Terjerat Hasrat With Pria Lumpuh

Terjerat Hasrat With Pria Lumpuh
Seperti pernah mendengar nama itu


__ADS_3

"*Diara, aku putuskan jika kita akan ada panggilan sayangnya, yaitu abu dan abuy" Ucap seorang lelaki di sebuah taman kota yang begitu indah*.



*Diara mengerutkan keningnya mendengar nama yang baru didengarnya. "Kenapa itu? Namanya sangat aneh, kenapa tidak sayang saja?" Tanya Diara, lalu menyenderkan kepalanya dibahu sang kekasih yang baru dua hari ini resmi jadian*.



"*Aku ingin lain daripada yang lain" Jawab pria tampan dengan kacamata minus nya yang menambahkan dirinya agar semakin terlihat tampan. "Abu itu menurutku seperti panggilan sayang yang begitu halus dan membuatku teringat akan kucing ku yang berwarna abu-abu, kalau abui ya sama saja, hanya ditambah 'i' nya saja" Jelas pria itu*.



*Diara hanya bisa mengangguk mendengar penjelasan itu. "Baiklah, Abu ku..." Ucap Diara kemudian yang setuju dengan usul panggilan sayang itu*.



*Pria itu mengusap kepala Diara dengan sayang. "Seminggu lagi kau harus lihat, dimana aku mengucapkan sumpah dokter nanti." Pria itu memandangi kekasihnya yang masih menggunakan seragam putih abu-abu*.



*Diara mengangguk. "Pasti. Aku bangga padamu, aku bangga pada diriku karena mempunyai kekasih seorang dokter*"



\_\_\_\_\_\#\#\#\#\#\#\#



\#



\#



Diara menghentikan lamunannya saat tangan Ruli melambaikan didepan wajahnya.



"Bibu? Ada apa?" Tanya Ruli dengan perasaan aneh saat memanggil Diara dengan sebutan seperti itu. Rasanya sangat tidak cocok bagi dirinya yang terlihat cool.



Diara menggeleng cepat. "Tidak ada. Kau mau mencoba sushi milikku?" Tawar Diara pada Ruli untuk mencoba makanannya.



Ruli menggeleng. "Aku tidak suka sushi" Jawab Ruli yang makan malamnya hanya memesan salad sayur saja.



Diara mengangguk lalu kembali menghabiskan makan malamnya hingga selesai.



Setelah selesai Ruli lalu segera membayar makanannya.



"Pulang?" Tanya nya pada Diara.



Diara mengangguk. "Iya, aku ingin tidur lagi untuk merilekskan tubuh ku yang semakin sakit karena mu!"


__ADS_1


Ruli lagi lagi dibuat tersenyum. "Maaf, tapi mungkin besok kita akan melakukannya lagi, dan seterusnya"



"Terserah" Timpal Diara yang benar-benar sudah lelah dengan sikap suaminya itu.



\#



\#



"Bubu... apakah aku boleh bercerita padamu?" Diara kini mulai berani untuk menyenderkan kepalanya dibahu Ruli yang masih sedang menyetir mobil itu.



"Aku bilang bahwa aku mencintaimu, itu berarti aku akan selalu siap untuk menjadi tempat teduhmu" Jawab Ruli yang masih berfokus pada jalanan.



Diara mendongok, melihat wajah suaminya. Tangan nakal wanita itu kini berniat untuk menggoda Ruli dengan memegangi jakun milik Ruli.



Ruli yang sedang menyetir masih mencoba untuk fokus. Jakun nya sudah naik turun karena sentuhan Diara yang membuat dirinya jadi panas, padahal saat ini di Jepang sedang musim dingin.



"Bibu, jangan memancingku! Kau tidak takut jika sampai di hotel aku akan menerkam mu lagi?" Ucap Ruli dengan suara tertahan dengan menahan gejolak nya.




Ruli menggelengkan kepalanya. "Huh.. Ternyata kau cukup lebih dari nakal" Tukas Ruli yang tidak habis pikir dengan kelakuan istrinya.



"Oke baiklah ...aku tidak akan nakal lagi supaya kau semakin mencintaiku" Diara lalu kembali duduk tenang tanpa bersandar pada bahu suaminya lagi. "Aku menemukan kejadian aneh"



Untuk dua detik Ruli melihat wajah istrinya yang serius. Sepertinya ini cerita sangat penting. "Apa?"



"Malam hari saat aku akan berangkat ke bandara, ada kucing yang menyebrang, dan aku langsung mengerem mobilku mendadak" Lanjut Diara lalu tiba-tiba tangannya digenggam sendiri karena sedang mengingat kejadian kemarin malam.



"Lalu? Hanya itu saja?"



Diara menggeleng. "Tidak. Lalu ada burung gagak mengelilingi mobil ku. Dan, setelah itu ada yang mengetuk jendela mobil ku dengan mengatakan 'Tolong' , namun karena aku takut jadi aku langsung menjalankan mobilku dengan kecepatan tinggi"



"Dimana kejadian itu?"



"Tengah hutan menuju Mension"

__ADS_1



Glek...



Ruli menelan ludahnya sendiri saat pikirannya tertuju pada-.



"Lalu, saat sampai dibandara, aku melihat ada bercak darah dengan bertuliskan...R-radex..." Diara menatap Ruli. Melihat ekspresi apa yang Ruli tunjukkan saat ia menceritakan kejadian yang menurutnya sangat menyeramkan.



Ruli menggenggam erat setir mobil itu. Sudah ia duga bahwa Radex pasti akan dibawa dalam cerita Diara.



"Bubu, kau baik-baik saja?" Tanya Diara saat melihat wajah suaminya yang terlihat khawatir.



Ruli sedikit memaksakan senyumannya. "Iya, aku baik-baik saja"



"Kira-kira Radex itu nama apa? Aku merasa seperti pernah mendengar namanya, namun lupa dimana dan kapan" Pinta Diara yang sedang berusaha mengingat nama itu.



"Sudahlah, jangan di pikirkan, mungkin itu hanya orang iseng saja." Saran Ruli kemudian guna Diara mengalihkan pembicaraan ini.



"Tapi tidak mungkin jika hanya iseng, man-"



Ruli meletakkan jari telunjuknya pada bibir sexy yang banyak sekali bicara itu. "Shhttt...Jangan dipikirkan lagi. Lebih baik kau pikirkan besok mau jalan-jalan kemana bersamaku"



Mendengarnya, Diara jadi menerbitkan senyuman nya lagi. "Ah...benar, aku sudah berencana untuk liburan ke Jepang dengan menyiapkan beberapa list yang akan di kunjungi. Bubu yakin ingin ke tempat itu?"



Ruli mengangguk. "Tentu saja. Kita buat kenangan indah yang tidak akan pernah bisa dilupakan nantinya"



"Sakura! Aku ingin pergi ketempat dimana ada banyak jenis bunga sakura disana" Pinta Diara dengan semangat membara.



"Hmm...besok kita akan kesana"



"Yey..! Terimakasih, untuk saat ini aku semakin yakin bahwa kau mencintaiku" Secara redflag Diara memegang lengan itu dan memeluknya hingga Ruli hanya menyetir dengan satu tangan.



"Dan untuk selamanya" Lanjut Ruli lagi.



"Semoga saja" Tanpa Ruli tau, bahwa Diara saat ini sedang menitihkan air matanya mengingat kejadian dari masalalu. "*Aku akan belajar mencintaimu Ruli Gyoxer, maaf kalau aku terlalu jahat*" Batin Diara kemudian.

__ADS_1


__ADS_2