Terjebak Cinta Bos Playboy

Terjebak Cinta Bos Playboy
Terjebak Cinta Bos Playboy_20


__ADS_3

Dalam membina bahtera rumah tangga, memang tidak selalu berjalan mulus, susah, senang akan mewarnai perjalanan cinta seseorang.


Terkadang kita akan merasa berada di zona ternyaman, yaitu kebahagiaan, tapi terkadang kita juga akan berada di zona paling seram, yaitu permasalahan yang tiada ujungnya.


Seperti yang tengah Devan dan Aresha rasakan saat ini, mereka kini berada di zona seram, di mana masalah demi masalah datang menghampiri, menguji kesabarannya, dan menguji seberapa kuat mereka bertahan.


Namun seiring berjalannya waktu, masalah yang mereka hadapi, satu persatu berhasil di lalui, zona nyaman pun telah menantinya, setelah hampir satu bulan cinta mereka di uji.


Malam ini seperti biasa, Devan datang ke rumah mertuanya untuk bisa bertemu dengan istri serta putri kecilnya itu.


Jendela di ketuk, itu pertanda Devan telah datang, buru-buru Aresha membukanya.


"Tumben lama banget," ujar Aresha setelah jendela terbuka.


"Kenapa? Kangen ya?" goda Devan, sembari mencolek hidung sang istri.


Aresha hanya tersenyum, setelah itu Devan bergegas masuk ke dalam.


Setelah di dalam, Devan langsung menghampiri putrinya yang sudah terlelap.


Kini usia Vanes sudah 2 bulan lebih,


sedang lucu-lucunya di usia segitu, Devan pun duduk di tepi ranjang, membelai lembut wajah dan rambut sang putri, lalu menciumnya penuh dengan cinta.


"Oya Van, aku denger kamu udah jual perkebunan teh yang ada di Bandung ya?" tanya Aresha, seraya duduk di samping suaminya.


"Iya, kamu tau dari mana," jawab Devan.


"Sinta yang bilang," sahut Aresha.


"Yah, mau gimana lagi, itu pun belum bisa nutup semua kerugian yang aku alami," tutur Devan, lalu menatap lekat wajah sang istri.


"Berarti masalah itu belum selesai?" tanya Aresha.


"Sudah dong, siapa dulu yang tangani," ucap Devan membanggakan diri.


"Idih, biasa aja kali," sahut Aresha.


"Bener lah, memangnya kamu mau, suamimu yang tampan ini masuk penjara, gara-gara lari dari tanggung jawab," tutur Devan, yang membuat Aresha terkekeh geli.


"Iya, iya, suamiku yang paling tampan," gemas Aresha, lalu mengacak-acak rambut suaminya itu.


"Plus playboy," sambungnya, yang membuat Devan sedikit melotot.

__ADS_1


"Eh, sekarang aku enggak menyandang status playboy lagi ya, aku adalah suami yang setia, terhadap satu wanita saja," tutur Devan, yang memuji dirinya sendiri, dan itu membuat Aresha semakin gemas.


Di lain sisi, ternyata selama ini, ayah serta ibu Aresha telah mengetahui, jika Devan sering datang dengan kerumahnya, dengan sembunyi-sembunyi.


"Ternyata benar, Devan memang lelaki yang baik, dia adalah lelaki yang setia," ucap ayah Aresha dari balik pintu kamar putrinya itu.


Malam semakin larut, Devan dan Aresha pun sudah terlelap dalam mimpi indah mereka masing-masing, begitu juga dengan putri kecil mereka.


Keesokan harinya, pukul 05.30 Devan sudah bersiap untuk pulang, tidak seperti biasanya, Devan bangun lebih awal, padahal biasanya sebelum Aresha membangunkannya, ia tidak mau bangun.


"Sayang aku pulang dulu ya," ucap Devan seraya merapikan kemejanya.


"Iya, nanti malam kamu ke sini lagi kan?" tanya Aresha dengan raut wajah yang tak seperti biasanya.


"Pasti dong Sayang, memangnya kenapa?" Devan balik bertanya.


"Aku enggak tau Van, perasaanku tiba-tiba tidak enggak enak," ujar Aresha.


"Nggak enak gimana, hem?" tanya Devan, lalu menatap lekat wajah istrinya itu.


Aresha hanya menggelengkan kepalanya saja, entah apa yang tengah ia pikirkan, tapi memang benar, sejak bangun tidur perasaan Aresha sudah tidak tenang.


"Makanya, jangan kebanyakan nonton sinetron, jadi pikirannya enggak kemana-mana," ejek Devan, yang membuat Aresha kesal.


Sontak membuat Devan terkejut, untung saja, ia dapat menahan dan tidak berteriak.


"Sakit Sayang," keluh Devan, sembari mengelus-elus lengannya.


"Ih, gitu aja sakit, manja banget sih," sahut Aresha.


"Ya udah, aku pulang dulu ya," ucap Devan kemudian.


"Ya udah, hati-hati ya," jawab Aresha.


"Sayang, ayah pulang dulu ya, kamu jangan nakal ya, kasihan bunda," ucap Devan, berpamitan pada putrinya.


Setelah mencium gemas sang putri, kini tinggal mencium mesra istrinya itu.


Tersirat dalam hati, jika hari ini Devan bersikap sangat aneh.


"Oya Sayang, jangan jauh-jauh dari handphone kamu ya," kata Devan, setelah mencium mesra bibir mungil sang istri.


Kening Aresha berkerut, ia benar-benar bingung dengan suaminya itu, dari yang bangun lebih awal, lalu sikapnya yang begitu manja, tidak seperti biasanya.

__ADS_1


"Memangnya kenapa?" tanya Aresha heran.


"Bakal ada kejutan buat kamu, tapi jangan nangis ya, kalau udah dapet kejutannya," ucap Devan, lalu mencubit gemas pipi sang istri.


"Ih, emangnya aku anak kecil apa, pake nangis segala," sahut Aresha, yang sedikit memanyunkan bibirnya.


"Jangan manyun, nanti jatuh tuh bibirnya," goda Devan, yang membuat Aresha memukul lengan suaminya itu.


"Ya udah aku pulang dulu ya," ucapnya lalu keluar lewat jendela.


"Iya, hati-hati," balas Aresha.


Devan pun melangkah meninggalkan rumah mertuanya itu, Aresha terus memandang punggung suaminya yang mulai menghilag.


***


Di tempat lain, seseorang tengah memperhatikan setiap gerak-gerik Devan, dari mulai keluar dari kamar sang istri, sampai kini yang telah masuk ke mobilnya dan mulai melajukannya dengan kecepatan sedang.


"Kalau aku tidak bisa memilikimu, maka aku tidak akan biarkan kamu bahagia dengan wanita lain," ucap seseorang dari balik pohon.


Orang itu terus menatap tajam ke arah mobil Devan, yang mulai menghilag dari pandangannya.


"Aresha, kamu akan merasakan akibatnya, karena kamu telah bermain-main denganku," ucapnya dengan tersenyum licik.


Belum ada 30 menit Devan menjalankan mobilnya, tiba-tiba ia merasa ada yang aneh dan semakin lama semakin aneh, sampai akhirnya Devan lepas kendali lantaran kaget, karena tiba-tiba Devan melihat anak kecil melintas di depan mobilnya, dan itu membuat Devan membanting stir dan brraaaakkkk.


Mobil Devan masuk ke jurang yang terdapat di kiri jalan.


Bersamaan dengan itu, sebuah foto yang terletak di atas meja Aresha jatuh ke lantai. Praaaannnggg.


Seketika Aresha menoleh ke sumber suara tersebut, mata Aresha terbelalak saat melihat bingkai foto suaminya jatuh dan hancur.


"Astaga, ada apa ini, kenapa fotonya bisa jatuh," ujar Aresha, lalu mengambil foto tersebut.


"Kenapa perasaanku semakin tidak enak, pertanda apa ini," sambungnya lagi.


Tiba-tiba, suara handphonenya berdebat, dan itu membuyarkan lamunan Aresha, buru-buru ia mengangkatnya.


"Halo," ucap Aresha.


"Apa!" Seru Aresha.


Aresha sangat terkejut, saat mendengar jawaban dari seberang sana, perlahan air matanya luruh, persendiannya terasa lemas, dan lidahnya terasa kelu.

__ADS_1



__ADS_2