
Sampai pada Mension, Ruli lagi-lagi menggendong tubuh Diara hingga sampai pada kamar mereka, kamar yang sudah satu Minggu lebih ini tidak dilihatnya.
Diara meletakkan tubuh Aruni diatas ranjang. Lagi dan lagi, memandangi wajah Aruni adalah suatu yang candu dan tidak dapat digugat untuk dialihkan tatapannya.
"Diara sayang...." Tangan Ruli bergerak menelusuri wajah istrinya dengan tatapan mata yang dalam. "Sekalipun dan sebrengsek apapun aku, kumohon jangan pergi ya" Lirih pria itu yang kini sudah merasa sangat frustasi akan kemungkinan yang terjadi, terlebih Doge sudah mulai mengganggu nya, Ruli takut jika sewaktu-waktu Doge akan kembali merebut apa yang ia miliki, terutama tambatan hatinya.
Karena waktu yang sudah mau menunjukkan hampir pagi dini hari, Ruli akhirnya memilih untuk direbahkan dirinya disamping Diara dengan memeluknya erat.
#
#
#
"Bubu, ingin kemana?" Tanya Diara saat baru bangun tidur. Yang dimana jam sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi.
"Ada sesuatu dikantor bibu" Jawab Ruli halus sembari memakai dasinya sendiri.
Diara cemberut mendengarnya. "Aku sendirian?"
"Hanya sebentar saja. Apa kau begitu rindu padaku hingga kau menunjukkan wajahmu yang seperti bebek itu" Ucap Ruli yang seperti sedang mengejek sang istri.
__ADS_1
"Ish...mana ada aku seperti bebek, wajah cantik jelita begini dibilang bebek. Pokoknya kau dilarang per-"
"Perhiasanmu sudah ada didalam laci" Potong Ruli kemudian.
Mendengarnya, wajah yang sebelumnya ditekuk kini jadi kembali bersemangat. "Ooohhh... Kau suami baik dan baik sekali. Ya sudah, kau boleh pergi, tapi janji jangan berlama-lama" Pinta Diara yang begitu cepatnya berubah pikiran hanya karena disogok dengan perhiasan.
Ruli menggeleng pelan dengan kelakuan Diara. "Hmm. Aku pergi"
Cup...!
Ruli mengecup singkat kening istrinya sebagai tanda perpisahan untuk sementara.
Dengan langkah cepat, Diara segera turun dari ranjangnya dan membuka laci meja yang tak jauh jaraknya itu. Betapa bersinarnya matanya itu melihat beberapa perhiasan impiannya yang terpampang nyata didepan matanya. "Suamiku kaya...!!!" Pekik Diara happy melihatnya.
Beberapa waktu berlalu saat sedang mencoba beberapa perhiasannya didepan cermin, Diara merasa sedang ada sesuatu diluar sana yang sedang mengintainya. Diara menatap jendela tertutup yang menuju kebalkon itu, entah kenapa perasaan nya mengatakan, bahwa diluar sana sedang ada sesuatu yang sedang mengintainya.
Dugh!
Diara sedikit terpekik dengan suara yang menabrak jendela balkon itu. Dengan sedikit takut namun banyak rasa penasarannya, Diara segera berjalan mendekat pada jendela itu.
Diara membuka sedikit korden jendela untuk melihat apa yang sedang terjadi diluar sana. Namun saat diperhatikan, tidak ada orang sama sekali diudara, pikirnya tidak mungkin jika anak iseng yang melempar dari bawah, selain karena balkon yang tinggi juga tidak mungkin ada anak kecil disini.
__ADS_1
Matanya lalu beralih ke lantai balkon, dimana ada sebuah kertas yang dibuntal berbentuk bola itu. "Apa itu?" Tanya Diara dalam hatinya dengan perasaan waspada.
Namun karena tingkat keponya yang terlalu tinggi, Diara akhirnya memberanikan diri membuka pintu menuju balkon kamarnya itu.
Cetek!
Sebelum bergerak keluar, Diara lebih dulu membaca mantra perlindungan agar langkahnya dilindungi. Kemudian dengan gerakan cepat, Diara keluar dan mengambil kertas yang membuntal batu itu, lalu kembali masuk lagi kedalam kamar dengan cepat, tidak lupa untuk menguncinya rapat kembali.
Diara dengan jantung yang deg-degan seperti sedang jatuh cinta, kini menyenderkan kepalanya pada pintu balkon, tak hentinya mengucap syukur karena diberi keselamatan.
Rasa kepo itu kembali keluar setelah ia baru mengingat kertas yang dipegangnya. Diara pun membukanya secara perlahan.
Tangan Diara gemetar membuka kertas dengan coretan tinta berwarna merah gelap, apalagi saat membaca tulisan didalamnya.
Glek...!
Bukan hanya tulisan, namun juga suatu gambar yang dimana dapat membuat siapa saja merasa kasihan dan jijik melihatnya. Diara langsung membuang kertas serta gambar itu dengan asal.
Kemudian dengan air mata yang sudah mengalir sedari tadi, Diara segera berlari menaiki ranjang. Hatinya, perasaannya serta otaknya kini sedang tidak baik sekarang.
"Hiks..hiks...siapa dia, kenapa dia menuliskan dan mengirim hal seperti itu" Ucap Diara dengan gemetar. Bahkan tangan nya juga ikut gemetar ketika mengingat foto jijik dan mengenaskan tadi itu lagi.
__ADS_1