
"Tuan Ruli hanya mengalami demam biasa. Seperti ini bisa disebabkan karena terlalu banyak pikiran, atau mimpi buruk, atau saat mengingat kejadian dimasa lalu yang buruk juga biasanya dapat menyebabkan hal demam seperti ini." Jelas Jeck setelah memeriksa seluruhnya dari Ruli.
"Jangan bohong Jeck, kalau perlu kita akan kerumah sakit sekarang untuk ditangani" Ucap mom Elina yang masih saja khawatir.
Diara yang masih dalam kondisi memeluk tubuh suaminya itu ikut mengangguk. "Benar apa yang mom katakan Jeck" Timpal Diara yang ikut-ikutan.
Ingin sekali rasanya Jeck protes saat dipanggil hanya nama saja, padahal Diara dan dirinya usianya jauh lebih tua dirinya.
"Tidak perlu dibawa kerumah sakit. Saya akan memberikan obat saja, karena sakitnya tidak berbahaya, mungkin hanya butuh em..." Jeck justru tidak lagi melanjutkan kata-katanya.
"Perlu apa?" Tanya mom Elina.
"Perlu pelukan hangat dari wife nya saja" Lanjut Jeck dengan berusaha menahan tawanya.
Sementara mom Elina menganggap bahwa ucapan Jeck mungkin memang benar adanya. Ia pun dengan excited segera mengangguk, "Benarkah? Diara, mom minta kau terus memeluk Ruli seperti itu, ingat! Jangan sampai dilepas pelukannya! Mom takut terjadi sesuatu pada putra mom"
Diara mengangguk. "baik mom"
Sementara Jeck, ia hanya bisa tertawa dalam hati, padahal ia mengucapkan itu hanya ngarang saja agar tuan Ruli semakin bahagia. "*Kau mempunyai hutang yang sangat banyak sekali tuan*" Batin Jeck dalam hatinya, lalu segera membereskan semua peralatan medisnya untuk segera pulang.
Setelah melihat kepulangan Jeck, mom Elina mendekat pada menantunya yang masih memeluk anaknya itu. "Dia bisa berjalan?" Tanya mom Elina pelan.
Diara segera mengangguk. "Iya, memang mom tidak tau?" Tanya Diara heran, ia pikir mom Elina tau lebih dulu bahwa Ruli sudah bisa berjalan.
Mom Elina melipat kedua tangannya dengan memandang anaknya yang sedang tidur itu sinis. "Ck...memberitahu saja tidak, bagaimana mom tau? Coba jika dia sehat, sudah dapat dipastikan dia akan mom jewer sekarang"
Sementara Ruli, ia yang sejak lima menit lalu hanya berpura-pura tidur saja berucap syukur karena diberi sakit sekarang ini setelah Ruli menguping pembicaraan mom Elina dan istrinya. Coba jika dia sehat, pasti saat ini mom Elina akan memarahi dan menjewer nya tanpa ampun karena berani melakukan sesuatu tanpa izin terlebih dahulu.
\#
\#
__ADS_1
\#
Dua hari kini telah berlalu begitu cepat. Di hari libur, Diara berencana untuk mengajak Ruli ke pusat perbelanjaan, karena ada suatu make up yang harus ia beli sekarang ini.
"Ayo bubu... Ini weekend, sangat tidak seru jika kita tidak berjalan-jalan diluar" Diara kini bergelayut manja pada suaminya yang sedang berjemur diteras Mension. Ini adalah trik merayu ala Diara. "Disana sangat seru sekali loh suamiku..."
Ruli menyeruput secangkir minuman hangatnya. Tidak bisa, jika dirinya sudah dipanggil dengan panggilan sayang sudah pasti Ruli akan meleleh. "Argh...baiklah, kita pergi" Ruli lalu menatap istrinya yang sedang bersender dibahu nya. "Puas?"
Diara tersenyum,
Cup!
Satu kecupan manis itu mendarat dipipi tampan Ruli Gyoxer. "Heem...aku puas sekali."
"Ada syarat."
Ruli menggeleng. "Empat ronde" Ucap Ruli yang mulai melunjak.
Diara membuang nafasnya kasar. "Hah...oke, lima ronde~maksutku empat!" Diara menutup mulutnya yang salah dalam berbicara.
"Tidak bisa, aku ingin yang pertama kau ucapkan"
"T-tapi"
"Sudah, kau bersiaplah terlebih dahulu."
Walaupun berat, namun Diara harus terpaksa pergi dan bersiap-siap. Tapi tidak apalah lima ronde, yang penting nanti di Mall, Diara berjanji untuk menguras habis harta suaminya itu sebagai pengganti nanti malam.
Selang beberapa waktu, merekapun kini telah siap untuk menuju ke Mall, terlebih Diara yang begitu tidak sabarnya kesana untuk membeli lip cream yang ia dambakan sedari dua hari yang lalu, namun karena suaminya yang masih sakit jadi terpaksa Diara pending sementara untuk membelinya.
__ADS_1
Yah bagaimana lagi, siapa yang mau Diara ajak selain suaminya? Sahabat bahkan sekarang Diara sudah tidak punya lagi, hanya Gyora dan Tye lah sahabat terbaiknya tanpa memandang bulu padanya, namun karena keegoisannya waktu itu, dia jadi harus mengakhiri persahabatan itu.
Disepanjang perjalanan menuju Mall, hanya ada kesunyian didalam mobil dengan suara super halus itu. Pikiran Diara sekarang jadi teringat pada kedua sahabatnya, kira-kira mereka sedang apa, apa mereka juga sedang bersenang-senang berdua saja tanpa dirinya? Huh... memikirkannya membuat Diara jadi cemburu dan menyesal karena terlalu egois waktu itu.
"Bibu, ada apa?" Tanya Ruli saat melihat wajah murung istrinya.
Diara menggeleng pelan sembari melihat padatnya jalanan kota. "Tidak apa-apa. Aku hanya kepikiran pada Tye dan Gyora" Jawab Diara yang lemas.
"Gyora?" Tanya Ruli. Ia jadi teringat pada sosok perempuan bernama Gyora yang ia kenal sebelumnya.
Diara mengangguk, kemudian tatapannya berlaih pada Ruli. "Kenapa? Kau kenal?"
Ruli segera menggeleng. "Tidak, hanya memikirkan saja, ada seseorang juga yang bernama Gyora yang ku kenal. Apa boleh aku lihat fotonya?"
Diara melirik suaminya dengan tatapan sinis, karena ia pikir suaminya itu sedang tertarik dengan sahabatnya.
Ruli yang melihat tatapan itu kini menghela nafasnya. "Bukan siapa-siapa, hanya ingin memastikan saja, apakah benar dia orang yang ku kenal atau bukan"
Walau dengan bibir yang cemberut, Diara tetap membuka tasnya untuk mengambil ponselnya. Ia pun segera membuka galeri yang ada foto bersama Gyora. "Ini Gyora"
Drtttt.... Drtttt..... Drtttt....
Belum saja melihat foto itu, Ruli harus dulu mengangkat teleponnya menggunakan earphone agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
"*Tuan, salah satu anggota Radex mengatakan, bahwa ada korban anda yang saat ini sedang disekeliling kita. Dia perempuan, dan mungkin berusaha untuk memberitahu orang-orang siapa jati diri anda*"
"Siapa?" Tanya Ruli pelan.
"*Stefani*"
Mendengar nama itu lagi, membuat Ruli jadi Dejavu akan nama wanita itu. Wanita yang menjadi salah satu korbannya dulu. "Aku akan waspada" Ruli lalu mematikan teleponnya agar Diara tidak curiga dengannya.
__ADS_1