Terjerat Godaan Tetangga

Terjerat Godaan Tetangga
Tuan Muda Roy


__ADS_3

Sesampainya di cafe, Jerome memimpin diskusi.


"Bagaimana ini, jika kita memergoki dia mencuri uang itu pasti dia akan semakin sedih. Solusi apa yang bisa kita lakukan sekarang?" tanya Jerome.


"Benar. Aku mengenal Rora dia adalah wanita baik dengan kondisinya seperti itu , dia jarang sekali mengeluh apalagi sampai meminta bantuan kepadamu. Dia memang gadis kuat. Aku kasihan kepadanya tapi aku juga belum memiliki uang sebanyak itu untuk membantunya" jawab Alexandra.


"Apa kita kumpulin uang diantara panitia, mungkin mereka bisa bantu ngumpulin uang $6500 itu?" saran Martin langsung mendapatkan pukulan di pundaknya dari Roy.


"Yang benar aja lu bro. Makin gede masalahnya kalau sampek melibatkan panitia sebanyak itu" sahut Roy dengan gaya slengekannya yang masih membuat dia terlihat menjadi badboy.


"Ya gak usah mukul mukul kali, Roy!" protes Martin.


"Haha, maaf. Udah kebiasaan kalau sama gengku saling pukul gitu hihi" ucap Roy cengegesan.


"Itu kan gengmu. Kita panitia bukan geng mu" sahut Martin dengan wajah kesal.


"Iya maaf maaf" ujar Roy akhirnya merasa bersalah.


"Udah udah, kalian bertengkar aja. Cari solusi yang solutif daripada rame" tegas Jerome.

__ADS_1


"Roy tuh yg bikin masalah" sela Alexandra membela Martin.


"Cieee ciee , lu dibelain sama Alexandra tuh bro" sindir Roy.


Martin diam aja, Jerome pun hanya bisa menghembuskan nafas kasar karena keributan antar temannya ini. Ia pun diam menunggu teman temannya pun diam.


Sesaat kemudian ketika melihat Jerome dengan wajah serius, Roy Martin dan Alexandra pun kembali fokus.


"Udah ramenya? Kalau udah kita lanjutin diskusinya" ucap Jerome.


"Hmmm, kalian terlalu mikir serius deh. Padahal didepan kalian sudah terlihat seseorang yang bisa bantu" ucap Roy dengan senyum smirk.


"Coba tebak" ujar Roy memberi tebakan dengan senyuman menyeringai.


"Jangan bilang kamu bisa bantu kita?" tebak Martin dengan tatapan tak percaya.


"Binggo. Pintar juga lu bro. Ya, aku bisa bantu kalian dengan uang $6500 itu. Biarkan aku membantu kalian. Udah sekarang gak usah mikir serius , kita makan cemilan dan minum dengan tenang" jawab Roy enteng tanpa merasa keberatan.


"Kamu beneran, Roy? Kamu gak akan minta ganti rugi ke kita kan?" tanya Jerome memastikan, karena aneh saja Roy menjadi sebaik ini.

__ADS_1


"Beneran. Ya nggak lah. Emang kalian bisa ngasih ganti rugi apa ke aku. I'm rich man, bro. Santai aja" sombong Roy.


"Iya percaya percaya. Bapaknya ada pemilik perusahaan IT terbesar di Brooklyn, ibunya direktur keuangan Bank Internasional, ya jelas uang segitu tidak berarti untuk anak karya sepertimu, Roy" ujar Alexandra.


"Hahaha. Kalau kalian dari tadi sadar siapa aku pasti gak sampek masuk gang kecil tadi" cibik Roy.


"Itu karena kita gak ingin memanfaatkan kekayaanmu, Roy. Kita menghargai kamu sebagai sesama panitia. Lagi pula kalau kita tidak masuk gang tadi, mana mungkin tau kisah Rora dan perjuangannya" sahut Jerome.


"Iya iya" ucap Roy mengalah.


"Oke, clear. Masalah kehilangan uang $6500 sudah terselesaikan atas bantuan tuan muda Roy" puji Alexandra yang juga merasa lega karena kehilangan uang itu juga akibat dari keteledorannya.


"Nanti aku kirim ke rekening penyimpanan dana iuran satunya ya, Dra. Kasih aku rekeningnya" sahut Roy.


"Oke siap, bos" ujar Alexandra.


"Nanti setelah acara wisuda selesai baru kita urus itu si Rora" ucap Martin mengingatkan inti permasalahannya.


"Bener. Akan kita urus dia setelah acara ini selesai dan dia pun bisa fokus merawat ibunya seminggu ini" sahut Jerome.

__ADS_1


Keempat anak muda itu pun akhirnya bisa lega dan menikmati hidangan cafe dengan nyaman.


__ADS_2