Terjerat Hasrat With Pria Lumpuh

Terjerat Hasrat With Pria Lumpuh
Jangan sembunyikan apapun


__ADS_3

Sampai dilantai kamar mereka, Diara berjalan lebih dulu mendahului Ruli. Ada sedikit rasa takut akan menjadi korban selanjutnya jika berada didekat suaminya.


Ruli terus mengikuti langkah Diara sampai ke kamar. Hatinya bilang bahwa jawaban Diara barusan berbohong padanya.



Hingga saat Diara akan memasuki kamar mandi, suatu lengan besar melingkari pinggangnya dan memeluknya begitu erat.



"Sayang..." Suara Ruli yang begitu lirih dan berat seakan membuat Diara jadi goyah.



"Jangan mengabaikan aku... Ku mohon jangan sembunyikan apapun dariku bibu..Daira Moana ku... Katakan yang sebenarnya, tolong jangan membuatku khawatir..." Pelukan itu semakin erat, dibarengi dengan beberapa kecupan manis mendarat pada tengkuk Diara yang begitu mulus dan putih seperti susu.



"R-ruli..."



"Ruli? Panggilan apa itu?" Ruli melepaskan pelukannya dan membalikkan tubuh Diara agar berhadapan dengannya. "Katakan, apa yang sebenarnya terjadi. Apakah ada orang yang telah memberitahu mu sesuatu? Atau menghasut mu? Katakan dengan jujur pada suami mu"



Nafas Diara bergemuruh mendengar pertanyaan dari Ruli. Ia bimbang untuk menjawabnya jujur atau berbohong. Tapi menurut pernyataan, disini yang salah adalah suaminya, dan Ruli berhak untuk masuk jajaran sebagai napi sekarang karena telah membunuh, melecehkan serta menganiaya seseorang.



"Aku tidak apa-apa"



"Hey" Ruli memegang rahang istrinya. Jarak mata mereka berdua seakan hanya ada wajah yang saling bertukar saja. "Tolong, jangan ada yang menutupinya dariku..."



Diara menggeleng. "T-tidak ada, kau ini kenapa? Aku hanya sedang galau memikirkan kedua mantan sahabat ku yang saat ini sedang aku rindukan. Sudahlah, b-bubu... Aku sedang tidak mood sekarang" Diara mendorong pelan dengan menunjukkan wajah pura-pura cemberut nya.



"Jadi ini karena kau sedang merindukan sahabat mu?" Ruli mematung ditempatnya.



"Hmm..." Jawab Diara singkat, lalu segera masuk ke kamar mandi.


__ADS_1


"Apa dia berbicara jujur? Kenapa hatiku tetap tidak tenang? Kenapa aku merasa Diara sednsg berbohong lagi" Gumam Ruli Gyoxer dengan menatap nanar pintu kamar mandi yang sudah tertutup.



Ruli menghela nafasnya, ia pun kemudian memilih untuk pergi ke ruang kerjanya dan memanggil Axel karena ada sesuatu pembicaraan penting.



\#



\#



\#



Sementara itu, Diara dikamar mandi telah menumpahkan semua kesedihan nya yang ia tahan sedari tadi.



Ia terduduk dikamar mandi dengan bersender pada dinding keramik itu. Sesekali tangannya mengepal dengan memukul pahanya sendiri.




Isak tangis Diara memantul pada ruangan kamar mandi itu. Ia menutup wajahnya menggunakan tangannya.



Sesal, kesal dan menyesal adalah suatu perkataan paling cocok untuk nya.



"Arghhhhh!!!!!" Teriak Diara didalam kamar mandi. Beruntung kamar mandi ini kedap suara, jadi Diara bisa dengan puas berteriak semaunya dan sesuka hatinya.



Disaat sudah mau membuka hatinya, kenapa dia harus dihadapkan dengan segala cobaan yang begitu beratnya? Bukan hanya masalah kecil, namun ini bagaimana tentang kekerasan, sarana dan politik yang diluar nalar.



Mafia? Diara bahkan awalnya begitu tak percaya dengan mafia, tapi setelah melihat rekaman itu, hati Diara yakin bahwa sebenarnya dunia bawah dan seorang mafia itu benar-benar memang ada, dan itu adalah keturunan Gyoxer sendiri, keluarganya sendiri, keluarga suaminya.


__ADS_1


Apakah dia yakin bisa membuat suaminya masuk penjara setelah mendapatkan sebuah bukti lagi? Persis seperti apa yang Stefani katakan? Belum tau sekarang, namun semuanya akan tau saat Diara sudah melancarkan aksinya.



\#



\#



\#



Ruli duduk tak tenang menunggu kedatangan Axel. Pikirannya terus tertuju pada sang istrinya, dia takut jika ternyata istrinya sudah bertemu dengan Stefani dan semua cintanya akan kembali hancur seperti beberapa tahun silam.



"Permisi tuan" Axel menundukkan kepalanya tanda hormat.



"Segera masuk!"



Axel menuruti perintah dari Ruli. Ia pun duduk disebelah Ruli. "Ada apa?"



"Bagaimana dia bisa berkeliaran lagi? Bukankah anggota bilang bahwa sebelumnya dia hilang tanpa jejak? Kenapa secara tiba-tiba dia muncul?" Tanya Ruli yang benar-benar ingin segera menghabisi Stefani sekarang juga.



"Saya juga tidak tau. Tapi sepertinya, kejadian dimasa lalu tidak lepas dari bantuan seseorang. Apa kau ingat? Stefani dulu adalah gadis lemah yang mudah ditipu oleh mu, tidak mungkin secara tiba-tiba ia menjadi wanita kuat bukan? Aku yakin ada seseorang dibalik ini semua" Jelas Axel yang merasa begitu yakin setelah melakukan beberapa penyelidikan dengan anggotanya.



"Apa kau berpikir bahwa itu anggota Doge?"



"Kemungkinan besar mereka adalah dalangnya"



Ruli semakin merapatkan gigi-giginya dan mengeraskan rahangnya. Lagi dan lagi, anggota Doge selalu merusuh disaat ia sedang dalam kebahagiaan. Jika Ruli bisa memilih, ia lebih baik mundur saja dari dunia bawah dibanding harus bertarung kembali. Jika Ruli bisa memilih, ia akan lebih memilih untuk menjalani kehidupan sederhana bersama keluarga yang sederhana namun bahagia tanpa ada yang namanya musuh. Tapi takdirnya bukanlah seperti itu, dan takdir dalam dunia ini tak bisa untuk memilih.

__ADS_1


__ADS_2