Terjebak Cinta Bos Playboy

Terjebak Cinta Bos Playboy
Terjebak Cinta Bos Playboy_2


__ADS_3

Aresha meringis kesakitan, meski tidak berdarah, tapi tetap saja terasa sakit.


"Aduh, bapak saya belum mau mati, saya belum nikah, hati-hati dong pak kalau nyetir," omel Aresha sembari memegangi dahinya.


"Sorry-sorry, tadi ada kucing lewat," jawab Devan.


Setelah itu, Devan pun mulai menjalankan mobilnya kembali.


Tak lama kemudian, akhirnya tiba di kos-kosan Aresha.


Ia pun segera turun dari mobil.


"Aresha, besok jangan sampai lupa," ucap Devan mengingatkan.


"Iya pak, saya ingat kok," jawab Aresha kesal.


"Ya sudah, aku pulang dulu," balas Devan, lalu beranjak pergi.


Setelah mobil Devan menghilang dari pandangan Aresha, ia bergegas masuk ke dalam.


Tak terasa, waktu berjalan lebih cepat, pagi ini Aresha nampak terburu-buru, pasalnya, ia bangun lebih siang dari biasanya, setelah selesai mandi dan berpakaian, Aresha langsung menyambar tas yang biasa ia bawa ke kantor, tanpa memperhatikan penampilannya, Aresha bergegas pergi ke rumah bosnya itu.


Sesampainya di sana, Aresha langsung berlari masuk ke dalam, di lihatnya sang bos tengah duduk di sofa, sembari memainkan ponselnya.


"Kamu telat 10 menit," ucap Devan, tanpa menolehnya.


"Cuma 10 menit pak, bukan 10 jam," jawab Aresha, yang masih ngos-ngosan.


Kemudian Devan, berdiri lalu menghampiri Aresha, dan seperti biasa, ia melempar dasinya pada sekretarisnya itu.


Aresha yang sudah paham, bergegas mengambil dasi tersebut, lalu memakaikannya pada bosnya itu.


"Bapak buruan nikah dong, biar ada yang ngurusin bapak, jadi saya nggak repot tiap pagi harus lari maraton," ujar Aresha dengan nada sedikit kesal.


"Saya maunya kamu yang ngurusin, bukan orang lain," jawab Devan, yang membuat Aresha sedikit gugup.


"Udah selesai pak," ujar Aresha, setelah selesai memakaikan dasi pada bosnya itu.


"Aresha, ada yang ketinggalan," katanya, sembari menunjuk arloji yang terletak di atas meja.


Aresha memutar bola matanya malas, ia tak habis pikir, pekerjaan seringan itu aja nggak bisa, atau memang dia malas.


Aresha pun langsung mengambil arloji itu, lalu memakaikan di pergelangan tangan Devan.


"Manja banget sih bapak, pake jam tangan aja nggak bisa," gerutu Aresha.


Sementara itu, Devan hanya diam lalu tersenyum, dan menurut layaknya anak kecil yang sedang mendengarkan nasehat dari ibunya.


"Terima kasih cantik," bisik Devan, tepat di telinga Aresha.


Mata Aresha melotot sempurna, pipinya pun langsung merah seperti tomat rebus, merasa malu, Aresha langsung menundukkan wajahnya.


"Kok tiba-tiba pipiku jadi merah ya, apa jangan-jangan aku alergi," sindir Devan, sembari memakai jasnya.


Merasa tak tahan lagi dengan tingkah bos playboy nya itu, Aresha segera menyambar tasnya yang ia letakkan di sofa, lalu bergegas berjalan keluar.


"Udah siang pak, nanti kita terlambat." Ucap Aresha seraya berjalan keluar.


Devan hanya terkekeh melihat tingkah sekretarisnya itu, lalu Devan pun segera berjalan mengikuti Aresha.


Setibanya di halaman depan rumah,


Devan langsung menyerahkan kunci mobilnya.


"Kamu yang bawa ya," pinta Devan.


Dengan amat malas, Aresha menerima kunci mobil tersebut, dan bergegas masuk ke dalam, begitu juga dengan Devan.

__ADS_1


Aresha memilih diam, dan lebih fokus untuk menyetir, Devan pun demikian, ia terlihat sibuk dengan handphonenya, jarinya nampak tak ada hentinya berkutat dengan benda pipih itu.


"Tuh orang lagi ngapain sih, dari tadi sibuk banget, pasti lagi chat sama pacarnya yang selusin itu," batin Aresha, dan sekilas melirik ke arah bosnya itu.


"Jangan lirik-lirik, entar lama-lama jadi tertarik," sindir Devan, yang sadar dengan lirikan sekretarisnya itu.


Merasa tersindir, Aresha langsung menatap lurus ke depan.


Sementara itu, Devan hanya terkekeh melihat ekspresi wajah sekretarisnya itu.


Kini mereka telah tiba di kantor, tanpa berbicara Aresha bergegas masuk ke dalam, dan menghiraukan sang bos yang masih berada di dalam mobil.


Waktu berjalan begitu cepat, waktu makan siang pun telah tiba, Aresha tengah siap-siap untuk keluar makan siang, namun langkahnya terhenti, saat mendengar namanya terpanggil, ia pun menoleh ke sumber suara tersebut.


"Ada apa pak, saya buru-buru mau makan siang dulu," ucap Aresha.


Tanpa menjawab, Devan langsung menarik tangan Aresha, ia nampak bingung dengan bosnya itu, meski Aresha terus memberontak, namun tenaga Devan lebih kuat darinya, Aresha pun memilih untuk mengalah.


"Cepat masuk," pinta Devan.


Aresha pun segera masuk ke dalam mobil, begitu juga dengan Devan, setelah itu, Devan bergegas melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


"Mau kemana sih pak, saya kan mau makan siang, kok malah bapak bawa pergi?" tanya Aresha.


Devan tetap diam, dan terus fokus menyetir, merasa di acuhkan, Aresha pun memilih untuk diam.


Selang 30 menit perjalanan, mereka telah tiba di depan toko emas, mata Aresha melotot, hatinya pun tak berhenti bertanya-tanya.


Setelah mobil berhenti, Devan langsung mengajak Aresha untuk turun.


"Cepat turun," pinta Devan.


Setelah keduanya turun, Devan langsung menggandeng tangan Aresha dan masuk ke dalam toko.


"Aresha, tolong pilihkan 2 kalung yang paling bagus," pinta Devan pada Aresha.


"Buat apa pak?" tanya Aresha bingung.


"Oh," jawab Aresha singkat.


Kemudian Aresha mulai memilih kalung yang paling bagus, dan model yang paling unik, setelah beberapa menit, akhirnya Aresha menemukan 2 kalung seperti yang Devan inginkan.


"Ini pak," ucap Aresha sembari menunjuk 2 kalung yang telah ia pilih.


"Lumayan, menurutmu yang paling bagus mana?" tanya Devan.


"Menurut aku sih yang ini pak," jawab Aresha, seraya menunjuk satu kalung yang menurutnya paling bagus.


"Ok, mba saya ambil 2 ya, yang ini mba bungkus," ujar Devan kemudian.


Devan mengambil kalung yang satunya, yang menurut Aresha paling bagus, lalu Devan memasang kalung itu di leher Aresha.


"Loh pak, apa yang bapak lakukan," ujar Aresha terkejut.


"Udah diem aja, sangat cocok di pake kamu, semakin cantik," ucap Devan setelah selesai memasang kalung tersebut di leher Aresha.


"Tap-tapi pak, kalung ini kan buat," ucap Aresha yang terpotong oleh Devan.


"Ini buat kamu, dan yang itu buat Irene," jelas Devan.


Setelah itu Devan segera membayar nya, dan bergegas pergi ke acara ulang tahun kekasihnya itu, dan yang pasti, Aresha juga ikut serta.


"Loh pak, kita mau kemana lagi, kok belok sih?" tanya Aresha, yang merasa bingung.


"Kita ke acara ulang tahun Irene dulu, nanti setelah itu kita kembali ke kantor," jelas Devan.


"Ngapain bapak bawa saya ke sana, nanti pacar bapak marah, saya juga yang kena," protes Aresha.

__ADS_1


"Kamu tenang saja, tidak ada yang bisa marahin kamu," tutur Devan.


Setelah lebih dari 50 menit perjalanan, akhirnya mereka tiba di sebuah rumah yang cukup mewah, rumah yang sudah dihiasi sedemikian rupa, tanpa basa-basi, Devan langsung menggandeng tangan Aresha dan berjalan masuk kedalam.


Irene yang melihat sang kekasih datang, dengan senyum yang mengembang ia berjalan menghampiri Devan.


"Sayang kok baru datang sih, untung acaranya belum dimulai," ujar Irene manja.


"Aku sedang sibuk, oya ini hadiah yang kamu minta," ucap Devan, lalu memberikan sebuah kotak sedang yang berhiaskan pita.


Dengan senyum yang terus mengembang, Irene menerima kotak tersebut, lalu membukanya dengan segera, matanya berbinar-binar saat melihat isi didalamnya.


"Wah sayang, bagus banget, makasih ya," ucap Irene dengan senyum manisnya.


Saking senangnya, Irene berniat ingin mencium pipi Devan, namun dengan segera, Devan memberikan kode agar dia tak melakukan itu.


Irene pun langsung memanyunkan bibirnya, ia merasa sedikit kecewa.


"Buruan acaranya dimulai, aku nggak bisa lama-lama disini," ucap Devan sedikit jutek.


"Ya udah, kita mulai sekarang aja," jawab Irene, penuh dengan semangat.


Irene pun segera memulai acaranya, namun tiba-tiba pesan masuk ke handphone Devan, dengan cepat ia segera membacanya.


Setelah membaca pesan tersebut, Devan yang memang berdiri disamping Aresha, segera membisikkan sesuatu.


"Kita harus segera pergi dari sini, pak Aldy sudah menunggu kita di kantor, lakukan sesuatu," bisik Devan.


Aresha pun manggut-manggut, pertanda ia paham dengan maksudnya bosnya itu.


Aresha pun berjalan menjauh dari Devan, ia mengambil satu gelas jus yang sudah tersedia.


Saat mereka tengah bernyanyi *selamat ulang tahun* Aresha menyelinap ke tengah-tengah, Devan yang tau dengan rencana Aresha, dengan sengaja mendorong tubuh Aresha hingga mengenai tubuh Irene, alhasil jus itu pun tumpah di gaun yang Irene pakai, tapi bukan itu saja, karena dorongan yang sedikit keras, wajah Irene sampai mengenai kue yang berada dihadapannya.


Devan yang melihatnya, hanya bisa menahan senyum, namun tidak dengan yang lain, mereka tertawa melihat wajah Irene yang dipenuhi oleh kue tersebut.


"Dasar gadis kampung, lo sengaja ya mau ngerusak acara gue iya!" Bentak Irene dengan menatap tajam ke arah Aresha.


"Sorry-sorry, aku nggak sengaja," ujar Aresha seraya menahan tawanya.


"Nggak usah bohong, lo emang sengaja kan, lo iri sama gue kan," geram Irene, lalu mendorong tubuh Aresha hingga terjatuh.


"Auh," rintih Aresha.


Irene pun hendak melayangkan pukulannya, namun dengan sigap Devan menepis tangan Irene.


"Berani kamu nyentuh Aresha, kamu akan rasakan akibatnya," ancam Devan dengan nada sedikit tinggi.


Irene bingung dengan sikap kekasihnya itu.


Lalu Devan pun jongkok dan membantu Aresha untuk bangun, tapi Devan sedikit terkejut, dengan drama yang tiba-tiba Aresha mainkan.


"Aduh pak, kaki saya sakit banget, saya nggak bisa berdiri," rintih Aresha berpura-pura, dan langsung menyenderkan kepalanya di bahu Devan.


"Aresha, kaki kamu sakit, kamu nggak papa kan," ujar Devan panik.


Tiba-tiba saja, tubuh Aresha melemas dan matanya terpejam.


Irene semakin heran dengan sekretaris Devan itu, sungguh diluar dugaan.


"Aresha, kamu nggak papa kan," ucap Devan, seraya menepuk-nepuk pipi Aresha.


"Cepat angkat tubuh saya pak, tadi bapak bilang pengen cepet pergi dari sini," bisik Aresha, tepat ditelinga Devan.


Devan yang mendengarnya, dengan segera mengangkat tubuh mungil sekretarisnya itu, lalu bergegas keluar dari rumah Irene.


"Loh sayang, kamu mau kemana, acaranya belum selesai, sayang tunggu," teriak Irene.

__ADS_1


"Sayang tunggu," teriaknya lagi.


Tapi Devan terus berjalan keluar, tanpa menghiraukan teriakkan kekasihnya itu.


__ADS_2