
Terlihat seorang lelaki dengan usia 35 tahun itu terus berlari terongoh ditengah hutan tanpa arah demi menghindari seseorang yang akan membunuhnya. Beberapa luka dilengan karena tembakan telah dialaminya, namun beruntung masih bisa lari dari jeratan mereka.
Lelaki itu bernama Al. Awalnya dia ditugaskan oleh pemimpinnya untuk mengintai salah satu anggota musuh, tapi mungkin kurang beruntung hingga ia akhirnya ketauan dan berakhir seperti sekarang.
Al berlari tanpa arah, yang terpenting ia bisa kabur dan semakin jauh.
Dor!
Dor!
Dor!
Suara pistol itu kini semakin terdengar ditelinga Al. Takut jika ini adalah akhir dari semuanya, yang Al takuti hanya kondisi istrinya yang menunggu dirumah untuk kepulangannya.
"Hah...hah...hah..." Bahkan untuk bernapas bagi Al saja begitu sulit. Ia mencoba menyalakan telepon darurat untuk memanggil sang pemimpinnya sembari terus berlari.
"T-tuan....saya tertangkap, t-tolong hah...mereka sedang mengejar saya-"
Nitttt!!!!
Panggilan itu terputus karena sinyal yang menghilang. Dengan keringat yang semakin bercucuran, Al tetap berlari sampai ia tak menyadari telah sampai dijalan. Tatapannya melihat pada mobil yang sedang berhenti.
Tanpa banyak lama, Al yang tubuhnya sudah benar-benar terasa lemas dan sakitnya luar biasa mulai berusaha untuk mendekat.
Al tidak dapat melihat siapa seorang yang ada didalam mobil. Dengan tangan lemas ia pun mengangkatnya untuk mengetuk kaca mobil itu.
Tok...tok...tok...
"T-to-tolo-long.... Akhhh....!"
Bruk!
__ADS_1
Al menjatuhkan tubuhnya sendiri setelah dirasa sudah tidak kuat lagi untuk berdiri dan bertahan.
Sementara itu, dia orang yang tadi mengejar Al kini bersembunyi dibalik pohon besar dengan melihat interaksi yang Al lakukan.
"Kita tembak sekarang!" Ucap salah satu anggota yang bersiap untuk menembak Al.
Tofu dengan cekatan menghalangi aksi Galang. "Jangan. Itu adalah mobil Gyoxer, lihat plat nya, dia adalah mobil nona Diara"
Galang menajamkan penglihatannya untuk melihat plat nomor yang sulit untuk dilihat karena gelap. Kemudian Galang mengangguk setelah memastikan penglihatannya benar bahwa itu mobil keluarga Gyoxer. "Benar, kita pergi saja kalau begitu"
Mereka berdua segera pergi dari situ dan meninggalkan misinya untuk membunuh Al.
#
#
Diara yang merasa takut dan semakin panik menduga bahwa itu adalah perampok atau zombie yang sedang berkeliaran. Tanpa ingin tau diluar apa, Diara dengan langsung menancapkan gasnya dengan kecepatan penuh.
"Sangat menyebalkan tinggal di Mension itu, membuatku sangat sulit dan takut jika keluar malam" Gumam Diara yang begitu kesal.
Selang beberapa menit kemudian, mobilnya kini telah sampai dibandara, biarlah jika mobilnya ia tinggal dibandara, mau hilang juga gampang membelinya lagi.
Diara turun dengan membawa kopernya sendiri, karena ia sangat malas untuk menyuruh seseorang membawakan kopernya. Namun, tiba-tiba langkahnya yang mau ke bagasi mobil jadi ditunda saat melihat suatu bercak berwarna merah dimobilnya.
Diara jongkok karena bercaknya berada dipintu mobil bawah. Alisnya berkerut melihat ukiran itu bertuliskan kurang jelas.
"Raa....dde....xx? Radex? Apa maksudnya? Apa ini dari seseorang yang mengetuk pintu mobil ku dihutan?" Rasanya nama itu seperti tidak asing bagi pikirannya, namun karena tidak ingat, Diara pun memilih untuk melupakan apa dan siapa Radex.
Diara segera kembali pada tujuan utamanya, yaitu mengambil koper dibagasi. Beruntung koper itu ringan dan tidak berat, karena Diara sengaja membawa sedikit pakaian, toh juga disana pasti dia akan berbelanja. Rencana dia ingin liburan dijepang hanya satu Minggu saja.
Sebelum memasuki bandara, ia tidak lupa menggunakan kacamata hitam berbentuk persegi itu. Dengan dengan tubuh bak modelnya, ia pun berjalan memasuki bandara.
__ADS_1
Setelah tiketnya sudah di regalisir, barulah Diara duduk sembari menunggu pesawat penerbangannya dipanggil.
Selang beberapa menit berlalu, akhirnya pesawatnya dipanggil, Diara bangun dan langsung berjalan untuk menaiki pesawatnya. Kopernya juga sudah dimasukkan sebelumnya.
Dalam perjalanan menuju ke Jepang, Diara menutup matanya dengan headset bluetooth yang menempel di telinganya, tangannya dilipat kedepan dada dengan kacamata yang masih menempel dihidung mancungnya.
____
"I love you Ruli Gyoxer, aku beruntung mendapatkan mu" Diara memegangi wajah tampan suaminya yang masih duduk dikursi roda.
Ruli juga menampakkan wajah tersenyum, untuk pertama kali senyuman tulus dan cinta itu Diara melihatnya. "Aku juga mencintaimu. Jaga anak kita baik-baik" Sambung Ruli sembari mengelus perut istrinya yang sudah buncit membesar.
Saat mereka sedang saling bermesraan, tiba-tiba datang dari arah belakang, lelaki dengan berpakaian dokter dan aura yang lebih bercahaya.
"Kau?!" Ruli mengepalkan tangannya melihat seseorang yang berjalan mulai mendekati.
Diara yang duduk berhadapan dengan suaminya pun heran melihat wajah suaminya yang seperti menahan amarah. Ia pun memutar kepalanya ke belakang.
Mata Diara dipaksa terbuka lebar melihat siapa pria berbaju dokter itu. Hatinya berdebar seolah tak percaya dengan kedatangannya lagi.
Pria berbaju dokter itu tersenyum, hingga menampakkan lesung pipinya yang membuat pria itu semakin terlihat begitu tampan. "Aku merestui hubungan kalian, namun kau harus tau bahwa Ruli adalah seo-"
##
"Nona" Panggil sang pramugari yang membangunkan Diara dan memberitahu bahwa pesawat sudah sampai.
Diara seketika terbangun dan menanggalkan mimpi nya tadi. "Ah...iya?" Tanya Diara yang masih sedikit terkejut.
"Pesawat sudah sampai ditempat" Ucap sang pramugari.
Diara lalu melihatnya dari jendela, ternyata benar, ini sudah sampai di Jepang saat Diara tau sedang berada di bandara yang banyak sekali poster bahasa dan tulisan Jepang.
__ADS_1