
Malamnya, Ruli kini sudah sampai di Mension dengan tapak kaki yang mulai berjalan menuju lift untuk ke kamarnya.
Nit.
Suara pintu kamar itu terbuka. Ruli berjalan mendekati istrinya yang sedang menyembunyikan wajahnya dibalik selimut.
"Sayang..." Ruli segera menyibak selimutnya. Betapa ia terkejutnya melihat Diara yang matanya sudah seperti di gigit oleh lebah dengan rambut berantakan. Ruli pun duduk ditepi ranjang dengan perasaan gelisah melihat Diara seperti itu.
"Katakan ada apa?!" Tanya Ruli panik dengan menangkup kedua pipi Diara yang masih menangis.
Diara menangis tersedu-sedu didepan Ruli. Ia kemudian secara perlahan menunjuk pada sesuatu.
Ruli mengikuti arah yang Diara tunjukkan. Ia melepaskan tangkupan tangannya dari wajah Diara, kemudian bangkit dan bergerak mundur dengan apa yang baru saja dilihatnya.
Diara yang sebelumnya menangis, kini berubah menjadi tertawa penuh semangat seperti seorang nenek gayung.
"Hahahaha... Hancur kehidupanmu Ruli Gyoxer"
Diara yang berubah jadi mahluk yang tak Ruli kenal itu kini loncat dari atas ranjang kedepan Ruli seperti seekor kera. "Pria pembunuh! Aku membencimu huhuhu..." Tangis Diara kini pecah dalam wajah pucat seperti mayat itu. "Kau pria menjijikkan huhu... Aku membencimu"
Ruli semakin bergerak mundur melihatnya. "D-diara...apa"
"Aku benci masalalu mu! Aku menyesal pernah mencintaimu! Kau pria paling breng-"
"DIARA...!" Dengan wajah yang berkeringat Ruli terbangun dari tidurnya. Ia beberapa kali menarik nafasnya dalam-dalam untuk merilekskan pikiran serta otaknya yang masih terbayang-bayang akan mimpi itu.
Matanya kemudian segera mencari sosok Diara sang istri, Ruli bernafas lega saat menemukan Diara yang masih terlelap dalam tidurnya. Lagi dan lagi, Ruli harus frustasi dengan semuanya.
__ADS_1
"*Apa kau akan membenciku setelah tau siapa aku*?" Batin Ruli yang menatap wajah polos istrinya.
Ruli pun kemudian kembali merebahkan dirinya dengan tidurnya yang mengahadapi Diara, seolah ia tidak mau berhenti untuk melihat dan melihat Diara.
\#\#\#
\#\#\#
Keesokan paginya, Diara menggeliat dengan penuh semangat pagi ini. Ia yang berniat untuk menyingkirkan tangan Ruli terurung saat merasakan nafas yang berbeda dari Ruli yang menimpa lehernya.
Diara pun berniat untuk mengeceknya. "Astaga. Bubu...kau sakit?" Tanya Diara khawatir saat merasakan suhu tubuh Ruli yang begitu tinggi.
Ruli tidak menjawabnya. Ia hanya bisa terpejam karena sedang merasakan tidak enak badan.
"Jangan pergi Diara..." Ucap Ruli dengan begitu lirihnya.
"Aku hanya ingin menelepon dokter dan mom Elina agar segera kemari" Jelas Diara yang dimana pelukan seperti seorang anak kecil itu semakin kencang melingkari pinggangnya.
Ruli menggeleng. "Aku hanya membutuhkan mu sekarang. Jangan meninggalkan aku..." Ucap Ruli kemudian dengan lemah.
Diara menghela nafasnya. Ia kesal karena suaminya itu sangat egois dan keras kepala. "Kau ini kenapa sih! Dari semenjak ditaman, selalu membahas untuk jangan meninggalkanmu. Memang ada apa? Kenapa kau bisa berpikir jika aku akan meninggalkan mu?"
*Hacim*...!
Tubuh Ruli justru semakin menggigil karena menahan dingin dalam tubuhnya.
__ADS_1
"Maaf" Ucap Diara yang baru menyadari jika ia terlalu keras berbicara. Padahal suaminya sedang sakit.
"Jangan kemana-mana" Bisik Ruli kemudian dengan memohon.
"Iya, aku akan terus disamping mu...aku tidak akan meninggalkanmu" Jawab Diara lalu mencoba untuk melepaskan kedua tangannya yang dipeluk oleh Ruli. Ia pun lalu memeluk tubuh Ruli seperti seorang ibu yang sedang menidurkan anaknya. "Aku akan disini"
Nyaman, hanya itu yang terucap dalam hati Ruli. Resah, hanya itu yang ada dalam pikiran Ruli Gyoxer. Khawatir akan kehilangan, itulah masalah yang paling utama baginya.
Selang beberapa menit kemudian, setelah mendengar dengkuran halus suaminya. Diara pun berniat untuk segera mengambil ponselnya yang dimeja dan tak jauh dari ranjang, dimana letaknya hanya sekitar lima puluh centi saja.
Ia pun segera menelepon ibu mertuanya.
"*Sayang. Ada apa*?"
"M-mom... Saat ini Ruli sedang sakit demam. Aku ingin memanggil dokter, namun Ruli justru hanya ingin aku agar selalu menemaninya."
*Mendengar anaknya sakit, membaut mom Elina jadi panik. Karena sedari kecil, Ruli tidak pernah sakit demam, mungkin hanya dua kali saja seumur hidupnya, dan ini adalah yang paling jarang. "Mom akan segera kesana dan memanggil dokter pribadi*"
#
Selang satu jam kemudian, mom Elina pun datang dengan membawa dokter pribadi juga. Tanpa ba-bi-bu, mom Elina segera masuk kedalam kamar sang putra dengan perasaan cemas.
"Jecky, periksa putraku dengan baik dan benar" perintah mom Elina pada dokter pribadi keluarga Gyoxer, dokter yang sudah benar-benar dipercaya.
"Mom, tapi tangannya sangat sulit untuk dilepaskan" Pinta Diara yang sedari tadi berusaha melepas tangan kekar Ruli.
"Tidak apa-apa nona. Biar seperti itu, anggap saja anda sebagai obat bantunya" Jeck kemudian bergerak maju, ia membuka dia kancing baju milik Ruli, kemudian muslim memeriksanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bismillah, doain malam ini mau maraton nulis😴 Lusa mungkin untuk sementara Hiatus, tapi insyaallah bakal ditamatkan dulu novel nya sebelum hiatus😤 Alasan? Mau mengejar pendidikan yang dimana didalamnya tidak memperbolehkan untuk membawa ponsel.... SEMANGAT AKUUU...!
__ADS_1