
Pagi yang cerah, sinar mentari pun menyeruak masuk ke dalam melewati celah-celah jendela yang telah terbuka lebar, seorang wanita terusik dengan cahaya yang masuk, di kerjap-kerjapkan matanya, sebelum terbuka lebar.
Beberapa detik kemudian, kelompok matanya terbuka sempurna, diedarkan pandangannya, terlihat asing dengan suasana yang belum pernah dia kenal.
"Hah aku di mana," pekiknya. Lalu terbangun dan duduk.
Selang beberapa menit, seorang pria datang dengan membawa nampan berisi semangkuk bubur dan segelas susu.
Pria itu meletakkan nampan tersebut di atas meja, lalu duduk di tepi ranjang.
"Kau sudah bangun, bagaimana keadaan mu, kau baik-baik saja kan?" tanya pria itu.
Wanita itu hanya mengangguk pelan.
"Kenapa aku bisa ada di sini?" tanya wanita itu.
"Semalam aku menemukanmu tergeletak di jalan, kau pingsan untung kandunganmu baik-baik saja, seorang wanita yang tengah hamil muda seperti kamu tidak baik berada di luar sendirian tanpa di dampingi seorang suami," jelas pria itu.
Seketika wanita itu terdiam, kepalanya menunduk, dia mengingat sebelum dia pergi dari rumah, tanpa di duga air matanya menetes, mengingat pahitnya hidup yang harus dia jalani.
"Kau menangis?" tanya pria itu. Saat melihat wanita di depannya terisak.
Segera mungkin sang wanita menghapus air mata dengan cepat.
"Sepertinya kau mengalami masalah yang sangat berat," duga pria itu.
"Aku kabur dari rumah," lirihnya, hampir tak terdengar.
"Apa, kabur," pekik pria itu.
Wanita itu mengangguk pelan.
Sang pria hanya menghela nafasnya.
"Sepertinya wanita ini mengalami banyak masalah, kasihan dia," batin pria itu.
"Ya sudah, sekarang kau istirahat saja dulu, dan ini aku bawakan bubur sama susu, nanti di makan ya, semalam kamu juga sudah di periksa oleh dokter, kau harus banyak istirahat," pungkas sang pria.
"Terima kasih," sahutnya lirih.
Sang pria hanya tersenyum.
"Oya, namamu siapa?" tanya si pria itu.
__ADS_1
"Nama aku Aresha, nama kamu?" jawab Aresha. Lalu balik bertanya.
"Aku Kevin, oya aku tinggal dulu ya, kau istirahat saja," jawab Kevin. Lalu beranjak untuk pergi.
"Iya," sahut Aresha.
Setelah itu Kevin bengkit dari duduknya, dan bergegas untuk pergi.
______
Kehilangan seseorang yang sangat kita cintai pasti akan membuat kita terluka, hancur, kecewa, sedih, marah, bahkan akan merasa jika telah kehilangan separuh jiwa kita.
Seperti yang Devan kini rasakan, ia benar-benar merasa sangat kehilangan, wanita yang sangat ia cintai telah pergi entah kemana.
Frustasi yang tengah Devan alami, sudah semalaman Devan mencari sosok sang istri, namun sampai menjelang pagi belum juga di temukan.
Hampir putus asa Devan mencari, tapi ia tidak akan menyerah begitu saja, ia akan tetap mencari keberadaan sang istri.
"Sayang, kamu di mana, kenapa pergi begitu saja, tanpa memberiku penjelasan," ratap Devan, sembari memegangi foto sang istri.
Hari ini Devan memaksa pergi ke kantor, lantaran sekretarisnya memberi tahu jika ada meeting mendadak.
Devan telah tiba di kantor, dengan cepat ia masuk dan bergegas menuju ke ruang meeting.
Meski pikiran Devan tengah kacau, ia tetap berusaha untuk bisa mengikuti meeting.
Hanya 30 menit, Devan mengakhiri meeting nya, para karyawan nya pun merasa heran dengan bosnya itu.
"Ok, meeting selesai, permisi," ujar Devan, dan berlalu pergi meninggalkan ruangan meeting.
Para karyawan nya di buat bingung oleh sang bos, mereka pun saling melempar pertanyaan dengan teman-temannya.
Devan kini tengah berjalan menuju ke ruangannya, beriringan dengan sekretarisnya.
"Arman hari ini aku ada urusan mendadak, jadi tolong kamu handle semuanya," pinta Devan, pada sekretarisnya itu.
"Baik pak," jawab Arman paham.
Setelah itu, Devan pun bergegas pergi meninggalkan kantor.
Sementara itu di lain sisi, Aresha tengah duduk melamun, air matanya pun tak ada hentinya menetes.
Sungguh sangat sakit yang ia rasakan saat ini, bagai tersambar petir, jika mengingat peristiwa di mana Aresha melihat dengan mata kepalanya sendiri, suaminya berduaan dengan wanita lain.
__ADS_1
"Sejujurnya aku tidak ingin ini terjadi, tapi kamu yang memulainya, andai kamu tidak melakukan itu, mungkin saat ini kita sedang merasakan kebahagiaan yang belum pernah kita rasakan, tapi semua hanya mimpi semata," ratap Aresha, sembari memandangi foto Devan yang berada di layar handphonenya.
Lagi-lagi air matanya luruh tanpa di minta, sesak rasanya.
Tapi mungkin itu adalah takdir yang harus Aresha jalani.
10 menit kemudian, Kevin kembali.
"Aresha, kamu kenapa?" tanya Kevin, seraya berjalan menghampirinya.
Buru-buru Aresha menghapus air matanya, ia tidak ingin terlihat sedih di mata lelaki itu.
"Ah, aku nggak papa kok," jawab Aresha sedikit gugup.
Kevin pun duduk di tepi ranjang, sejujurnya ia ingin tau, masalah apa yang tengah wanita itu hadapi, tapi Kevin takut, jika itu akan menambah kesedihan Aresha, ia juga tidak ingin terlalu mencampuri urusan orang lain.
"Oya Sha, rencana kamu selanjutnya bagaimana?" tanya Kevin ragu-ragu.
"Aku nggak tau Vin, keluarga aku semua ada di kampung, aku tidak tau harus pergi kemana," jawab Aresha.
"Ya sudah, kamu boleh kok tinggal di sini semaumu, sampai kapan," sahut Kevin, yang membuat ada segaris senyum di bibir mungil Aresha.
"Apa kamu serius, ngijinin aku tinggal di sini?" tanya Aresha memastikan.
"Iya, anggap aja aku sodara kamu," jawab Kevin. Lalu tersenyum.
"Makasih ya Vin, besok aku akan cari kerja, biar aku bisa penuhi kebutuhan aku sekaligus untuk persiapan calon anak aku nanti," jelas Aresha, yang terlihat gembira.
"Ok, sekarang kamu istirahat saja ya, aku mau mandi dulu," sahut Kevin, dan di balas anggukan oleh Aresha.
Sementara itu, seharian Devan baru pulang ke rumah, ia terus berusaha untuk mencari keberadaan istrinya itu, segala usaha telah Devan lakukan, tapi hasilnya tetap sama, rasa putus asa sesekali singgah di hati dan pikirannya, tapi segera mungkin ia tepis jauh-jauh, Devan sangat berharap akan bertemu kembali dengan sang istri.
"Sayang, kamu di mana sekarang, aku sangat merindukanmu," ucap Devan, lalu mencium foto sang istri yang di balut bingkai.
Devan kembali meletakkan foto tersebut di atas meja, setelah itu, ia masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
20 menit kemudian, Devan sudah rapi, dan tengah bersiap-siap untuk pergi.
Entah kenapa hari ini Devan ingin sekali berkunjung ke apartemen Alice, di hatinya terasa ada yang mengganjal, akhirnya Devan pun memutuskan untuk pergi ke sana.
Setelah melewati perjalanan yang lumayan jauh, Devan tiba di apartemen di mana Alice tinggal.
Devan bergegas naik ke atas untuk menuju kamar yang Alice tempati.
__ADS_1
Devan tiba di depan kamar Alice, namun saat ia ingin mengetuk pintu kamar tersebut, tiba-tiba niatnya terhenti saat mendengar percakapan di dalam sana.