Terjerat Hasrat With Pria Lumpuh

Terjerat Hasrat With Pria Lumpuh
Bubu dan Bibu


__ADS_3

Di hari yang masih sore itu, Diara menggeliat tidak nyaman saat tubuhnya ada yang terus menerus mengecup tanpa henti, terutama dibagian payu_dara milik Diara.


"Eghh... Ruli berhentilah untuk melakukan itu!" Erang Diara dengan suara serak basah khas bangun tidur. Ia mendorong pelan kepala suaminya yang malah semakin bersemangat lagi.



"Panggil aku dengan mesra baby..." Perintah Ruli lalu menenggelamkan wajahnya diantara dua bongkahan paling favoritnya itu.



"Argh... Malas! Ruli jelek!" Tukas Diara yang justru malah mengejek dengan matanya yang masih terpejam seakan sangat malas untuk membukanya karena masih mengantuk. Ia mendorong cukup keras suaminya dan segera membalikkan tubuhnya memunggungi Ruli, ia juga menarik selimutnya lagi keatas sampai pada bahunya.



Ruli duduk, ia kemudian menatap istrinya yang malah tidur lagi setelah beberapa menit yang lalu ia ganggu. Ia membuka selimut tebalnya dan memperlihatkan benda pus\_aka nya yang sudah berdiri tegak, padahal tadi baru saja pemanasan ringan. "Dasar Ruli kecil! Baru juga sebentar, sudah bangun lagi" Gumam Ruli, matanya melirik lagi pada istrinya dengan posisi yang masih tetap sama, yaitu memunggunginya.



"Sayang...ayo kita mandi" Ucap Ruli manja, lalu kembali tertidur lagi dan memeluk tubuh ramping bak gitar spanyol milik istrinya itu.



"Hmmm..." Respon Diara yang singkat.



"Ayo kita mandi bersama" Tangan nakalnya kini telah berani memasuki selimut tebal berwarna putih itu, dan mer\_emas pelan dua bongkahan itu lagi.



Diara segera menyingkirkan tangan nakal itu dengan kesal. "Biasakan jangan mengganggu ku! Aku lelah, kau pikir aku tidak tau, saat aku tertidur kau memasukkan nya lagi!" Gerutu Diara jengkel pada Ruli. Bayangkan saja, disaat dirinya sedang enak tertidur, justru Ruli memanfaatkan kesempatan itu untuk melakukan itu lagi, rasanya Diara ingin marah, namun karena terlalu lelah jadi ia biarkan saja.



Ruli menyengir kuda dibelakang punggung Diara, ia tidak menyangka jika istrinya akan mengetahui semuanya.



Karena kesal Ruli terus mengganggu nya, Diara pun menendang kaki suaminya itu cukup keras.



"Akkhh...!" Ruli menjerit saat merasakan kakinya nyeri saat ditendang oleh istrinya.



Diara segera melotot, ia baru menyadari jika dirinya sudah sangat keterlaluan karena telah menendang kaki yang baru selesai dioperasi itu. Ia bangun dan menyibak selimutnya serta membuang nya asal. "Astaga...maaf, aku terlalu kesal" Ucap Diara yang panik lalu segera mengelus dan meniup kaki yang tadi ia tendang itu.



Ruli yang masih berbaring itu melihat kejadian sekarang, dimana Diara yang begitu peduli akan dirinya yang sedang kesakitan. "Hmm...Tapi ada hukumannya" Titah Ruli dengan senyum seringai nya.

__ADS_1



"Aaa...!" Pekik Diara saat melihat ular sawah yang berdiri tegak itu lagi. Ia mundur perlahan untuk menjauh. "Ish...! Bisakah menidurkannya? Aku takut melihat urat-urat nya!" Gerutu Diara kesal, lalu segera turun dari ranjang dan berniat untuk mandi sendiri.



"Sayang...hanya kau yang bisa menidurkannya" Teriak Ruli melihat Diara yang sudah menjauh.



"Kemarilah! Aku rasa dikamar mandi jauh lebih asik" Teriak Diara dari dalam sana.



Ruli tersenyum lebar. Dengan semangat empat lima, ia segera bangun juga dan berlari menyusul Diara dikamar mandi.



Diara yang sudah berendam didalam bathtub pun terpejam lagi menikmati sensasi aroma sakura dari air bathtub itu. Ia tersenyum membayangkan ucapannya tadi, padahal ia mengatakan itu hanya bercanda saja, lalu setelahnya Diara mengunci kamar mandi agar suaminya tidak bisa masuk.



Diara membuka matanya saat merasakan ada seseorang yang ikut masuk dalam bathtub. "K-kau! Bagaimana bisa masuk ke sini?!" Pekik Diara terkejut saat Ruli sudah ikut join kedalam bathtub.



"Dengan menggunakan sidik jari, kau lupa ini hotel milik ku?" Tanya Ruli.



Diara cemberut kesal mendengarnya. Kali ini ia benar-benar kalah, karena pasti setelah ini Ruli akan menagih ucapannya yang tadi, Diara akhirnya hanya bisa pasrah seharian ini.



\#



\#



\#



"Sayang, mau makan malam diluar?" Tanya Ruli yang sedang membantu Diara memakaikan br\_a nya. Ini semua juga karena dirinya sendiri yang memaksa pada istrinya untuk dia saja yang memakaikan nya.



"Em..boleh, tapi aku mau kau menggendong ku, karena tubuhku terasa remuk dan ingin runtuh" Jawab Diara kemudian yang benar-benar lemas karena di kamar mandi tadi.

__ADS_1



"Atau malam ini kita pending dulu, biar aku pesan saja?"



Diara menggeleng. "Aku ingin sushi dari tempatnya langsung"



"Baiklah, kita ke restoran untuk malam ini"



Setelah sudah siap semuanya, Ruli menuruti kemauan istrinya untuk menggendong tubuh Diara ala bridal style yang beratnya tidak seberapa itu.



Diara mengalungkan tangannya pada leher suaminya dengan wajah tersenyum terus menatap suaminya yang semakin tampan. "*Apa ini arti mimpi di pesawat itu*?" Batin Diara saat mengingat mimpinya lagi.



Selang beberapa menit, kini mereka telah sampai di restoran sushi yang Diara mau. Ruli segera memesan ruangan VIP yang letaknya di gedung paling atas agar bisa menikmati indahnya malam di kota Tokyo Jepang itu.



"Ruli" panggil Diara kemudian menatap suaminya yang duduk berhadapan dengan nya.



"Biasakah memanggilku dengan yang lebih romantis lagi?"



Diara menahan senyumnya melihat wajah kesal suaminya itu. "Apa? Aku memanggilmu apa?"



"Sayang atau apapun yang terpenting romantis..."



Diara mengarahkan bola matanya keatas untuk berpikir panggilan apa yang cocok kira-kira. "Emm... bagaimana jika bubu dan bibu? Kau memanggilku bibu dan aku memanggilmu bubu?"



Alis Ruli berkerut heran dengan panggilan yang tidak ada romantisme nya sama sekali. "Panggilan apa seperti itu? Aku baru mendengarnya"



"Panggilan kucing gemes... seperti pada permainan yang aku download dulu..."

__ADS_1


__ADS_2