
Kini Devan sudah membawa Aresha ke RS, untung saja keadaan Aresha baik-baik saja, dia hanya syok.
Malam itu juga Aresha sudah diperbolehkan untuk pulang.
Meski begitu Devan tetap merasa bersalah, sudah dua kali Aresha terluka seperti itu, dan lagi-lagi Devan tidak mengetahui nya.
Walaupun cinta Devan belum seutuhnya untuk Aresha, namun setiap kali terjadi sesuatu terhadap Aresha, Devan selalu merasa sedih dan bersalah.
"Aresha aku minta maaf, aku belum bisa menjagamu dengan baik, aku memang suami yang tidak berguna," sesal Devan, sembari menggenggam erat tangan istrinya dan mencium keningnya.
Malam telah berganti pagi, perlahan kelopak mata Aresha terbuka, diedarkan pandangannya ke sekeliling.
Kepalanya masih terasa pusing, namun Aresha bersyukur karena ia masih bisa melihat dunia lagi.
Saat hendak bangun, ia merasa ada yang menindih perutnya, siapa lagi kalau bukan tangan kekar suaminya itu.
Aresha pun menoleh ke samping kanan, wajah Devan yang sangat dekat, bahkan ia dapat merasakan deru nafasnya.
Aresha tersenyum melihat wajah damai Devan saat terlelap.
Tapi hatinya masih terasa sakit, kenapa setelah ia menikah, banyak sekali kejadian yang ia alami, dan yang membuat Aresha lebih sakit saat melihat wanita lain bermesraan dengan suaminya itu.
Meski belum ada kata cinta yang terucap, sebagai seorang istri pasti tidak akan rela jika suaminya di dekati oleh wanita lain.
Tak terasa air matanya mengalir, Devan yang merasa terusik akhirnya tersadar dari alam mimpinya.
"Sayang kamu udah bangun," ujar Devan dengan suara khas bangun tidurnya.
"Ah iya, baru saja," sahut Aresha sedikit gugup.
Devan pun merenggangkan otot-ototnya, setelah itu ia pun bangkit dan duduk di samping istrinya itu.
Aresha tidak menyadari jika air matanya mengalir, Devan yang melihat itu menjadi panik.
"Sayang kamu nangis, apa ada yang sakit," ujar Devan panik.
Aresha hanya menggelengkan kepalanya, lalu dengan lembut Devan menghapus air mata Aresha dengan kedua ibu jarinya.
"Kalau nggak ada yang sakit, kenapa menangis," ucap Devan lembut.
"Hati aku yang sakit," ucap Aresha secara spontan.
Seketika Devan terdiam, wajah yang awalnya serius, dan terlihat khawatir, kini raut wajahnya berubah dan tiba-tiba tertawa mendengar ucapan dari istrinya itu.
Aresha mengernyitkan dahinya, apa yang lucu dengan ucapannya, sampai-sampai membuat lelaki di depannya tertawa lepas seperti itu.
"Kok ketawa, emang ada yang lucu apa," ketus Aresha yang langsung memanyunkan bibirnya.
Devan pun terdiam saat melihat bibir sang istri manyun seperti itu.
"Kamu lucu aja, emang hati kamu kenapa, kok bisa sakit," ujar Devan yang membuat Aresha memalingkan wajahnya.
"Ng-nggak papa kok, ya udah aku mandi dulu ya, nanti bisa terlambat ke kantornya," putus Aresha dan beranjak dari tempat tidur.
"No," cegah Devan lalu menarik tangan Aresha, hingga terduduk lagi.
"Hari ini kamu standby di rumah, aku nggak ijinin kamu ke kantor," jelas Devan yang membuat Aresha sedikit heran.
"Memangnya kenapa pak, saya kan nggak papa," jawab Aresha.
"Pokoknya hari ini kamu di rumah, nanti bibi akan datang lebih awal, biar kamu ada temennya," sahut Devan lalu beranjak dari tempat tidurnya.
"Ya udah, terserah bapak saja," pasrah Aresha.
"Ya udah aku mandi dulu ya," ujar Devan, lalu mencium kening Aresha secara singkat.
Mata Aresha melotot, ia tidak percaya jika sekarang Devan sudah berani untuk menciumnya.
__ADS_1
Ada rasa senang dalam hati Aresha, namun di lain sisi ia juga merasa sedih, karena ia tidak tau hari kedepannya akan seperti apa, belum seminggu menikah, Aresha sudah dua kali di labrak oleh salah satu kekasih suaminya itu.
Setelah 20 menit, Devan keluar dengan hanya menggunakan handuk sebatas pinggang, Aresha yang tidak menyadari itu tetap dalam posisi duduk dengan tatapan yang kosong.
Devan segera memakai pakaiannya,
setelah siap Devan pun menghampiri Aresha lalu duduk di sampingnya sembari menyodorkan dasinya.
Aresha yang sudah paham, dengan cekatan memasang dasi tersebut.
"Sudah selesai pak," ucap Aresha yang membuat Devan menatap tajam ke arah istrinya itu.
"Bapak kok natap saya seperti itu, apa ada yang salah," ujar Aresha sedikit was-was.
"Aresha, sekarang kita sudah menikah, jadi tolong jangan panggil aku bapak terus, emang aku bapak kamu apa," tutur Devan yang membuat Aresha terdiam dan sedikit berpikir.
"Terus, kalo nggak manggil bapak, siapa dong," sahut Aresha.
"Ya terserah kamu," balas Devan.
"Ya udah om aja ya," ucap Aresha sembari tersenyum.
"Kok malah om, kapan aku nikah sama tante kamu," protes Devan.
"Ya terus apa dong," ujar Aresha kemudian.
"Dari pada kamu manggil om mending nama aja, terdengar lebih enak." Saran Devan.
"Ya udah deh, terserah kamu aja," pasrah Aresha.
"Gitu dong, ya udah aku pergi dulu ya, kamu baik-baik di rumah," ujar Devan, lalu berpamitan untuk segera pergi ke kantor.
"Iya, kamu juga hati-hati," sahut Aresha yang membuat Devan tersenyum.
Devan pun bangkit dari duduknya, dan sebelum ia melangkah keluar dari kamar, terlebih dahulu ia mencium kening Aresha.
Setelah itu ia pun melangkah keluar dan segera berangkat ke kantor.
Devan kini sudah berada di kantor, ia terlihat sangat sibuk dengan tumpukan berkas di depannya.
Saat ia tengah fokus menanda tangani berkas-berkas tersebut, tiba-tiba Sela datang, tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, dia langsung masuk begitu saja.
"Selamat pagi sayang," sapa Sela seraya berjalan mendekati Devan.
Merasa tidak asing dengan suara itu, perlahan Devan mendongakkan kepalanya dan menatap ke depan, terlihat Sela sudah berdiri di depannya.
"Sela, mau ngapain kamu kesini," ujar Devan terkejut.
"Aku mau ngajakin kamu ke rumah, mama sama papa pengen ketemu sama kamu," jelas Sela.
"Sorry Sel, aku lagi sibuk," sahut Devan cuek.
"Ayolah Dev, sebentar saja ya," bujuk Sela dengan manjanya.
"Ok, tapi nanti setelah pekerjaan aku selesai," putus Devan lalu fokus dengan berkas yang berada di depannya.
"Ok, aku tunggu ya," balas Sela dengan senyum yang mengembang.
Mentari telah tenggelam ke peraduannya, hanya menyisakan sinar kemerahan di ufuk barat sana, perlahan gelap pun menyelimuti.
Tepat pukul 7 malam Devan baru saja menyelesaikan pekerjaannya.
Namun saat ia hendak pulang, ia baru ingat kalau ada janji dengan Sela, dan ini saatnya bagi Devan untuk memberitahu jika dirinya tidak lagi sendiri.
Devan bergegas ke rumah Sela, meski sejak sore tadi handphonenya berdering, ia terpaksa menghiraukan nya.
Devan telah tiba di rumah Sela, sambutan hangat pun ia terima, kini Devan tengah duduk bersama dengan Sela dan juga orang tuanya.
__ADS_1
"Bagaimana kabarnya nak Devan, sudah lama tidak berjumpa," ucap pak Hedy ayah Sela.
"Baik om, masih sibuk dengan urusan kantor," jawab Devan apa adanya.
Orang tua Sela tersenyum, Devan memang pekerja keras, itu sebabnya mereka menginginkan Devan bisa menjadi menantunya.
"Iya, kamu memang orang yang pekerja keras, om akan bangga jika kamu menjadi menantu kami," ujar Hedy, Devan hanya tersenyum tipis mendengar hal itu.
"Bagaimana Van, hubungan kamu dengan Sela?" tanya Lisa ibu Sela.
"Hubungan kami hanya sebatas teman saja tante, tidak lebih dari itu," jelas Devan yang membuat mereka terkejut.
"Dev, kok kamu ngomongnya gitu sih, terus selama ini kamu anggap aku apa," sela Sela yang tidak terima dengan pengakuan Devan.
"Aku anggap kamu teman, sejak kamu pergi meninggalkan aku, sejak kamu pergi tanpa ada alasan yang pasti, dan sejak itu hubungan kita hanya sebatas teman," jelas Devan, dengan menekan kata-katanya.
Orang tua Sela hanya saling pandang, mereka memang tidak tau masalah apa yang tengah Devan dan Sela hadapi.
"Tapi Dev, aku cinta sama kamu," tutur Sela.
"Aku juga cinta sama kamu, tapi sayang kamu telah menyia-nyiakan cinta aku, sampai akhirnya aku menemukan orang yang tepat aku cintai, yaitu istri aku," terang Devan.
Deg, jantung Sela seakan berhenti berdetak, pengakuan ini berhasil membuat air mata Sela mengalir.
Mungkin Devan benar, ia telah menyia-nyiakannya, Sela telah pergi ke Amerika tanpa ada alasan yang tepat, dan itu membuat Devan berpaling.
Jika sekarang Devan telah menemukan seseorang yang tepat untuk dia cintai, Sela harus bisa menerima nya.
"Jadi kamu sudah menikah," ujar Sela dengan suara yang bergetar.
"Iya, dan kamu pasti ingat kan, wanita yang telah kamu hina saat berada di kantor aku, dia adalah istriku," tutur Devan yang membuat Sela tak percaya.
"Apa, jadi wanita itu," ujar Sela yang tidak bisa lagi meneruskan ucapannya.
Di lain sisi, Aresha tengah gelisah, sudah larut malam seperti ini, Devan belum juga pulang, telfon tidak diangkat, SMS tak ada jawaban.
Hal ini membuat pikiran Aresha menjadi tidak tenang, bahkan ia berfikir jika sang suami tengah menemui para kekasihnya.
"Hah, untuk apa aku berharap lebih jauh, aku yakin tuh playboy lagi sibuk menemui para kekasihnya yang selusin itu," ujar Aresha yang mulai kesal.
"Sadar Aresha, kamu hanya seorang sekretaris, dia menikahi mu hanya karena terpaksa, jangan berharap terlalu jauh, nanti kamu juga yang akan terluka," pikir Aresha.
Sementara itu, Devan segera berpamitan untuk pulang, meski Sela melarangnya, Devan tetap memaksa.
"Dev, aku mohon tolong jangan tinggalin aku, aku janji akan memperbaiki ini semua," pinta Sela yang terus memohon pada Devan.
"Maaf Sel, tapi aku tidak bisa, jadi tolong jangan ganggu aku lagi," tolak Devan yang membuat Sela semakin tersulut emosi.
"Kalau begitu, saya permisi dulu, sudah malam pasti istri saya sudah menunggu, selamat malam," pamit Devan dan beranjak pergi.
Sela dan kedua orang tuanya hanya terdiam, mereka sangat kecewa dengan pengakuan Devan.
Sementara itu Devan bergegas pulang ke rumah, waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam, pasti Aresha telah menunggunya.
Saat Devan tengah fokus menyetir, tiba-tiba handphonenya berdering, satu panggilan masuk, dengan terpaksa Devan pun mengangkatnya.
[ Halo ]
[ Sorry, ini sudah malam, aku harus segera pulang ke rumah ]
[ Alice, ini itu sudah malam, kita bisa kan ketemu nya besok ]
[ Ke rumah, jangan kamu tidak boleh datang ke rumah ]
[ Ok, aku akan segera ke sana ]
Setelah percakapan itu selesai, Devan segera menutupnya.
__ADS_1
"Sial, kenapa jadi seperti ini, baru saja selesai dengan Sela, sekarang Alice muncul, kalau di biarkan, ini sangat bahaya," gerutu Devan.
Devan benar-benar dalam kebingungan, di sisi lain ia harus kembali ke rumah karena Aresha telah menunggunya, 10 panggilan tak terjawab dari Aresha, namun jika Devan tidak menemui Alice sekarang, wanita itu pasti akan nekat datang ke rumah, dan itu lebih berbahaya, dengant terpaksa, Devan pun menuruti keinginan Alice yang meminta menemuinya di cafe tempat biasa mereka bertemu.