Terjebak Cinta Bos Playboy

Terjebak Cinta Bos Playboy
Terjebak Cinta Bos Playboy_12


__ADS_3

Marah, sedih, kecewa, cemburu, dan sakit hati telah menjadi satu, dan itulah yang tengah Aresha rasakan.


Istri mana yang tidak sakit hati jika melihat suaminya bermesraan dengan wanita lain di luar sana.


Setegar apa pun seorang wanita jika sudah di hianati pasti akan rapuh juga.


Aresha kini sudah tiba di rumah, ia melangkah dengan malas menuju ke kamarnya.


Setibanya di kamar Aresha langsung menjatuhkan bobot tubuhnya di sofa, ia pandangi langit-langit kamar yang berwarna putih, perasaan yang entah kemana, pikiran yang sudah tidak bisa di kondisikan lagi, kecewa yang ia rasakan sudah berlipat-lipat.


Matanya merah dan sembab karena air matanya lagi-lagi meluncur tanpa meminta izin.


"Aku nggak boleh seperti ini terus, aku nggak boleh cengeng, aku harus kuat, aku harus tegar, sekarang aku akan biarkan kamu bersenang-senang dengan permainan yang kamu buat, tapi cepat atau lambat aku akan buat kamu berkata jujur, dan sejujur-jujurnya," ucap Aresha mantap.


Waktu terasa begitu cepat, sekarang jam sudah menunjukkan pukul 7 malam.


Devan sudah tiba di rumahnya, namun ia heran saat melihat rumahnya masih gelap, dengan perasaan yang khawatir Devan segera masuk ke dalam.


Ternyata pintunya tidak di kunci, perasaannya semakin tak tenang, setelah ia menyalakan lampu rumahnya, Devan bergegas naik ke atas dan menuju ke kamarnya.


Kamar juga masih gelap, segera ia nyalakan lampunya, di lihatlah Aresha tengah tertidur di atas sofa.


Perlahan Devan mendekat dan ia pandangi wajah sang istri dengan seksama.


"Maafin aku Aresha, kamu wanita yang baik, tidak sepantasnya aku menyakitimu, aku janji tidak akan pernah membuat kamu marah dan juga kecewa, aku sangat mencintai kamu," ucap Devan, lalu mencium kening sang istri, lalu membopong tubuh istrinya dan ia baringkan di atas ranjang.


Setelah Devan membersihkan diri, ia pun ikut berbaring di sampingnya.


Cukup lama Devan baru bisa memejamkan matanya.


Pukul 11 malam Aresha terbangun, perutnya yang sejak pagi belum terisi makanan sekarang tengah demo, meminta diisi makanan.


"Duh, laper banget nih," ucap Aresha sembari memegangi perutnya.


Aresha pun bergegas bangun dan segera keluar dari kamar, menuju ke dapur.


Setibanya di dapur, Aresha mencari makanan, namun hasilnya nihil, tak ada makanan yang dapat ia makan.


"Duh, mana nggak ada makanan lagi," keluh Aresha lalu duduk di kursi.


Sementara itu, Devan yang menyadari sang istri tidak berada di sampingnya, segera mencarinya.


Saat Devan tiba di lantai bawah, ia melihat sang istri tengah duduk di ruang makan, Devan pun segera menghampirinya.


"Sayang, kamu lagi ngapain di sini?" tanya Devan seraya berjalan mendekat.


"Laper," jawab Aresha singkat.


"Memangnya nggak ada makanan?" tanya Devan lagi.


Aresha hanya mendengus kesal, Devan yang merasa jika sang istri tengah marah, memilih untuk mencari makanan di almari namun tak ada makanan yang dapat dimakan.


"Aku pesen online saja ya," tawar Devan.


Aresha terdiam, sejenak ia berfikir untuk ngerjain Devan, anggap aja ini balas dendam karena udah bermain perempuan di belakangnya.


"Aku nggak mau pesen online, aku maunya makan di luar," jawab Aresha sedikit jutek.


Devan melirik jam yang berada di dinding, waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam, akan sulit mencari makanan jika sudah larut malam.


"Sayang ini kan sudah malam, mau nyari makan di mana, kita pesan online saja ya," bujuk Devan.


"Ya udah, nggak jadi makan," ketus Aresha dan berjalan meninggalkan Devan yang masih berdiri mematung.


"Ya Tuhan, Aresha kepalanya habis kejedot, atau otaknya geser, kok jadi berubah kayak gitu sih," ujar Devan seraya menatap punggung Aresha.


Setelah itu, Devan bergegas menyusul sang istri ke kamar, setibanya di kamar, di lihatlah Aresha yang tengah berbaring di atas ranjang.


Perlahan Devan pun mendekat.


"Sayang kamu mau makan di mana, ayok aku temenin," ujar Devan dengan lembut.


"Udah nggak laper, udah nggak mood," sahut Aresha dengan nada jutek.


Kemudian Aresha menarik selimutnya dan menutupi tubuhnya lalu mencoba memejamkan matanya.


Devan hanya menggeleng pasrah,

__ADS_1


tidak ingin berdebat lagi, ia pun naik ke atas ranjang dan duduk di samping sang istri.


"Sayang, aku minta maaf ya, aku tau, kamu pasti marah, aku janji, nggak akan buat kamu marah lagi, kamu mau kan maafin aku," bujuk Devan dengan lembut. Tapi Aresha sama sekali tidak menanggapinya.


Merasa terabaikan, Devan memutuskan untuk berbaring di samping istrinya itu, dan mencoba ikut memejamkan mata.


"Aku bisa saja maafin kamu, tapi sebelum itu, aku ingin kamu tau bagaimana rasanya di abaikan." Batin Aresha.


_________


Keesokan harinya, Aresha bangun lebih awal, setelah selesai membersihkan diri dan berpakaian, tak lupa Aresha menyiapkan baju kerja untuk Devan, ia letakkan di atas ranjang, setelah itu, Aresha bergegas menuju ke dapur untuk membuat kopi.


Selang 10 menit Devan selesai membersihkan diri, ia pun berjalan keluar sembari menggosok rambutnya yang masih basah dengan handuk kecil.


Devan tersenyum saat melihat baju kerjannya sudah tersedia di atas ranjang, semua kebutuhan pribadinya, Aresha selalu menyiapkan nya.


"Meski kamu tengah marah, tapi kamu tetap perhatian, aku bangga punya istri seperti kamu," batin Devan.


Setelah itu Devan segera memakai pakaian nya, tak butuh waktu lama ia telah selesai berpakaian.


Kini Devan tengah berdiri di depan cermin, tangannya tengah berkutat dengan kain panjang yang melingkar di lehernya.


Hampir 20 menit Devan belum berhasil memasang dasinya itu.


Aresha yang tengah berdiri di ambang pintu, hanya bisa tersenyum saat melihat sang suami tengah berusaha memasang dasinya itu.


Merasa kasihan, akhirnya i


Aresha pun mendekati Devan dan langsung mengambil alih dasinya itu, Devan hanya diam, justru ia senang karena bisa memandang wajah istrinya dari dekat.


"Kalau tidak bisa nggak usah sok, entar yang ada lehernya kecekik," cibir Aresha sembari memasangkan dasi tersebut.


Devan hanya terdiam mendengar cibiran dari sang istri, ia sama sekali tidak tersinggung.


Cukup 5 menit, Aresha selesai memasang dasi itu, ia pun bergegas untuk keluar, namun tiba-tiba Devan menarik tangan Aresha lalu dengan cepat, Devan memeluk pinggang sang istri, tak ada jarak lagi antara keduanya, deru nafas Devan menyapu wajah Aresha.


Berada sedekat itu, buru-buru Aresha mengatur nafasnya dan mengatur ritme jantungnya.


"Tolong jangan diemin aku seperti ini, aku tidak sanggup, sayang," bisik Devan, sembari menempelkan hidungnya ke hidung sang istri.


Aresha hanya diam mematung, matanya terpejam merasakan deru nafas sang suami yang semakin terasa sangat memabukkan, namun saat Aresha membuka matanya, terlihat Devan hendak mencuri bibirnya, dengan segera Aresha melepaskan diri dari suaminya itu.


Devan hanya menghela nafas kasar, namun ia tersenyum saat melihat ekspresi wajah Aresha yang terlihat panik dan gugup.


Setelah itu, tak lupa Aresha mengambil jas milik suaminya itu, lalu memakaikan nya.


"Terima kasih cantik," ucap Devan, lalu mencium singkat bibir sang istri.


Wajah Aresha langsung merah padam, seperti ada sengatan listrik yang membuat ia terkejut.


Satu jam kemudian, mobil yang Aresha dan Devan tumpangi sudah tiba di pelataran kantor, tanpa menghiraukan sang suami, Aresha keluar dari mobil dan segera berjalan masuk ke dalam.


Devan di buat melongo oleh istrinya sendiri, ia pun keluar dari mobil dan menatap punggung sang istri yang terus berjalan tanpa menoleh.


"Ya Tuhan, apa lagi ini, dia seperti bukan Aresha," gumam Devan dalam hati.


Setelah itu, Devan pun bergegas masuk ke dalam.


Saat ia berjalan menuju ke ruangan nya, banyak karyawan yang menyapa dan memberi nya hormat, namun saat Devan melewati meja kerja Aresha, jangan kan menyapa, melirik pun nggak, justru terlihat sibuk dengan layar leptopnya.


Devan hanya menggelengkan kepalanya melihat sikap istrinya yang seperti itu.


"Sha, kamu kenapa sih, itu tadi pak bos lewat kamu diam saja, jangan kan menyapa, beri hormat juga tidak," ujar Sinta teman kerja Aresha.


"Nggak papa, lagi betmut aja," sahut Aresha santai.


Sinta hanya menggelengkan kepalanya, setelah itu ia kembali ke mejanya lagi.


Tepat pukul 10 pagi, Aresha datang ke ruangan Devan, ia membawa beberapa berkas yang harus di tanda tangani oleh pak bos, seperti biasa tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Aresha langsung masuk ke dalam.


"Permisi pak, ada beberapa berkas yang harus bapak tanda tangani," ucap Aresha sembari meletakkan berkas tersebut di atas meja.


Devan yang sedari tadi fokus terhadap layar komputernya, kini ia mendongakkan kepalanya, dan menatap wanita yang tengah berdiri di depannya.


Setelah itu, Devan pun bangkit dari duduknya dan mendekati sang istri.


"Aresha apa kamu masih marah sama aku, tolong jangan diemin aku seperti ini, kita bisa kan bicarakan ini baik-baik, aku tersiksa dengan sikap kamu yang seperti ini," ungkap Devan. Lalu menggenggam erat tangan Aresha.

__ADS_1


Aresha terdiam, ia langsung mengalihkan pandangannya.


Takut akan ada karyawan lain yang melihatnya, Aresha langsung melepas genggaman tangan Devan.


"Maaf pak, saya permisi dulu, jika berkas ini sudah di tanda tangani, nanti Sinta yang akan mengambil nya," tegas Aresha, dan berlalu pergi dari hadapan sang bos.


Diam, Devan benar-benar tidak habis pikir, kenapa sikap Aresha berubah seperti itu, sakit yang ia rasakan, Devan merasa terpuruk mendapat perlakuan seperti dari sang istri.


Padahal sebelumnya, Devan tidak pernah merasa seperti itu, jika para kekasihnya bersikap acuh, bermesraan dengan lelaki lain di depan mata sekalipun, Devan tidak merasa sedih dan marah.


Namun berbeda dengan Aresha, entah candu apa yang dia tebarkan, sampai-sampai Devan seperti itu.


Dadanya bergemuruh menahan emosi, setelah Aresha keluar dari ruangan nya, dengan nafas yang naik turun seperti roller coaster.


Tiba-tiba Devan menggebrak meja kerjanya dengan sangat keras, file-file dan berkas ia lempar ke sembarang arah, setelah itu sebuah vas bunga ia lempar ke dinding.


Praaaannnggg.


"Arrrgghht, kenapa ini terjadi padaku, apa salah aku," erang Devan seraya mengacak-acak rambutnya.


Devan benar-benar merasa frustasi, Aresha yang mendengar suara itu, bergegas masuk ke dalam ruangan Devan.


Aresha terkejut saat melihat keadaan bos sekaligus suaminya itu.


Terlihat Devan terduduk di lantai, dengan keadaan yang sudah berantakan, ruangan nya pun demikian, beberapa file dan berkas sudah berserakan di lantai, vas bunga yang sudah pecah berkeping-keping, melihat itu, Aresha buru-buru menutup pintu ruangan Devan.


"Tidak sepantasnya bapak bersikap seperti ini," ujar Aresha sembari berjalan menghampirinya.


"Apa peduli kamu terhadap aku," ucap Devan tanpa menatap sang istri.


"Aku peduli karena, karena aku istri kamu," ucap Aresha yang membuat Devan sedikit tercengang.


Devan pun bangkit, lalu menatap tajam ke arah sang istri, matanya merah, dan terlihat ada bekas cairan bening di ekor matanya.


"Kalau kamu istri aku, sekarang jawab kenapa kamu bersikap seperti ini terhadap aku, kalau aku punya salah, tolong katakan di mana letak kesalahannya, jangan diemin aku seperti ini, aku tidak sanggup dengan sikap dingin dan acuh kamu," ungkap Devan sembari mencengangkan kedua bahu Aresha.


"Devan, kamu bisa nggak jangan kasar seperti ini, lagi pula ini kantor, bukan rumah," ujar Aresha mengingatkan.


"Aku tidak peduli ini kantor, atau tempat umum sekalipun, sekarang jawab pertanyaan aku, Aresha," ucap Devan dengan sedikit berteriak.


Merasa tidak tahan dengan sikap Devan, tiba-tiba Aresha melayangkan satu tamparan tepat di pipi kanan Devan.


Devan terdiam, setelah itu tanpa di duga Devan langsung memeluk Aresha dengan sangat erat, Aresha sangat bingung dengan sikap suaminya itu.


"Devan otaknya udah geser atau gimana, kok jadi aneh gini sih," batin Aresha.


"Devan kamu baik-baik saja kan, kamu nggak papa kan, atau jangan-jangan otak kamu udah geser ya," ucap Aresha sedikit gugup.


Mendengar itu, Devan langsung melepas pelukannya.


"Kamu pikir aku gila apa," ujar Devan sedikit sewot.


"Hehe, nggak kok," jawab Aresha cengengesan.


"Kamu masih marah sama aku?" tanya Devan, dengan wajah yang serius.


Aresha hanya menggelengkan kepalanya lalu tersenyum.


"Makasih ya sayang," ucap Devan lalu mencium kening Aresha.


Setelah itu, Devan kembali memeluk tubuh ramping istrinya itu.


Senyum pun terukir diantara keduanya.


Waktu berjalan begitu cepat, malam harinya Devan tengah sibuk dengan layar leptopnya, sementara Aresha sudah terlelap di atas ranjang.


Devan nampak sibuk dengan kerjaan yang masih menumpuk, ia bisa saja meminta bantuan kepada Aresha, tapi Devan tidak mau merepotkan sang istri.


Pukul 11 malam, Devan mensudahi pekerjaannya, ia pun naik ke atas ranjang dan berbaring di samping sang istri, sebelum Devan tidur, terlebih dahulu ia mencium kening sang istri dengan sangat lembut.


"Good night istriku," ucap Devan lalu berbaring dan memeluk sang istri.


Pukul 2 dini hari, Aresha terbangun lantaran terganggu karena handphone Devan berbunyi.


"Duh, siapa sih yang nelfon malam-malam begini," ucap Aresha, dengan mata yang masih terpejam.


Dengan terpaksa Aresha pun bangun, lalu mencari handphone Devan yang sedari tadi berbunyi.

__ADS_1


Mata yang awalnya malas untuk si buka, setelah melihat layar handphone Devan tiba-tiba matanya melotot sempurna, saat tau siapa yang menelepon suaminya itu.


__ADS_2