
Lama waktu operasi itu, sekitar dua jam, akhirnya selesai juga.
Lampu dimatikan pertanda operasi sudah benar-benar selesai.
Xing Fug duduk dengan kondisi keringan membanjiri pelipisnya. "Uh... akhirnya selesai. Hei, ini peralatan belum kau masukkan!" Perintah Xing Fug pada sang suster saat salah satu peralatan operasi yang ia pegang lupa dimasukkan ke tempat asalnya.
Xing Fug menatap wajah tuan Ruli yang masih terpejam akibat obat bius yang ia suntikan sebelum operasi. "Pindahkan keruangan ICU" Perintah Xing Fug lagi pada suster yang ikut bertugas.
Xing Fug lalu pergi meninggalkan Ruli dan keluar dari ruangan operasi itu. Diluar ruangan, banyak sekali anggota Ruli Gyoxer yang menunggu. "Axel, aku bertanya, apakah Daddy dan mommy nya tau?" Tanya Xing Fug dengan berbisik.
Axel menggeleng. "Tidak. Karena yang dia pentingkan adalah wanitanya"
"Ish...tuan mu benar-benar akan menjadi budak cinta lagi sepertinya. Padahal aku berharap bertemu dengan nyonya Elina untuk membahas masalah perempuan. Oh iya, bay the way tentang perempuan, kau sudah memiliki cinta pertama belum bro? Usiamu sudah tuek dan sebentar lagi mau jadi aki-aki, yakin mau send-"
"Aku akan membunuhmu sekarang juga Xing Fug! Semakin lama ternyata mulutmu semakin melunjak" Tukas Axel kesal.
Xing Fug menutup mulutnya dan tidak lagi untuk membahas soal perempuan. "Okeh...aku diam dan tidak membahasnya lagi"
"Berapa lama dia akan sembuh?" Tanya Axel yang kini bertanya soal Ruli.
"Mungkin seminggu sudah bisa berjalan, yah itu juga karena bantuan obat hebat yang ku racik dengan sepenuh jiwa dan raga. Tapi sepertinya paling lama dua Minggu."
Axel mengangguk.
\#
\#
\#
Satu hari.
Dua hari.
Tiga hari.
__ADS_1
Sampai telah satu Minggu berlalu. Diara kini berdiri didekat jendela balkon, melihat pemandangan hutan dari kejauhan sana.
Selama satu Minggu ini perasaannya benar-benar dibuat kesal, benci, malas dan penasaran, pokoknya semua bercampur jadi satu seperti gado-gado.
Plise...Diara sendiri bingung dengan perasaannya yang tiba-tiba rasa rindu pada pria lumpuh itu. Rindu dengan sentuhan nikmatnya, yah....Diara kini telah mengakui, bahwa ia sungguh menikmati belaiannya walau hanya dengan jari tangan saja.
Sebenarnya Diara bisa saja memesan gigolo untuk melakukan itu, tapi sangat memalukan dan rendahan sekali jika demi kenikmatan itu harus menyewa gigolo.
Prak!
"Arghhhhh! Pria sialan! Tidak berguna!" Teriak Diara kesal dengan melempar ponsel mahalnya setelah beberapa kali tetap tidak bisa menghubungi pria lumpuh itu.
"Dimana dia sebenarnya? Apa mati?" Tanya Diara dengan penuh emosi. Ingin sekali rasanya Diara mencekik leher siapa saja jika ada yang lewat didepannya.
"Ada apa sih sebenarnya dengan pria tidak jelas itu? Tidak mungkin kan hanya karena kejadian terakhir kali dikamar mandi waktu itu? Atau kejadian di pesta pernikahan Arsyid?" Gumam Diara.
Kemudian dengan wajah yang mesum, Diara menarik rambut panjangnya frustasi. Dia seperti seorang yang jatuh cinta dan ditinggalkan oleh kekasihnya saat lagi sayang-sayangnya. "Pria sialan kau Ruli"
Drttt!
Diara melihat ponselnya yang tergeletak dilantai. Ponsel yang sebelumnya ia lempar itu ternyata masih menyala.
Dengan langkah kaki gontai, Diara kembali bangkit dan turun dari ranjangnya untuk mengambil kembali ponsel yang hampir rusak itu.
\_***Promo tiket Japan sampai besok malam***!"\_
Diara molotot. Negara impiannya untuk melihat bunga sakura asli, serta beberapa anime yang ia sukai. "Aku harus pesan tiketnya sekarang" Tukas Diara dengan terburu-buru membuka aplikasi dimana tempat memesan tiket pesawat Jepang nya.
"Setidaknya aku tidak stress memikirkan pria yang secara tiba-tiba menghilang itu" Gumam Diara. Ia tersenyum saat tiketnya sudah berhasil dipesan dengan harga yang lebih murah tentunya. Sebenarnya Diara bisa saja membayar dengan harga yang lebih mahal lagi, namun menurutnya jika sedang promo adalah suatu keberuntungan yang sangat menyenangkan.
Tangan Diara yang akan menelepon Tye dan Gyora kini terurung saat teringat terakhir kali ia berbicara dengan mereka. Diara kemudian tidak jadi untuk melakukan panggilan itu. "Huh... Ternyata mereka memang benar-benar ingin melupakanku... buktinya, tidak ada pesan atau apapun dari mereka selama seminggu ini." Lirih Diara yang juga sebenarnya merasa kehilangan.
"Tapi tidak masalah. Liburan sendirian juga tidak begitu buruk" Ucap Diara lagi yang menyemangati dirinya sendiri.
__ADS_1
......
Dan seperti yang sudah disiapkan, bahwa Diara akan berangkat ke Jepang malam ini juga, karena menurutnya jika ditunda-tunda akan sangat semakin membosankan di Mension. Toh di Mension juga tidak ada siapapun, dirinya merasa seperti di bebaskan di bangunan tinggi itu.
Yah, Diara seharusnya senang jika bebas dan tidak ada yang melarangnya untuk melakukan ini dan itu, tapi untuk kali ini, justru Diara merasa tidak dipedulikan sekarang.
Diara akan memakai mobil miliknya sendiri menuju bandara dengan satu kopernya yang dibawakan oleh pelayan Mension.
"Nona, anda yakin sudah izin dengan tuan?" Tanya maid saat sudah meletakkan koper kedalam bagasi.
Diara menatap malas maid didepannya. "Lagipula, mau saya pergi ke mana pun, dia tidak akan peduli. Mau saya mati gantung diri sekalipun!" Tukas Diara kesal, dengan segera ia memasuki mobil miliknya itu dan menjalankannya.
Jalanan yang terasa sangat menyeramkan bagi Diara kini jadi terasa biasa saja saat ia menghidupkan musik dengan tema semangat, Diara kini malah menyetir sembari sesekali berjoget karena merasa lagu itu sangat asyik.
Hingga Diara baru menyadari jika tiba-tiba ada seekor kucing liar yang lewat. Secara reflek Diara pun menginjak rem mobilnya.
Chitttt!
Diara memegangi jantungnya yang terasa berdebar.
Aakkkk....Aaakkkk....Aaakkkk.....
Suara burung gagak yang memutari mobil Diara membuatnya semakin terasa merinding.
Deg...deg ....deg...deg....deg....
Detak jantung Diara terus berdebar takut ditengah hutan ini. Kucing yang tadi berada ditengah jalan itu kini sudah hilang entah kemana.
Tok...tok...tok...
Dengan cepat Diara melihat jendela mobilnya yang diketok. Tidak terlihat karena diluar sangat gelap, ini juga karena bantuan lampu dari mobilnya.
"T-to-tolo-long.... Akhhh...."
__ADS_1
Bruk!