Terjerat Hasrat With Pria Lumpuh

Terjerat Hasrat With Pria Lumpuh
Stefani didalam


__ADS_3

Diara begitu senang saat sudah dipusat perbelanjaan make up. Ia pun langsung memborong semua jenis lip yang terbaru dan mahal tentunya.


Sementara Ruli, ia hanya menunggu diluar toko dengan matanya yang tak henti-hentinya melirik kanan dan kiri untuk memastikan situasi aman. Ruli takut jika sewaktu wanita yang bernama Stefani tiba-tiba datang dan menemui istrinya.



Hingga Diara yang sudah keluar dengan banyak menenteng paper bag ditangannya sampai penuh.



"Sudah?"



Diara mengangguk semangat "Sudah bubu...Terimakasih atas semuanya"



Ruli mengangguk. "Ingat, ada imbalannya"



"Ish, suami perhitungan" Gerutu Diara karena suaminya itu kembali mengingatkannya lagi pada lima ronde untuk nanti malam.



"Kita makan?"



Diara mengangguk karena memang dirinya sudah sangat lapar.



Ruli segera membantu istrinya untuk menenteng barang yang dibeli tadi. Merekapun berjalan beriringan dengan Diara yang bergelayut menyenderkan kepalanya pada bahu Ruli menuju restoran Mall yang akan dituju.



Masuk kedalam restoran, mereka langsung saja memesan makanannya. Lagi dan lagi, senyuman mereka tak pernah pudar bagai bunga raflesia Arnoldi yang tak pernah tertutup.



Setelah makanan datang, Diara pun langsung menyantap makanannya, begitupun dengan Ruli. "Mau coba?" Tanya Diara yang menawarkan steak daging wagyu nya.



"Tidak" Jangan Ruli singkat, yang dimana membuat Diara sedikit mengerucutkan bibirnya. "Ya, boleh" Lanjut Ruli lagi dengan menghela nafasnya.



Seketika mendengar itu, senyuman Diara jadi mengembang. "Asyikk...nih bubu, dijamin nagih" Titah Diara bersemangat, lalu segera menyuapkan sepotong steak miliknya.



Ruli menerimanya dengan baik. Ia pikir, kapan terakhir kalinya dia disuapi seperti ini oleh wanita yang ia cintai secara dalam? Hmm... Hanya masalalu yang bisa menjawabnya.



"Itu apa?" Tanya Diara yang tiba-tiba menginginkan makanan yang suaminya makan.

__ADS_1



"Bukankah kau yang memesannya?"



"Iya tapi aku ingin jugaa..." Rengek Diara yang gemas dengan bibir dimajukan.



Ingin rasanya Ruli mencubit pipi gemas itu, dan mencium bibir menyun Daira sekarang karena terlalu gemas. "Sekali lagi kau manyunkan bibirmu seperti itu, aku lahap sekarang!" Tukas Ruli kesal. Karena ini sedang ditempat umum, namun justru istrinya menggodanya.



"Bodo!" Dengan penuh kurang ajar, Diara mengambil makanan Ruli yang berisi fried chicken steak dan menukarkan nya pada makanan miliknya. "Kita bertukar ya bubu... Supaya soswit"



Ruli membiarkan istrinya untuk melakukan apapun. Saat akan membelah steak daging wagyu, tatapannya justru berlaih lagi pada sebuah pintu resto yang menunjukkan seorang wanita menggunakan penutup yang sedari tadi mondar mandir didepan. "*Siapa dia? Kenapa bentuknya seperti dia*...?" Bantin Ruli yang tidak tenang.



"Bubu?" Panggil Diara heran saat suaminya yang terbengong. Hingga lambaian tangan Diara yang membuat Ruli tersadar. "Ada apa?"



"E-em.. tidak bibu, lanjutkan makanya"



Diara mengangguk dengan senyuman manisnya.




Diara hanya menurut, karena barang yang ia inginkan sudah didapatkan nya. "Baiklah"



Setelah membayar total makanan yang mereka pesan, mereka kembali berjalan beriringan menuju tempat parkiran mobil.



"Bubu, lihatlah dua anak kembar itu sangat lucu sekali haha.." Ucap Diara pelan saat di eskalator sembari menunjuk dua anak kembar perempuan yang di kuncir dua sedang bermain ditempat permainan anak-anak.



Ruli mengikuti arah pandang istrinya. Sebenarnya apa maksud Diara? Apa istrinya menginginkan seorang anak? Hmm... Tidak pernah terpikirkan dibenak Ruli jika ia akan berencana memiliki anak. Ruli pikir hidup berdua saja cukup? Namun jika Diara ingin, mungkin Ruli akan menimbangnya lagi.



"Kau ingin anak?" Tanya Ruli kemudian.



"Apa kau suka jika kita punya anak?"


__ADS_1


"Aku tidak suka anak kecil. Namun jika kau ingin, kita harus berusaha lebih keras lagi" Sambung Ruli lalu mengelus kepala istrinya gemas.



"Benarkah? Kalau begitu, pulang nanti kita langsung gass buat!"



Ruli mengangguk setuju. Tentu jika permasalahan ah..ah.. dia tidak akan pernah melewatkannya, karena olahraga seperti itu adalah bagian dari favoritnya.



Sampai dimobil senyum Diara jadi pudar, berganti dengan rasa gelisah yang ada. "Bubu... Aku sepertinya ingin buang air kecil, aku ke toilet dulu ya..."



"Aku temani" Potong Ruli yang sejak tadi firasat nya sudah tidak enak.



"Tid-"



Drrttt.... Drttt.. Drttt...



Ruli segera melihat ponselnya, yang dimana sang asisten pribadinya menelepon. "Halo, kau mengganggu ku!"



Melihat suaminya yang sibuk bertelepon, Diara pun berniat segera keluar dari mobil dan berjalan lebih dulu menuju toilet, karena rasa kebelet yang sudah diujung tanduk nya.



"*Maaf tuan, ini sangat penting*."



"Katakan sekarang!" Tukas Ruli kesal.



"*Stefani ada didalam mall yang sedang anda kunjungi sekarang. Dia menyamar dengan menggunakan penutup diwajahnya*"



Degg...



Ruli melotot mendengarnya. "Jangan berbohong!"



"*Untuk apa saya berbohong*?"


__ADS_1


Ruli langsung mematikan teleponnya dan melihat sampingnya sudah tidak ada Diara. "Diara" Panggil Ruli kemudian. Ia yang yakin bahwa istrinya sudah keluar dan kembali memasuki mall, Ruli pun segera keluar dari mobilnya dan berlari menyusul istrinya.


__ADS_2