
Sementara itu, dimension Ruli Gyoxer, kini belum juga selesai dengan pertempuran hebat itu.
Semuanya tidak ada yang mau mengalah, baik anggota Radex maupun Doge sama-sama kuat, dan semakin lama pasukan dari keduanya juga mulai berdatangan.
Taman yang semula sungguh rapi kini menjadi berantakan tak beraturan, Mension yang sebelumnya terlihat begitu mewah, kini beberapa kaca pecah berhamburan kebawah karena sebuah peluru.
Dor!
Saking Ruli tidak fokusnya, ia sampai terkena tembakan dibagian lengannya. Ia pun berbalik, menatap siapa yang sudah berani menembak.
Agler meniup pistolnya yang baru saja ia gunakan untuk menembak sang ketua Radex itu. "Welcome to Ruli Gyoxer" Sapa Agler dengan wajah kemenangan melihat darah yang bercucuran keluar dari lengan kekar Ruli Gyoxer itu.
Ruli benci dengan tatapan yang ditunjukkan oleh Agler. Tidak, Ruli tidak mau jika harus kalah dalam permainan Agler, Ruli tidak akan mau kejadian seperti lima tahun silam kembali terulang, ia tidak akan rela. Sejauh apapun dan sebenci apapun Diara padanya, akan Ruli pastikan Diara terus berada disampingnya dan bersamanya, sekalipun dengan paksaan namun Ruli tidak peduli.
"Sudah puas?" Tanya Ruli dingin.
Agler mengangkat satu alisnya. "Puas? Tentu aku belum puas sebelum kau benar-benar hancur! Karena keluarga mu lah awal kehancuran ku! Aku tidak akan pernah puas sebelum keluarnya Gyoxer benar-benar musnah! Mati harus di bayar mati! Dan kehancuran juga harus dibayar kehancuran! HATIKU HANCUR, MAKA RADEX JUGA AKAN HANCUR!"
Ruli sedikit tertawa mendengar ucapan menyedihkan dari Agler. "Sesedih itukah hidupmu? Jika keluarga mu tidak lebih dulu berani menantang Radex, maka sudah dapat dipastikan keluarga mu utuh sekarang. Radex tidak akan gegabah dalam melakukan apapun, kecuali saat dirinya di ancam!"
"Oh ya? Dengan dirimu dan yang lainnya menyiksa ratusan wanita dan dijadikan pemuas nafsu? Itu bukan suatu tindak kejahatan? Apa mereka juga mengancam mu sampai seperti itu?"
Ruli mengepal, ingin rasanya dia membunuh Agler sekarang juga, ingin rasanya ia segera menembak jantungnya agar cepat bertemu dengan tuhan. "Tutup mulutmu! Kau tidak tau apapun tentang Radex!"
Agler tertawa terpingkal-pingkal mendengarnya, melihat wajah serius Ruli yang seperti seekor kera. "Hahahaha.... Aku? Tidak tau Radex?? Hmm... Aku rasa kau perlu tarik lagi ucapan mu. Ingat! Mahkota Radex saat ini sedang berada ditangan Doge, dan apa kau tau siapa yang berani mencurinya?" Tanya Agler dengan tatapan merendahkan.
__ADS_1
"Istrimu, istrimu sendiri yang telah mencurinya hahaha.... Lucu, bahkan istrimu berkata juga untuk menghancurkan mu. Ia berjanji akan memasukkan mu kedalam penjara agar dihukum mati setelah aku menunjukkan video mu beberapa tahun lalu hahaha...." Agler tertawa puas dengan ucapannya sendiri. Ia merasa puas, ia merasa menang kali ini.
"Sialan!"
DOR..!
Satu peluru berhasil Ruli tembakan, namun entah kenapa kali ini arahan nya meleset dan tidak sama sekali mengenai Agler.
"Apakah pikiran mu sedang buruk Ruli Gyoxer? Sampai tembakanmu meleset?"
Agler pun langsung menyuruh anggota nya untuk berhenti dengan peperangan ini, begitupun dengan Ruli yang menyuruh semuanya untuk berhenti.
Tidak ada yang memang ataupun kalah, semuanya sama dan imbang antara Radex dan Doge.
Beberapa menit berlalu, semua anggota Doge sudah pergi, dan hanya menyisahkan anggotanya saja.
Axel berjalan menuju Ruli dengan tatapan membunuhnya. Ia mendorong kasar ketua Radex itu hingga terduduk ketanah. "SIALAN!! BO\_DOH!! KAU PENGECUT!!! APA MAKSUTMU HAH...! BAHKAN ISTRIMU SENDIRI ADALAH PENYUSUPNYA! BI\_ADAP KAU RULI!" Bentak Axel dengan wajah emosional. Bertahun-tahun ia begitu menjaga mahkota Radex dan jangan sampai ada yang mengambilnya, namun tetap saja dan semuanya hanya sia-sia hanya karena seorang wanita yang dimana itu adalah istri dari ketuanya sendiri.
Ruli tidak membalas perkataan Axel, karena semua yang Axel ucapkan benar. Dia memang bodoh, bodoh jika sudah mencintai seorang wanita.
"DIARA HARUS MATI!"
Ruli langsung melayangkan tatapannya pada Axel. "jangan pernah coba-coba untuk membunuh wanita ku!" Ruli lalu bangkit berdiri dan saling bertatap dingin dengan Axel.
__ADS_1
"Diara tetap akan mati!"
Bugh...!
Ruli melayangkan suatu pukulan pada Axel hingga menyebabkan darah keluar dari hidung Axel.
"Sampai kau berani membunuh nya, maka aku akan membunuhmu juga!" Ancam Ruli dengan dingin. Ia lalu berjalan menjauhi Axel.
Ia menggerak-gerakkan tangannya agar semua anggotanya segera memasuki ruang bawah tanah untuk merencanakan sesuatu agar Diara segera kembali ke tangannya lagi.
\#
\#
\#
Sementara itu, Diara yang kini sudah sampai pada sebuah rumah kuno berbahan kayu namun begitu mewah, telah termenung didalam sebuah kamar yang dimana ada Gyora disitu.
"Kau kenapa?" Tanya Gyora yang kemudian berjalan menuju Diara.
Diara menggeleng, lalu menghela nafasnya. "Tidak apa-apa. Aku hanya sedang teringat kenangan bersama Amar-ku saja" Jawab Diara jujur.
"Aku tidak menyangka bahwa kematian Amar benar-benar begitu tragis, bahkan aku melihat sendiri kerangka tengkorak yang terpajang disitu. Dan... Pelaku tersebut ternyata adalah suamiku sendiri " Titah Diara lirih.
Gyora pun juga turut serta sedih mendengar masalah sang sahabat. "Hah... Inilah hidup, dunia begitu sempit sekali sampai-sampai seseorang yang kita pikir tidak mungkin melakukannya, ternyata dia adalah suhu nya. Entahlah, hanya kebetulan atau memang sudah garis takdir, sampa seperti cintaku pada Anson yang tak pernah pudar" Kini giliran Gyora yang malah curhat tentang percintaan nya dan mengikut mellow.
__ADS_1