Terjerat Hasrat With Pria Lumpuh

Terjerat Hasrat With Pria Lumpuh
Diara?


__ADS_3

"Kak Agler?" Ucap Diara dengan terbata saat melihat wajah kakak dari Gyora yang belum pernah ditemuinya.


"Segera masuk kedalam!" Perintah Agler dingin pada Diara.



Diara pun mengangguk.



Sementara itu, ditempat yang sama, Ruli Gyoxer dan Axel saat ini sudah sampai diarea Mension.



Ruli mengepal dengan senjatanya yang tak pernah lepas dari genggaman mendengar suara nyaring ditelinga. Suara peluru bertebaran dimana-mana mengelilingi Mension, apalagi saat melihat banyaknya sebuah helikopter diatas langit.



DOR!



Satu tembakan luar biasa dengan suara yang mengglegar diatas langit yang membuat siapapun mengalihkan pandangannya pada ketua mafia Radex itu, termasuk Diara yang sudah satu langkah lagi memasuki helikopter dengan tangan nya yang masih membawa sebuah mahkota.



Ruli sampai ditengah dengan menatap semuanya yang masih berlanjut untuk bertempur. Kemudian mata elangnya menatap pada salah satu helikopter yang mendarat.



Degg...



"*Diara*?" Ruli berbicara dalam hatinya seolah tak percaya, apalagi saat melihat sebuah benda yang sedang Diara pegang adalah mahkota miliknya.



Diara bergeming dengan air mata yang mengalir saat melihat tatapan suaminya seperti tidak percaya bahwa ini adalah dirinya. Kemudian, Diara pun satu langkah lagi memasuki helikopter, hingga helikopter itu tertutup pintunya.



Ruli hanya membeku menatap helikopter yang istrinya tumpangi kini sudah mulai meninggi. Matanya menatap nanar juga seakan menunjukkan bahwa dirinya saat ini sedang benar-benar kecewa dengan dirinya sendiri.



Tidak percaya Ruli bahwa Diara akan melakukan hal seperti itu. Hatinya menolak bahwa istrinya begitu jahat padanya, meninggalkannya dan membawa semua kekecewaan yang ada. Tak terasa, air mata pada lelaki itu perlahan meleleh keluar dari bola matanya.

__ADS_1



Diara yang menatap dari atas jendela merasa iba dan hatinya tersentuh melihat suaminya yang bergeming ditempat. "Ruli... Nama yang begitu aku benci sekarang" Gumam Diara. Ia pun menggeleng untuk menghilangkan rasa sedihnya, ia tidak boleh iba pada pembunuh, ia tidak boleh kasihan pada seseorang yang telah menghancurkan cintanya.



Puk!



Satu tepukan pundak membuat Diara berbalik dan tidak kembali menatap Ruli. "Stefani?" Ucap Diara saat melihat perempuan yang masih menggunakan penutup wajah.



"Kenapa kau gegabah? Aku sudah bilang untuk jangan mengambil mahkota nya" Pinta Stefani.



"Maaf, tapi aku ingin segera membalas perbuatan mereka. Satu hal yang baru aku tau, ternyata suamiku adalah yang seharusnya menjadi musuhku"



Stefani berkerut. "Maksutnya?"




Stefani memegang kedua pundak Diara. "Semua akan baik-baik saja, dan pelaku pasti akan mendapatkan karma yang setimpal. Jadi?" Stefani kemudian mengulurkan tangannya. "Apakah kau mau bekerja sama denganku untuk menghancurkan Radex?"



Diara menatap bola mata Stefani, lalu menatap tangan Stefani. Dengan penuh keraguan, Diara pun menerima uluran tangan dari Stefani. "Hmm... Aku akan bekerja sama denganmu"



Stefani tersenyum haru, lalu segera memeluk Diara. "Terimakasih... Kau adalah wanita luar biasa."



"Kau lebih luar biasa'. Aku tidak bisa membayangkan saat kau mencoba kabur dari tempat seperti itu. Jika aku berada di posisi mu, sudah dapat dipastikan aku sudah mati sedari dulu" Diara lalu membalas pelukan Stefani.



"Wajahku buruk rupa"


__ADS_1


"Kau akan sempurna jika orang melihatmu dari dalam, bukan hanya luarnya saja. Kau cantik menurut ku, karena aku tau, dibalik wajah cacat dan burukmu, ada suatu perjuangan yang tak main-main agar tetap kembali hidup" Sambung Diara yang dimana membuat Stefani, sang perempuan tangguh itu jadi semakin yakin dan benar bahwa menyelamatkan Diara dari jeratan Ruli Gyoxer adalah pilihan paling tepat.



"Ehem..."



Suara deheman itu membuat Diara dan Stefani melepaskan pelukannya. "Gyora?"



Stefani langsung berbalik. "Astaga! Gyora, kenapa kau ikut kemari!" Tukas Stefani dengan menatap tajam Gyora, adik dari sahabatnya itu.



Gyora menyengir kuda. "Hehe... Maaf kak, tapi aku sangat rindu pada Diara" Diara pun berjalan mendekati Diara dan Stefani. Lalu tanpa ba-bi-bu Gyora langsung memeluk Diara erat, ia rindu pada Diara yang begitu cerewet, sudah begitu lama dirinya tidak melakukan pelukan ini bersama Diara. "Aku rindu, kau tega padaku dan Tye"



Diara menangis tersedu-sedu mendengar pengucapan Gyora. Ternyata selama ini bukan hanya Diara saja yang rindu, tapi semuanya rindu pada persahabatan dulu. "Maafkan aku yang begitu egois... Aku juga merindukanmu Gyora" Diara pun juga memeluk Gyora dengan erat.



"Gyora, sekarang katakan, bagaimana juga bisa masuk kedalam helikopter ini?" Tanya Stefani dengan mengintimidasi Gyora yang sedang menunduk duduk dikursi.



"A-aku meminta bantuan pilot kak" Jawab Gyora dengan takut pada Stefani.



"Stefani, jangan begitu, dia jadi mellow" Ucap Diara yang ingin membantu Gyora agar tidak lagi dimarah oleh Stefani.



"Agler baru saja bilang padanya untuk jangan ikut dan menjaga dua bocil keponakannya, tapi dia justru mengingkarinya"



"Maaf ...." Lirih Gyora. Mata Gyora kemudian melihat tangan Diara yang sedang memegangi sesuatu. "Astaga, jadi kau mengambil mahkota ini?"


Diara mengangguk. "iya, bukank-"


"ya ampun Diara, ini mahkota palsu yang hanya diletakkan sebagai pemancing musuh"


Diara tentu saja terkejut dengan penjelasan dari Gyora. ia tidak menyangka bahwa mahkota palsu itu hanya dipergunakan sebagai alat pemancing.

__ADS_1


__ADS_2