Terjerat Hasrat With Pria Lumpuh

Terjerat Hasrat With Pria Lumpuh
Amar (Sang pria masalalu)


__ADS_3

"Didapur, ada sebuah tembok yang letaknya paling belakang dan pojok sendiri. Pastikan di dapur tidak ada pelayan atau sebagainya"


Diara mengikuti arahan dari Stefani. Diara berjalan pelan menuju dapur bawah, ia sesekali melirik ke kanan, kiri dan belakang untuk berjaga-jaga jika suatu saat ada maid.



Diara berhenti sekitar empat meter saat matanya melihat ada seorang maid yang sedang bekerja. Ia memutar otaknya untuk bagaimana caranya agar maid yang sedang bebersih itu pergi sekarang.



"Hei" Panggil Diara dengan sedikit angkuh pada sang maid, yang dimana maid tersebut langsung menghentikan aktivitasnya dan menundukkan kepalanya.



"Kau segera pergi keatas! Ambil baju kotorku dan bersihkan, nanti sore aku ingin pakai" Perintah Diara kemudian.



Maid pun mengangguk. "B-baik nyonya"



Diara tersenyum penuh kemenangan melihat maid yang sudah pergi. Ia begitu bangga pada dirinya sendiri, karena ternyata dengan mudah dapat menyingkirkan maid sialan yang sudah mengganggu rencananya.



Diara pun kembali melanjutkan perjalanan sesuai dengan ucapan Stefani. "Dimana?" Tanya Diara.



"*Paling pojok sendiri, disamping terdapat sebuah guci keramik yang lumayan besar dan mahal." Ucap Stefani yang suaranya keluar dari kalung yang Diara pakai*.



Diara kemudian menatap sekeliling nya untuk mencari dimana guci itu berada. Pandangannya kemudian tertuju pada guci keramik berwarna hijau telur asin, Diara pun melangkahkan kakinya mendekat pada pojok ruangan. "Aku sudah berada disini"


__ADS_1


"*Nah, kau cari tombol ditembok dengan warna yang agak sedikit putih tua, kau pencet maka lantai itu akan terbuka dengan sendirinya, disana kau akan menemukan ruang bawah tanah*"



Diara menyipitkan matanya untuk melihat dan mencari dimana letak tombol yang dimaksud, sesekali jarinya mencoba untuk memecetnya. Sedikit terbelak saat merasakan lantai yang ia incak bergeser, Diara pun langsung menyingkir.



"Aku sudah menemukannya, dia terbuka!" Matanya lagi lagi melotot dengan hati yang sedikit tidak percaya, keyakinannya pada ucapan Stefani kini hampir 100 persen, karena semua yang Stefani ucapkan benar.



"*Masuklah, jangan lupakan untuk menghidupkan kamera yang ada dikalung ini. Tapi ingat, jangan pernah kau memegang sebuah mahkota yang letaknya paling ujung, akan sangat berbahaya dan kau bisa saja ketauan yang lain, jika dalam bahaya, pencet tombol SOS pada gelang yang kemarin aku berikan*."



Diara mengangguk, ia pun mematikan sambungan yang terhubung dengan Stefani dan mulai merekamnya.




Diara kemudian kembali menutup pintu ruang bawah tanah dengan memencet tombol yang ada dibawah. "Begitu sangat merinding...." Gumam Diara dengan memegangi tengkuknya.



Ia pun kembali melangkahkan kakinya untuk berjalan maju. Matanya tidak berhenti untuk menatap ruangan ini. Ruangan yang begitu mengerikan dengan lampu temeran, tempatnya begitu berantakan dengan bau batang yang sangat menyengat. Diara bahkan sampai menutup hidungnya menggunakan jari karena tidak kuat dan ingin muntah.



"Apa ini?" Diara berhenti saat kakinya yang akan menginjak sesuatu. Terdapat sebuah benda berwarna putih yang seperti sebuah tulang, namun tulang apa? Tulangnya seperti tulang seorang manusia ukurannya. Diara pun langsung begidik ngeri dan kembali melanjutkan perjalannya.



Kakinya berbelok untuk melihat dinding usang dengan beberapa ukiran manusia disana. "Gambarnya seperti seorang perempuan yang sedang...?" Diara menggeleng saat melihat gambar ukuran di dinding itu, begitu mengerikan, karena disitu terlihat seorang perempuan yang sedang menangis tanpa menggunakan busana dan sedang digilir beberapa pria.


__ADS_1


"Apakah ini sebuah tempat yang dimana para perempuan korban penculikan dibunuh oleh Ruli dan anggotanya?" Gumam Diara, karena tempat ini banyak sekali sebuah abu yang berserakan dilantai. Atau, abu yang ia injak adalah sebuah pembakaran manusia?



Entah kenapa, hati Diara ingin sekali memasuki ruangan yang ditutup itu. Dengan tubuh yang sudah gemetar, Diara pun melangkah mendekat pada ruangan yang ia ingin lihat didalamnya.



Ceklek!



Matanya menatap ke arah sebuah meja kaca yang dipasangi lampu. Dan didalamnya terdapat sebuah tengkorak seperti tengkorak manusia.



Diara terbelak, sudah sejak tadi langkahnya terasa berat melihat tengkorak itu. Apakah itu tengkorak pajangan? Atau tengkorak manusia asli?



Dengan langkah yang dipaksakan, Diara memberanikan diri melihat tengkorak utuh yang terbaring di lemari kaca transparan itu. Entah ini perasaan darimana, yang jelas saat ini hatinya terasa tersayat dan teriris melihat sebuah tengkorak yang mungkin saja ini adalah tengkorak manusia.



Sampai pada lemari transparan itu, tengkorak yang dipasang secara berdiri, Diara menatapnya lekat seakan tidak ingin berpaling dari wajahnya yang hanya tersisa tulang putihnya saja. Hatinya seperti begitu familiar dengan wajahnya, teringat akan sesuatu dari masalalu, namun sulit untuk melihat siapa gambaran dari masalalu nya.



Namun, lamunan dan pikirannya jadi terpecah saat melihat tangan tengkorak yang berada didalam lemari. Diara terpaksa harus membuka matanya lebar dengan tatapan berkaca. "Hah... In-ini?? Bukankah ini adalah cincin hah... Tidak mungkin!" Diara semakin menajamkan penglihatannya untuk lebih mematikan lagi, ia bahkan sampai memutari lemari kaca itu agar lebih jelas dan pasti lagi.



"DA" Diara membeku setelah membaca sebuah huruf yang terdapat pada cincin emas yang masih utuh. Semakin meyakinkan lagi saat disamping lemari terdapat sebuah pakaian seorang dokter dengan beberapa alat medis dan sebuah senjata tajam.



Matanya semakin berair dan mulai menumpahkan air yang sudah penuh. "AMARRRRRRR!!!!!!!!" Teriak Diara dengan begitu frustasi bagai perempuan stres. Diara menangis dengan begitu menyakitkan sampai dadanya terasa sesak, dan nafasnya yang tersengal-sengal, Diara duduk dilantai kotor dengan menatap kerangka tengkorak itu.

__ADS_1


__ADS_2