Terjebak Cinta Bos Playboy

Terjebak Cinta Bos Playboy
Terjebak Cinta Bos Playboy_19


__ADS_3


Devan kini sudah tiba di rumah, ia berjalan gontai menuju ke kamarnya, setibanya di kamar Devan langsung menjatuhkan bobot tubuhnya di ranjang.


Masalah yang datang secara berturut-turut, belum selesai masalah pabriknya yang terbakar, kini ada lagi masalah yang menghampirinya.


"Arrght," Devan mengerang frustasi.


Devan mengacak-acak rambutnya karena frustasi.


Rasanya seperti mimpi, tapi semua itu adalah kenyataan.


Baru saja sebulan merasakan kebahagiaan yang sempurna, kini Devan harus merasakan kesendirian lagi.


Rasa sedihnya kian mendalam, terlebih setelah kehadiran putri kecilnya.


***


Di lain sisi, Aresha nampak murung atas kejadian tadi sore.


"Sayang, kamu makan dulu ya, dari tadi siang kamu belum makan," bujuk ibu Aresha.


"Aresha nggak laper Bu," jawab Aresha sedikit jutek.


"Sayang, kamu harus makan, apa kamu enggak kasihan sama anak kamu, nanti dia bisa kurang asi," jelasnya.


"Kasihan? Neneknya aja enggak kasihan, tega misahin Aresha dengan Devan, misahin Vanes dengan ayahnya," pungkas Aresha, yang membuat ibunya terdiam.


Setelah mendengar ucapan dari putrinya itu, ibunda Aresha memilih untuk keluar.


***


Keesokan harinya, Devan sudah bersiap-siap untuk berangkat ke kantor, meski perasaannya masih kacau, tapi ia harus tetap bekerja.


Setelah siap, Devan kini meluncur ke kantornya.


Kini Devan sudah standby di ruangan kerjanya, ia nampak sibuk dengan layar leptopnya.


"Astaga, aku benar-benar tidak fokus dengan pekerjaan ini," keluh Devan, lalu menutup leptopnya.


"Sayang, sekarang kalian lagi ngapain, aku sangat merindukan kalian," ucap Devan, sembari memandangi foto istri serta putrinya itu.


Tiba-tiba, suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Devan.


"Masuk," ucap Devan.


Pintu ruangan terbuka, seorang lelaki paruh baya masuk ke dalam ruangan Devan.


Perlahan ia mendongakkan kepalanya, Devan sedikit terkejut saat melihat tamu yang datang ke ruangannya.


"Om Jonathan, silahkan duduk om," ujar Devan, lalu mempersilahkan sang tamu untuk duduk.


Jonathan pun duduk.


"Ada apa om datang ke sini?" tanya Devan.


"Om ke sini, ingin mengajak kamu untuk bekerja sama," jawab Jonathan.


Devan mengernyitkan dahinya, ia sedikit bingung kenapa tiba-tiba Jonathan mengajaknya untuk bekerja sama.


"Kerja sama, kerja sama apa om?" tanya Devan bingung.


"Om tau, kalau pabrik kamu mengalami kebakaran, dan sudah pasti kamu sekarang juga mengalami kerugian yang besar, iya kan," jelas Jonathan.

__ADS_1


Devan tersentak, dari mana Jonathan tau, kalau dirinya tengah mengalami masalah.


"Dari mana om tau?" tanya Devan.


"Itu tidak penting, sekarang yang terpenting adalah, kerja sama kita," terang Jonathan.


Devan menghela nafas kasar, ia mencoba untuk tenang.


"Kerja sama bagaimana om?" tanya Devan, yang merasa penasaran.


"Om akan membantumu untuk membayar semua kerugian yang kamu alami, tapi dengan satu syarat," jelas Jonathan.


"Syarat? Syarat apa om?," tanya Devan, semakin penasaran.


"Kamu harus menikah dengan Alexa," jawab Jonathan.


Devan terdiam, ia mencoba mencerna setiap ucapan Jonathan, Devan juga berfikir, jawaban apa yang akan ia berikan.


"Maaf om, saya tidak mau mencampur adukkan masalah pekerjaan dengan masalah keluarga ataupun pribadi," jelas Devan.


Jonathan sangat terkejut dengan jawaban yang Devan berikan, ia tidak menyangka kalau Devan bisa bersikap tenang meski masalah tengah mengujinya.


"Devan, kamu pasti akan menyesal karena telah menolak tawaran dariku," seru Jonathan, yang terlihat kecewa.


"Tidak akan om, justru saya akan menyesal jika saya menerima tawaran dari om itu," tegas Devan.


Tanpa permisi, tiba-tiba Jonathan berlalu dari hadapan Devan.


Ia sedikit merasa lega, setelah Jonathan pergi.


"Apa pun yang terjadi, aku nggak akan melakukan hal bodoh itu," ucap Devan.


***


"Sayang, kamu kangen nggak sama ayah, kita berdoa saja ya, semoga kita bisa berkumpul kembali," ucap Aresha pada putrinya itu, tak terasa cairan bening itu lolos.


"Devan, aku tau, ini sangat berat untuk kita, tapi aku yakin, pasti kita bisa melewati ini semua," ucapnya lagi, seraya menggendong Vanesha.


Selang beberapa menit, Vanes tertidur, Aresha pun segera membaringkannya di atas ranjang.


Setelah itu, ia mulai membereskan beberapa mainan milik putrinya itu.


"Duh, keperluan Vanes udah habis lagi, aku nggak mungkin keluar kan, ayah sama ibu juga pasti nggak bakal ijinin," ujarnya, setelah melihat keperluan putrinya sudah habis.


"Apa aku telfon Devan saja ya, dia pasti mau beliin," ujarnya kemudian.


Waktu berjalan begitu cepat, siang yang cerah kini sudah berganti malam, dan malam ini Devan akan datang menemui istri dan juga putrinya.


Devan telah tiba di rumah mertuanya itu, dan kali ini, ia memarkirkan mobilnya jauh dari rumah mertuanya itu.


Dan malam ini juga, Devan akan datang dengan cara sembunyi-sembunyi, karena ia tau, orang tua Aresha pasti tidak akan mengijinkan dirinya untuk bertemu istri serta putrinya.


Aresha yang tengah berbaring tiba-tiba mendengar ketukan di jendela kamarnya, ia pun bergegas membuka jendele tersebut.


Terukir senyum di bibirnya, betapa senangnya melihat sang suami berada di depan mata, meski datang dengan cara seperti itu.


"Devan, ayo cepat masuk," pinta Aresha.


Devan pun segera masuk ke dalam lewat jendela kamar Aresha.


"Ini, aku udah beli semua keperluan untuk Vanes," ujar Devan, lalu menyerahkan beberapa paper bag pada Aresha.


"Makasih ya," ucap Aresha.

__ADS_1


"Sama-sama Sayang, oya Vanes mana, aku kangen banget sama dia," ujar Devan, lalu berjalan menuju ke ranjang.


"Vanes udah tidur, jangan di gangguin," ucap Aresha, tentunya dengan suara yang pelan.


Devan kini duduk di tepi ranjang, tangannya membelai lembut wajah imut putrinya itu, senyum terukir di bibir lelaki itu, Aresha pun tersenyum melihat wajah damai suaminya itu.


Aresha pun mendekat dan duduk di samping Devan.


"Apa kita bisa melewati ini semua," ucap Aresha, dengan menatap nanar ke arah putrinya yang tengah terlelap itu.


Mendengar keluhan istrinya itu, perlahan Devan menarik tubuh Aresha agar mendekat, dan memeluknya dengan sangat erat.


"Kita pasti bisa, tidak ada yang bisa memisahkan kita lagi, sekalipun itu orang tua kita," tutur Devan, lalu mencium pucuk kepala Aresha.


Keesokan harinya, tepat pukul 7 pagi Aresha terbangun, itu pun lantaran gedoran pintu kamarnya oleh ibunya.


"Aresha bangun, sudah siang, ayo bangun," ucap ibu Aresha dari luar pintu.


Karena kaget, Aresha pun langsung membuka matanya dengan sempurna, di lirik jam yang berada di atas meja, dan waktu sudah menunjukkan pukul 07.20 menit, dengan cepat Aresha mengguncang tubuh suaminya agar segera bangun.


"Devan, ayo bangun, udah siang, Devan," ucap Aresha.


Devan pun menggeliatkan tubuhnya, perlahan ia membuka matanya, setelah nyawanya terkumpul, Devan pun bangun dan duduk


"Jam berapa?" tanya Devan, dengan suara yang masih lemas.


"Jam 7," jawab Aresha, sembari membuka jendela kamarnya.


Ibunda Aresha terus berteriak dari luar pintu, tapi Devan sama sekali tidak menghiraukannya, ia terlihat sangat santai.


Berbeda dengan Aresha yang sangat panik, dengan paksa Aresha menarik tangan Devan, dan menuntunnya mendekat ke jendela.


"Sekarang kamu pulang dulu, sebelum ayah sama ibu tau, ayo cepet keluar," pinta Aresha, yang terlihat memaksa.


"Iya Sayang," sahut Devan santai.


Devan pun menuruti permintaan istrinya itu, kini ia sudah berada di luar, tapi saat akan melangkah pergi, Devan membalikkan badannya kembali.


"Devan apa lagi?" tanya Aresha, sedikit kesal.


Devan menyodorkan pipi kanannya, pertanda ia meminta ciuman dari sang istri.


Dengan terpaksa, Aresha pun mencium pipi suaminya itu.


"Sudah, sekarang cepat pergi," usir Aresha.


Namun, bukannya pergi, Devan justru menarik tubuh Aresha, lalu memegang dua pipi istrinya itu, satu kecupan mesra mendarat di bibir mungilnya, setelah itu, kening dan dua pipi kanan dan kiri.


Aresha terdiam, wajahnya merah merona, Devan yang melihatnya hanya bisa terkekeh.


"Udah sekarang ayo pergi," usirnya lagi, seraya menutupi wajahnya yang merah itu.


"Tunggu, aku belum pamitan sama Vanes," ujar Devan, yang hendak masuk kembali, tapi Aresha langsung mencegahnya.


"Udah nggak ada waktu, sekarang ayo pergi," kekeh Aresha.


"Ok, nanti malam aku akan kembali lagi," pasrah Devan, lalu mencium singkat bibir istrinya itu, dan berlari pergi.


Aresha tersenyum melihat tingkah suaminya itu.


Meski orang tua telah melarangnya untuk bertemu, tapi Devan tetap bersikeras agar bisa melihat anak dan juga istrinya.


__ADS_1


__ADS_2