara itu, Kevin bergegas melajukan mobilnya menuju ke RS.