
Erika pun berjalan menghampiri Aresha, dilihatnya dari ujung rambut hingga ujung kaki, penampilan nya sopan, tidak terlalu buruk.
"Cantik," puji Erika.
"Kamu kenal di mana sayang," lanjut Erika, bertanya pada putranya itu.
"Dia sekretaris Devan ma," terang Devan.
Sementara itu, Aresha semakin gugup dan bingung, drama apa yang telah bosnya mainkan itu.
Kenapa tidak memberi tau terlebih dahulu.
"Sayang siapa nama kamu?" tanya Erika lembut.
"A-Aresha Bu," jawab Aresha gugup.
"Kamu sudah lama bekerja di sini?" tanya Erika lagi.
"Sudah Bu, lebih dari 8 tahun," balas Aresha.
"Jadi kamu udah tau dong sifat anak saya seperti apa?" tanya nya lagi.
Belum sempat Aresha menjawab, Devan terlebih dulu membungkam mulut sekretarisnya itu.
"Mama kalau tanya jangan yang aneh-aneh dong," ucap Devan sedikit kesal.
Erika hanya tersenyum, ia tau jika putranya paling tidak suka, jika ada yang membicarakan hal pribadinya.
"Lalu kapan kalian akan menikah?" tanya Erika yang sukses membuat Aresha mati berdiri.
"Minggu depan ma, iya kan sayang," jawab Devan, lalu tersenyum ke arah Aresha.
Baru saja dikejutkan oleh pertanyaan ibu Erika, kini Aresha juga kembali kaget dengan jawaban Devan, jantungnya seperti loncat setinggi gunung Everest.
Pikiranya benar-benar kacau, ia bingung, ini hanya drama bosnya saja, atau mungkin ada maksud lain.
"Baik, kalau begitu mama pulang dulu ya, mama akan mempersiapkan semuanya, kalian tinggal terima beres," jelas Erika yang membuat Aresha melongo.
"Apa perlu Devan anter ma," tawar Devan.
"Tidak perlu, mama bawa supir, sayang tante pulang dulu ya," tolak Erika dan berlalu pergi.
Aresha hanya mengangguk dan tersenyum, setelah ibu Erika pergi, Aresha bersiap-siap untuk mengintrogasi bosnya itu.
"Udah selesai pak drama nya?" tanya Aresha dengan tatapan tajam.
Devan pun menautkan kedua alisnya, ia sedikit bingung dengan pertanyaan yang Aresha lontarkan.
"Drama, ini bukan drama sayang, tapi nyata," terang Devan, dan lagi-lagi sukses membuat jantung Aresha loncat-loncat.
"Apa, bapak lagi nggak salah ngomong kan," pekik Aresha.
"Jangan-jangan pak Devan salah makan, eh tapi pak Devan kan belum makan, atau mungkin salah minum obat, tapi pak Devan kan lagi nggak sakit," gumam Aresha dalam hati, yang menerka-nerka.
"Semua yang kamu dengar tadi adalah nyata, bukan drama Aresha Syaquila," terang Devan dengan senyum manisnya.
"Bapak udah gila apa, kalau saya nikah sama bapak, nanti pacar bapak yang selusin mau di kemanain, koleksi bapak kan udah banyak, kenapa bapak tidak menikah saja sama mereka, kalau mereka tau, nanti dikira saya ngrebut pacar orang lagi." Jelas Aresha panjang kali lebar kali tinggi.
"Untuk masalah itu kamu tenang saja, semua akan aku beresin," jawab Devan santai.
Aresha terdiam, ia tengah berfikir bagaimana caranya agar bisa lepas dari bos playboy nya itu.
"Bapak serius mau nikahin saya?" tanya Aresha sedikit ragu.
"Iya saya serius, apa muka saya terlihat main-main," sahut Devan yang merasa sedikit heran.
__ADS_1
"Baik, tapi saya punya syarat pak," ucap Aresha sedikit ragu.
"Apa syaratnya, katakan saja," jawab Devan.
"Yang pertama, kalau bapak mau nikahin saya, berarti bapak harus mau menanggung kehidupan ibu serta ayah saya yang berada di kampung, beserta kedua adik saya yang masih sekolah." Jelas Aresha.
Tanpa berpikir panjang, Devan langsung menyanggupinya.
"Baik, itu tidak masalah, apa ada lagi," jawab Devan santai.
"Yang kedua, saya tidak mau jika nanti orang kantor tau kita menikah, karena saya tidak mau dianggap sebagai perebut pacar orang, karena mereka taunya bapak berpacaran dengan Alexa," jelas Aresha lagi.
Iya memang benar, hampir seluruh pegawai di kantor, mengetahui jika Devan dan Alexa memiliki hubungan yang khusus. Alexa adalah putri tunggal dari rekan bisnis ayahnya Devan, mereka memang dijodohkan, namun selama ini Devan tidak pernah merespon tentang perjodohan itu, karena Devan sendiri tidak memiliki rasa terhadap Alexa.
Erika yang tau jika putranya tidak menyukai Alexa,memberikan devan waktu selama sebulan untuk mencari pilihannya sendiri.
Tapi jika tidak bisa, maka mereka akan tetap dijodohkan, tapi ternyata Devan bisa memenuhi syarat dari ibunya itu.
"Baik, itu gampang, ada lagi nggak," balas Devan.
"Semoga untuk yang ini, Devan tidak menyanggupinya," gumam Aresha dalam hati.
"Yang ketiga, setelah menikah bapak tidak boleh meminta hak bapak, sebelum saya yang memberikannya," jelasnya lagi, dengan sedikit gugup dan ragu.
Diam, Devan terdiam mendengar syarat dari Aresha yang ketiga.
Tapi bukan Devan namanya, kalau tidak punya cara tersendiri untuk membuat Aresha menyerah.
"Baik, aku setuju, tiga syarat yang kamu ajukan, aku setujui semuanya," jawab Devan mantap.
Aresha terdiam mendengar jawaban dari Devan, niat hati ingin membuat bosnya menyerah, namun justru kini Aresha telah terjebak oleh cinta bos playboy nya itu.
"Deal," seru Aresha sembari mengulurkan tangannya.
Setelah itu, Devan pun kembali duduk di kursi kebesarannya.
"Oya Aresha, hari ini jadwal saya apa saja?" tanya Devan sembari membuka leptopnya.
Aresha pun segera membacakan jadwal Devan untuk hari ini.
"Pukul 11 siang ada rapat penting dengan pimpinan perusahaan Global Korp yang dari Batam, lalu pukul 3 sore ada pertemuan dengan klien bapak yang dari Bali, setelah itu bapak juga ada undangan makan malam oleh keluarga Alexa, itu jadwal bapak hari ini," jelas Aresha.
Devan pun menghela nafas kasar, setelah itu, Devan pun mulai mengerjakan pekerjaannya.
"Baiklah, kamu boleh kembali," ujar Devan.
"Baik, permisi pak," sahut Aresha dan berlalu pergi.
Aresha pun kembali ke tempat kerjanya.
Waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore, rapat berjalan dengan lancar, dan pertemuan dengan klien kerjannya pun juga lancar.
Dan kini Devan tengah bersiap-siap untuk pergi ke rumah Alexa.
Setelah itu, Devan bergegas keluar dari ruangannya dan menuju ke meja kerja Aresha, tanpa permisi Devan langsung menarik tangan sekretarisnya itu yang tengah sibuk membereskan file-file yang berserakan di atas meja.
"Ih, bapak apa-apaan sih, main tarik-tarik aja, saya lagi beresin ini dulu pak," semprot Aresha yang kesal dengan sikap bosnya itu.
"Udah kamu diem aja," ucap Devan tanpa menoleh.
Devan terus menarik tangan Aresha, sampai ke parkiran, di mana mobil Devan berada.
"Cepat masuk," pinta Devan sembari membukakan pintu mobil untuk nya.
Karena malas berdebat dengan bos playboy nya itu, Aresha pun masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
Setelah itu, Devan pun ikut masuk dan bergegas menjalankan laju mobilnya.
"Kita mau kemana sih pak?" tanya Aresha.
"Ke rumah Alexa," jawab Devan.
"Apa, bapak ngapain ngajakin saya ke sana," ujar Aresha kaget.
"Aku mau ngenalin kamu ke keluarga Alexa, kalau kamu adalah calon istriku," jawab Devan santai.
"Tapi pak, nanti mereka pasti akan marah, apa lagi bapak sama Alexa kan udah dijodohkan," ungkap Aresha panik.
"Iya aku tau, tapi selama ini aku sama sekali tidak tertarik sama Alexa, aku cuma tertarik sama kamu," jelas Devan sembari menoleh ke arah Aresha.
Seketika Aresha terdiam, kata-kata Devan yang lembut itu, membuat jantung Aresha berhenti berdetak.
Terasa seperti mimpi, tapi yang ia dengar adalah nyata.
"Bapak serius," ujar Aresha meyakinkan.
"Aku serius, itu sebabnya aku akan mengenalkan mu kalau kamu adalah calon istriku," terang Devan.
Tak terasa mereka telah tiba di sebuah rumah yang sangat mewah dan juga megah.
Devan segera keluar dan diikuti oleh Aresha.
Keduanya pun masuk ke dalam rumah, Alexa dan kedua orang tuanya sedikit heran saat melihat Devan datang dengan sekretarisnya itu.
"Sayang kamu lama banget sih, aku udah nungguin loh dari tadi," ujar Alexa manja.
"Maaf, tadi di jalan macet," jawab Devan.
"Sayang, dia ngapain ikut ke sini?" tanya Alexa sembari menunjuk ke arah Aresha.
"Aku sengaja mengajaknya, memangnya kenapa, kalau kalian keberatan, lebih baik aku pulang," terang Devan dengan nada sedikit kesal.
"Ya sudah, nggak papa, langsung saja ya, nak Devan ayo," sela ibu Sely ibunda Alexa.
Devan pun berjalan dan diikuti oleh Aresha.
Kini mereka sudah berada di meja makan, mereka tengah menikmati makan malam bersama.
"Oya nak Devan, bagaimana kelanjutan hubungan kamu dengan Alexa, kalian ingin langsung menikah atau tunangan terlebih dahulu," ujar pak Jonathan ayahnya Alexa.
Devan pun menghentikan aktivitasnya, ia menaruh sendok dan juga garpu di atas piring.
"Sebelumnya saya minta maaf, mungkin keputusan yang saya buat akan membuat kalian kecewa," ungkap Devan, yang membuat penasaran.
"Sayang maksud kamu apa," sahut Alexa.
"Iya nak Devan, maksudnya gimana," sambung Sely.
"Saya sudah putuskan kalau saya tidak akan menikah dengan Alexa, karena saya sama sekali tidak mencintainya, dan saya sudah menemukan siapa yang akan menjadi istriku." Jelas Devan yang membuat Alexa dan kedua orang tuanya syok.
"Sayang maksudnya apa, kenapa kamu bicara seperti itu," ujar Alexa panik.
"Maaf Alexa, tapi sebelum terlambat, aku memang harus mengatakan ini, aku tidak ingin kamu berharap lebih dariku," terang Devan.
"Siapa calon istrimu," ketus Jonathan.
"Dia adalah calon istriku," jawab Devan sembari menunjuk ke arah Aresha.
Alexa dan orang tuanya sangat kaget, sejak kapan Devan berpindah selera terhadap gadis biasa.
Bukankah selera Devan sangat tinggi, tapi kenapa sekarang seperti ini.
__ADS_1