
Dalam perjalanan Devan terus mendekap tubuh ramping Aresha agar merasa lebih tenang.
"Kalau Aresha pulang ke kos-kosannya, aku takut akan terjadi sesuatu lagi, dia kan sendirian, lebih baik aku bawa ke rumah saja," batin Devan, sembari mengecup pucuk kepala Aresha.
Tak butuh waktu lama, Devan tiba di rumahnya, dengan segera ia membawa Aresha masuk ke dalam rumah, namun langkah Devan terhenti saat melihat seorang gadis tengah duduk di sofa ruang tamu.
"Alice, kamu ngapain disini?" tanya Devan heran.
Seketika Alice bangkit dari duduknya dan langsung menghampiri Devan.
"Devan, kamu dari mana saja sih, aku nungguin kamu dari tadi," ujar Alice sedikit manja.
"Sayang, perempuan ini siapa?" tanya Alice saat menyadari Devan tengah membopong seorang perempuan.
"Bukan siapa-siapa," ketus Devan dan beranjak masuk ke dalam kamar.
Setelah Devan membaringkan tubuh Aresha, tak lupa menyelimuti nya, setelah itu Devan pun keluar dari kamar dan turun kebawah untuk menemui Alice.
"Sayang, siapa sebenarnya perempuan tadi, atau jangan-jangan dia pacar baru kamu, iya," cerca Alice yang membuat Devan sedikit kesal.
"Itu bukan urusan kamu," ujar Devan cuek.
"Kamu ngapain ke sini," sambung Devan.
"Aku cuma mau ngasih ini sama kamu," kata Alice sembari menyodorkan sebuah amplop pada Devan.
Seketika Devan mengernyitkan keningnya, di ambillah amplop tersebut, dengan perlahan, Devan membuka amplop tersebut.
"Amplop apa ini?" tanya Devan.
"Kamu baca sendiri aja," sahut Alice.
Dengan rasa penasaran yang tinggi, Devan pun membuka lipatan kertas itu, dan setelah terbuka, ia pun mulai membacanya.
Setelah Devan membaca isi kertas itu, matanya seketika membulat sempurna, rasa tak percaya dengan apa yang baru saja ia baca.
"Alice kamu jangan mengada-ada ya, ini pasti kerjaan kamu saja," ujar Devan dengan nada tinggi.
"Sayang aku nggak mengada-ada, itu semua nyata, masa kamu nggak percaya sih sama aku," jelas Alice.
"Sekarang kamu pergi dari sini," usir Devan seraya mendorong tubuh Alice agar keluar dari rumahnya.
"Ok aku akan pergi, tapi lain kali aku akan datang lagi," pasrah Alice.
Setelah Alice pergi, Devan langsung menutup rapat pintu rumahnya.
Devan benar-benar tidak menyangka, kalau Alice datang dengan membawa masalah.
"Ya Tuhan, kenapa ini harus terjadi, kalau Aresha sampai tau, dia pasti akan membenciku," gumam Devan.
Setelah itu, Devan melipat kembali kertas itu, dan ia masukkan lagi ke dalam amplop, lalu bergegas Devan menyimpan amplop tersebut.
__ADS_1
Berharap Aresha tidak akan mengetahuinya.
Setelah itu, Devan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
Selang beberapa menit, Aresha terbangun, ia pun mengerjap-ngerjap kan matanya, diedarkan pandangan nya.
"Aku di mana," gumam Aresha seraya melihat sekelilingnya.
Tiba-tiba saja Devan keluar dari kamar mandi, sontak Aresha menjerit lantaran melihat bosnya hanya mengenakan handuk sebatas pinggang.
"Aaaaa," jerit Aresha yang langsung menutup matanya dengan kedua telapak tangannya.
"Sha, kamu udah bangun," ujar Devan dan bergegas menghampirinya.
"Bapak pake baju dulu," pinta Aresha yang masih menutup matanya.
"Iya iya, sebentar," jawab Devan lalu beranjak menuju ke ruang ganti.
5 menit kemudian, Devan sudah rapi dengan kaos lengan panjang dan celana jeans panjang.
"Udah buka matanya," pinta Devan.
Perlahan Aresha pun membuka matanya, dan dilihatnya sang bos sudah rapi.
"Bapak habis ngapa-ngapain saya ya, kok saya bisa ada di kamar bapak," tuduh Aresha dengan menutupi tubuhnya dengan selimut sampai ke dada.
Devan terkekeh mendengar pertanyaan yang Aresha lontarkan.
Aresha terdiam dan mencoba mengingat kejadian siang tadi, seketika air matanya menetes saat mengingatnya.
Melihat Aresha menangis, Devan pun mendekatinya dan duduk di sebelahnya.
"Sudah kamu jangan sedih lagi ya, aku minta maaf karena aku tidak bisa menjaga kamu," sesal Devan lalu memeluk tubuh Aresha sangat erat.
"Ini bukan salah bapak, jadi bapak tidak perlu minta maaf," ujar Aresha dengan suara seraknya.
Setelah Aresha tenang, Devan pun melepas pelukannya, menghapus air mata yang mengalir di pipinya.
"Ya sudah jangan nangis lagi ya," ucap Devan dengan lembut.
Aresha hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum tipis.
"Kenapa bapak nggak anterin aku pulang, malah bapak bawa aku ke sini?" tanya Aresha.
"Iya, aku takut kamu di kos-kosan kan sendirian, jadi aku bawa kamu ke sini," jawab Devan dan di balas anggukan oleh Aresha.
"Ya sudah, kamu istirahat saja ya, aku mau kebawah dulu," ujar Devan kemudian.
Setelah Devan menyelimuti tubuh Aresha, ia pun bergegas keluar dari kamar.
Devan berniat ingin pergi, namun hatinya menolak, ia khawatir akan Aresha.
__ADS_1
Akhirnya Devan memutuskan untuk duduk santai di depan televisi.
Hari telah berganti, dan hari ini adalah hari di mana telah ditunggu-tunggu oleh Aresha dan juga Devan.
Iya hari ini adalah hari pernikahan mereka, segala sesuatu telah disiapkan, keluarga Aresha pun telah tiba di Jakarta.
Saat Aresha berjalan menghampiri Devan, semua mata tertuju padanya, kebayak berwarna putih telah melekat indah ditubuh Aresha, dipadu dengan kain jarik yang melilit pinggangnya sampai kebawah.
Devan pun sangat takjub dengan kecantikan wanita yang sebentar lagi akan menjadi istrinya itu.
Kini Devan dan Aresha telah duduk bersanding menghadap ke bapak penghulu.
Acara ijab qobul pun akan segera dimulai.
"Saya nikahkan dan kawinkan saudara dengan Aresha Syaquila binti Irman Widodo dengan mas kawin tersebut dibayar tunai," ucap pak penghulu.
"Saya terima nikah dan kawinnya Aresha Syaquila binti Irman Widodo dengan mas kawin tersebut dibayar tunai," jawab Devan dengan sangat lantang.
"Sah" ucap para tamu undangan dengan serentak.
Setelah itu, Aresha mencium punggung tangan Devan sebagai tanda bakti istri kepada suaminya.
Lalu tak lupa Devan pun mengecup kening Aresha.
Kini keduanya telah berdiri di atas pelaminan, mereka tengah menyambut tamu yang memberinya ucapan selamat.
Senyum tak pernah pudar dari keduanya, meski dalam hati Aresha ada yang mengganjal, tapi ia tetap bersikap tenang, ia tidak ingin mengecewakan kedua keluarganya.
Begitu juga dengan Devan, sejak kedatangan Alice ke rumahnya pikirannya menjadi tidak tenang.
Di lain sisi, seorang wanita tengah melihat kebahagiaan Devan dan Aresha dari kejauhan.
Dadanya terasa sakit saat melihat lelaki yang dicintainya bersanding dengan wanita lain.
Siapa lagi jika bukan Alexa, rasa amarah telah menguasai hatinya, dendam karena cinta.
Saat hati tengah emosi, tiba-tiba datang seorang pengamen dan tanpa permisi pengamen tersebut menyanyikan sebuah lagu yang membuat Alexa menahan geram.
"Harusnya aku yang di sana dampingi mu dan bukan dia, harusnya aku yang kau cinta dan bukan dia" belum sempat pengamen itu meneruskan liriknya, tiba-tiba sebuah sepatu melayang mengenai wajahnya.
Iya pengamen itu menyanyikan lagu yang di populerkan oleh band Armada.
Alexa merasa tersinggung dengan lagu tersebut, emosinya tak dapat ia tahan lagi.
"Eh lo sengaja ngejek gue ya, dasar pengamen sialan!" Bentak Alexa dengan amarah yang memuncak.
"Maaf mba, saya nggak tau kalau mba lagi patah hati," ujar pengamen itu dengan terus meminta maaf.
"Maaf, maaf, pengen gue timpuk lagi hah, sekarang pergi dari sini!" Gertak Alexa.
Dengan cepat pengamen itu berlari terbirit-birit, saat Alexa mengangkat satu sepatutnya lagi, dan siap melayang di wajahnya.
__ADS_1