Terjebak Cinta Bos Playboy

Terjebak Cinta Bos Playboy
Terjebak Cinta Bos Playboy_15


__ADS_3

"Alice, sekarang kamu ikut aku ke Jerman, aku akan bertanggung jawab atas apa yang sudah aku perbuat, aku akan menikahi mu," ujar seseorang yang berada di dalam sana.


"Nggak, aku nggak mau Erik, aku sudah menemukan seseorang yang akan bertanggung jawab, dan akan menikahi ku," tegas Alice, dengan menatap tajam ke arah Erik.


Iya, pria itu adalah Erik, yang tak lain adalah kekasih Alice, dan Erik juga yang telah menghamili Alice, namun dengan licik, Alice melempar tanggung jawab itu kepada Devan.


Erik sudah sering membujuk Alice agar tidak melakukan itu terhadap Devan, tapi ia sama sekali tidak menghiraukan peringatan dari kekasihnya itu.


"Sudahlah Rik, sekarang kamu pulang aja sana, aku capek mau istirahat," ujar Alice, lalu mengusir Erik agar pergi dari apartemennya.


"Nggak, aku akan pergi, kalau kamu juga ikut pergi denganku," gertak Erik.


Alice hanya berdecak kesal, melihat sikap Erik yang seperti itu.


Di luar Devan telah mendengar semua percakapan antara Alice dan seorang yang bernama Erik.


Ia tidak menyangka kalau Alice telah membohongi nya, bukan itu saja, Alice juga yang membuat pernikahannya dengan Aresha berada di ujung tanduk.


Dadanya bergemuruh menahan emosi, nafasnya naik turun menahan sesak.


Dan saat itu juga, Devan memilih pergi dan kembali fokus untuk mencari istrinya.


"Kamu benar-benar perempuan jal*ng Alice, aku tidak menyangka kalau kamu tega melakukan ini, kamu sudah membuat hubungan aku dengan Aresha berantakan," umpat Devan sembari sesekali memukul stir mobilnya.


Sementara itu, Erik terus membujuk Alice agar mau ikut dengannya, namun Alice tetap bersikukuh dan akan menuntut Devan agar cepat menikahinya.


***


Di sisi lain, Aresha nampak sedang bersih-bersih di apartemen milik Kevin, meski tengah hamil, bagi Aresha tidak ada alasan untuk bermalas-malasan.


Kevin yang baru saja pulang mencari makanan, sedikit kaget dan tak enak saat melihat Aresha tengah sibuk beres-beres, Kevin pun berjalan ke arah dapur.


"Ya ampun Sha, kamu enggak perlu repot-repot seperti itu, aku bisa kok beresin sendiri," ujar Kevin seraya meletakkan makanan yang baru ia beli.


"Nggak papa kok Vin, lagi pula aku enggak enak, kalau cuma duduk doang," sahut Aresha.


"Ya sudah, aku siapin makan malam dulu ya, nanti setelah ini kita makan," pungkas Kevin. Lalu bergegas mengambil piring dan keperluan lainnya.

__ADS_1


Malam semakin larut, Aresha sudah berbaring di atas ranjang, matanya memandang langit-langit kamar yang ia tempati, mencoba memejamkan matanya, namun sangat sulit, jujur Aresha sudah sangat mengantuk, tapi ia kesulitan untuk tidur.


"Ya Tuhan, kenapa aku nggak bisa tidur sih, padahal aku udah ngntuk banget," ujar Aresha dengan wajah sendunya.


***


Begitu juga dengan Devan, perasaannya benar-benar hancur, tak pernah ia bayangkan jika kisah cintanya akan seperti ini.


Dan itu menjadi alasan kenapa Devan selalu menunda pernikahannya, itu karena ia tidak mau merasakan patah hati.


Devan pun sama halnya dengan Aresha, ia tengah berbaring di ranjangnya, pikirannya hanya terisi oleh sang istri, begitu juga sebaliknya.


"Aku berharap, hari esok akan lebih baik dari hari sekarang, aku sangat merindukanmu," ucap Devan seraya memeluk bingkai foto yang terdapat foto dirinya dan sang istri.


Keesokan harinya, Devan tengah bersiap-siap untuk berangkat ke kantor, sejak Aresha pergi, Devan seperti tidak pernah memikirkan penampilan nya, setiap pergi ke kantor, hanya mengenakan kemeja tanpa dasi, jas pun sering kelupaan.


Meski demikian, penampilan Devan tetap memukau.


Saat Devan keluar dari rumah, ia terkejut ketika mendapati Alice sudah berada di depan pintu.


"Alice, mau apa kamu ke sini," ujar Devan dingin.


"Lebih baik sekarang kamu pergi dari sini, dan satu lagi, jangan pernah kamu temuin aku lagi, dan jangan pernah memaksaku untuk bertanggung jawab atas kehamilan yang sama sekali aku tidak pernah melakukannya," tegas Devan, dan itu membuat Alice sangat terkejut.


"Astaga, dari mana Devan tau, ini nggak boleh di biarin," batin Alice.


Tanpa menghiraukan Alice, Devan bergegas masuk ke mobil, dan segera melaju dengan kecepatan tinggi.


Alice terkejut saat melihat mobil Devan melesat pergi, emosi Alice tidak dapat di bendung lagi, ia benar-benar merasa di permainkan.


"Liat aja Dev, aku akan lakuin apapun agar kamu menjadi milikku," ucap Alice dengan sorot mata yang tajam. Alice bergegas pergi dari rumah Devan.


***


Sementara itu, Devan telah tiba di kantor, ia segera masuk ke ruangannya, meski masalah yang ia hadapi belum tau ujungnya, tapi ia juga harus tetap bekerja.


Saat Devan tengah sibuk dengan layar leptopnya, tiba-tiba pintu ruangannya di ketuk.

__ADS_1


"Masuk," pinta Devan.


Tak lama kemudian, seorang pria masuk ke dalam dan langsung menghampiri Devan, yang masih fokus dengan layar leptopnya.


"Apa kabar tuan Devanka Albercio yang terhormat," ucap pria itu dengan nada yang di buat-buat.


Perlahan Devan mendongakkan kepalanya, dan menatap pria yang kini tengah berdiri di hadapannya itu, seketika matanya terbelalak.


Setelah itu Devan bergegas bangun dari duduknya dan langsung menghampiri pria itu.


"Kevin," ucap Devan, lalu memeluknya.


"Gimana Van, kabar kamu, lama kita nggak ketemu," sapa Kevin. Lalu melepas pelukannya.


"Baik, kamu sendiri gimana," jawab Devan. Dan balik bertanya.


Setelah itu, Devan mengajak Kevin untuk duduk.


Lama tidak pernah bertemu, membuat keduanya saling menceritakan pengalaman hidupnya, dan sejenak Devan melupakan masalah nya, namun itu hanya sesaat.


***


Tak terasa waktu telah berlalu, hari demi hari, minggu demi minggu, dan bulan demi bulan telah terlewati, masa-masa sulit telah mereka lalui bersama.


Namun sampai saat ini, Devan dan Aresha belum juga bertemu, entah kapan mereka akan bertemu, atau tidak bertemu sama sekali, hanya Tuhan yang tau.


Kandungan Aresha saat ini sudah memasuki bulan ke-9, antara senang dan sedih yang ia rasakan.


Aresha senang karena sebentar lagi akan melahirkan, tapi di lain sisi ia merasa sedih, lantaran semenjak Aresha pergi, ia tak pernah mendengar lagi kabar Devan, ia berfikir kalau Devan sudah melupakannya.


"Kamu memang sudah benar-benar melupakan aku, kamu lebih memilih wanita lain daripada aku, untuk apa dulu kamu menikahi aku, kalau akhirnya seperti ini," batin Aresha sembari menatap kosong ke luar jendela.


Tiba-tiba saja Kevin kembali, Aresha segera menghapus air matanya yang sempat menetes.


"Heh, kamu kenapa?" tanya Kevin, saat melihat Aresha bertingkah gugup.


"Ah aku enggak papa kok, kamu sudah pulang," elak Aresha.

__ADS_1


Belum sempat Kevin menjawab, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu, bergegas Kevin membuka pintu apartemennya, Kevin tercengang ketika melihat seorang wanita tengah berdiri di depan pintu.


__ADS_2