
Diara yang sedang duduk di tepi ranjang, menatap heran suaminya yang terlihat begitu gelisah di sana. "Ada apa? Kenapa kau terlihat gelisah?"
Ruli beralih menatap sang istri. "Aku rasa kita harus pulang sekarang" Ucap Ruli kemudian. Ia pun mendekati Diara dan duduk disampingnya.
"Kenapa? Kenapa sangat terburu-buru sekali" Lirih Diara dengan wajah sedihnya. Ia belum mau pulang karena masing ingin menjelajahi negara Jepang ini.
"Di kantor sedang ada masalah, jadi aku harus turun tangan sendiri untuk menanganinya" Jelas Ruli beralasan. Tidak mungkin jika dia harus menceritakan bahwa saat ini ada musuh bebuyutan nya yang mulai mengintai lagi dirinya.
Diara menghela nafasnya panjang mendengar penjelasan dari bubu, suaminya. "Sangat dis~"
"Aku akan memberikan mu tas serta perhiasan impianmu yang Daddy pernah melarang mu untuk membelinya" Ucap Ruli dengan memotong perkataan istrinya.
Diara yang tadinya lemas, letih, lesuh, sedih pun jadi kembali bersemangat. "Oh my god, ya sudah tidak apa-apa. Ayo kita pulang sekarang, jangan lupa membeli itu sekarang juga ya." Diara lalu berdiri dan berganti baju untuk bersiap-siap segera pulang dari Jepang.
Ruli menatap kepergian istrinya yang sudah mulai menjauhi begitu cepat. Ia tidak habis pikir dengan otak dan pikiran wanita yang kini dicintainya, apakah definisi bahagia menurut Diara Moana adalah uang serta harta benda?.
Ruli menggelengkan kepalanya. "*Kau beruntung menikah denganku, karena sampai kapanpun hartaku tidak akan habis sekalipun kau membeli dunia ini*" Batin Ruli yang sombong pada dirinya sendiri.
Ia segera menelepon Axel untuk memesankan nya tiket pesawat kembali. Sebenarnya Ruli bisa saja memanggil helikopter nya untuk kemari, namun rasanya cukup mager dan terlalu berisik jika menggunakan helikopter, jadi Ruli memilih jalan pintas dan cepat untuk menggunakan pesawat umum, namun dengan fasilitas kelas atas tentunya.
"Bubu, aku siap"
Ruli melihat penampilan istrinya dari atas sampai bawah. Ia lalu berdiri, menatap penuh pembunuhan pada sang istrinya, ia semakin maju seolah ingin menerkamnya bak vampir saat melihat darah suci.
__ADS_1
Diara mundur secara perlahan melihat sikap Ruli yang tiba-tiba berubah jadi menyeramkan seperti iblis kerasukan. "B-bubu...K-kau kenapa?" Tanya Diara dengan gemetar. Ia pun jadi mundur dan mundur terus saat Ruli yang semakin maju.
"Kau lupa dengan ucapan ku beberapa Minggu lalu hmm...?" Tanya Ruli dengan menyeriangi.
Sembari berjalan mundur, Diara terus mengingat apa yang suaminya itu katakan beberapa Minggu yang lalu, jujur saja Diara adalah wanita yang pelupa jika tidak begitu penting untuk diingat, terutama lupa pada ucapan Ruli yang ini. "A-apa..? A-aku s-sungguh lupa" Titah Diara lirih. Hingga kini dirinya sudah mepet pada tembok.
Ruli mengepung Diara dengan kedua tangannya yang ia tempelkan ditembok untuk menguncinya. "Yakin?"
Dengan ragu-ragu Diara mengangguk pelan. "I-iya" Jawab Diara takut.
"Karena kau lupa, maka sebelum kita pulang kau akan aku beri hukuman yang sepadan. Berani-beraninya kau melupakan ucapanku" Ruli segera membungkam bibir sexy itu dengan bi\_bir miliknya. Ia melakukan ciuman itu dengan cukup kasar namun sangat nikmat.
"Hah...Aku benar~hhmmppp!" Mulut Diara kembali dibungkam, padahal ia belum menyelesaikan pembicaraan nya.
Ruli terus menekan tengkuk Diara agar semakin memperdalam cium\_annya. Sementata satu tangannya memegangi tengkuk, satu tangannya lagi ia gunakan untuk mengangkat tubuh ramping berisi itu.
hingga kini Diara seperti seorang anak yang sedang digendong oleh ayahnya, ia juga bagaikan gendongan kanguru. Diara mengalungkan tangannya pada leher Ruli dan melingkarkan kedua kakinya pada pinggang milik Ruli juga karena takut akan jatuh.
Sembari ciu\_man itu terus dilakukan, Ruli juga dengan berjalan perlahan menuju meja yang tidak terlalu tinggi, namun juga tidak terlalu pendek, jadi pas pada ukuran pinggang nya. Ia mendudukkan Diara di atas meja itu.
"I-ingin apa?" Tanya Diara dengan bibir yang sudah semakin merah dan bengkak karena ulah Ruli. Diara lalu melihat sekeliling, dimana dirinya sedang duduk diatas meja.
__ADS_1
"Tentu saja menghukum mu" Jawab Ruli yang kini sudah membuka baju sexy tipis seperti lingerie atau baju dinas malam. "Seharusnya kau tidak usah memakai baju sekalian" Ucap Ruli kesal saat mengetahui baju yang Diara pakai benar-benar sexy dan sangat tipis kainnya, hingga pakaian dalam itu terlihat jelas.
"Tadinya aku juga berpikir begitu, tapi aku rasa itu terlalu tidak sopan" Sambung Diara yang belum menyadari lagi akan tatapan membunuh dari Ruli.
Krek!
Mendengar ucapan dari Diara justru membuat Ruli semakin menahan emosinya. Ia pun akhirnya merobek baju yang bentuknya tidak seperti baju.
Diara melotot dengan suara robekan itu. Ia lalu menatap baju mahal limited edition nya yang kini telah di robek oleh suaminya sendiri. "Kau gila! Arghhhhh!!!" Diara memukul dada suaminya dengan menggebu-gebu seakan ingin membunuh. "Kau keterlaluan huaaa....!" Tangis Diara kini pecah didalam kamar hotel itu. Bajunya yang baru sekali dipakai kini sudah mengenaskan dengan mentuknya yang sudah menjadi dua bagian.
"Aku sudah tidak mencintaimu lagi" pekik Diara kemudian. Demi apapun, baju ini adalah baju paling mahal daripada yang lainnya.
Mendengarnya membuat telinga Ruli jadi panas. Ia pun segera melepaskan celananya sendiri dan segera membuka milik Diara yang hanya menggunakan celana dal\+am saja. "Kau akan tau akibatnya saat berani berbicara seperti itu."
Diara yang masih duduk diatas meja dengan tangisan yang tidak berhenti pun belum menyadari apa yang terjadi. Ia bahkan menutupi wajahnya saking jengkelnya.
Jlep!
Tangis Diara terhenti saat seperti ada yang memasuki bagian bawahnya. "Arghhh...! Lepaskan!!!" Teriak Diara yang berusaha untuk memberontak melepas agar benda pus\+aka itu keluar.
Ruli memegang erat pinggang itu dan mulai bergoyang memajukan dan memundurkan pingg\+ulnya secara bergantian.
Dan berontakan itu juga semakin lama semakin terhenti saat merasakan benda pusaka itu yang semakin masuk kedalam hingga menyentuh bagian paling puncak.
__ADS_1