
Ruli memasuki kamarnya setelah jam menunjukkan pukul tengah malam. Karena beberapa jam ia habiskan diruangan kerjanya untuk membahas soal kedepannya bersama Axel jika sewaktu-waktu Doge benar-benar berulah dan merusak keluarga atau bahkan anggotanya.
Ia dapat melihat selimut yang menyembul keatas, menandakan bahwa Diara sudah tertidur.
Satu tatapan lirih terarah pada Diara sebelum ia menaiki ranjang. Pada waktu dan tahun ini, ia sudah memantapkan hatinya untuk di isi dengan seorang wanita bernama Diara Moana, YAITU istrinya sendiri.
Ruli kemudian perlahan menaiki ranjang, menatap wanitanya dengan begitu lekat dan tak mau beralih pada yang lainnya. Wajah sangar nya begitu tidak cocok saat menunjukkan ekspresi galau.
"Apa mungkin cinta kita bisa sampai surga nanti? Aku ingin menguasai luasnya lautan cinta bersamamu... Tanpa ingin ada kata pisah didalamnya"
Ruli perlahan memejamkan matanya setelah menikmati indahnya wajah sang ratunya itu.
\#
\#
\#
Pagi harinya, sekitar pukul 4 pagi, Diara bangun lebih dulu dengan menatap wajah Ruli yang berkali lipat tampannya saat masih tertidur...
Tidak tau, Diara bingung, hatinya tiba-tiba merasa tidak enak untuk hari ini. Apa mungkin hari ini adalah akhir dari semuanya? Meninggalkan seorang pria yang baru saja berani Diara cintai lagi, pria yang sudah Diara anggap beberapa hari yang lalu akan menjadi pendampingnya sampai anak cucu nanti, pria yang kemarin masih Diara kagumi, pria yang kemarin-kemarin masih melakukan malam panas dengan dirinya.
"Mungkin untuk sekarang aku sudah beranggapan dan bertanya-tanya. Apakah aku cinta mu atau bukan? Aku siapa mu bagimu? Apakah aku wanita mu? Atau justru musuhmu yang sebentar lagi akan dirimu musnahkan? Wanita seperti apa sebenarnya aku ini dimata mu Ruli Gyoxer?"
Hingga tatapan itu terus berlanjut sampai dua jam lamanya, dimana saat Ruli yang mulai mengerjapkan kedua kelopak matanya dan bangun.
"Sayang...?" Panggil Ruli dengan terkejut melihat istrinya yang terus menatapnya teduh.
Diara tersadar dalam lamunannya. Begitu sangat sial, kenapa dirinya tidak menyadari bahwa Ruli sudah bangun. "E-em.... Iya bubu, ada apa?" Tanya Diara gelagapan.
__ADS_1
"Kenapa kau menatapku seperti itu?"
Diara segera menggleng. "Tidak apa-apa, aku hanya iseng saja hehe..."
Tidak kuat lagi menahannya saat melihat bibir indah yang sudah semalaman tidak ia rasakan, Ruli segera menerkam Diara dengan ciu\_man buasnya.
Diara menikmati ciu\_man yang Ruli berikan, mungkin karena ia pikir ini adalah yang terakhir, ia pun juga akhirnya membalas ciuman itu dengan tak kalah agresifnya daripada Ruli.
Mereka saling mel\+umat dan mem\+ilan, serta meng\+hisap dengan lihai seperti tidak ingin kalah, walau bibir yang sudah sama bengkak, namun mereka tetap tak ada yang mau mengalah.
Tangan nakal Ruli semakin memasuki baju Diara dan me\_remas pelan salah satu bongkahan favoritnya.
Ahh...! Suara indah yang Ruli tunggu-tunggu untuk keluar dari mulut Diara akhirnya keluar juga.
Mereka melepaskan ciumannya.
"Aku suka mendengar des@han mu sayang." Ucap Ruli dengan suara seraknya menahan gejolak hasrat yang patutnya harus dituntaskan sekarang.
Namun, baru akan membuka bagian bawah Diara, sebuah telepon dering sudah menggema diseluruh kamar mereka. Ruli mendengus kesal saat aktivitasnya benar-benar diganggu.
"Sebentar sayang"
Diara mengangguk pasrah.
Ruli segera bangun dan mengambil ponselnya, mengecek siapa yang telah meneleponnya sekarang. Ternyata itu adalah telepon dari Axel.
"*Tuan, ke markas sekarang juga! Saya baru saja mendapatkan informasi bahwa anggota Doge ada yang berada di negara kita*"
__ADS_1
Perkataan Axel mampu membuat Ruli terbelak. "Aku kesana" Jawab Ruli cepat lalu mematikan ponselnya. Ia pun tanpa mandi terlebih dahulu pergi berganti baju dengan kantor agar istrinya tidak curiga.
Diara menatap aneh diatas ranjang. "Bubu, kau mau kemana? Bukankah belum mandi?"
"Ada kepentingan yang tidak bisa ditunda dikantor, aku izin pergi dulu, hanya sebentar saja"
Pergi? Apakah ini adalah sebuah kesempatan emas baginya? Apakah ini adalah waktu paling tepat untuk melakukan sebuah rencana dengan Stefani?
"Baiklah, hati-hati" Sambung Diara dengan sedikit tersenyum.
"Aku hanya sebentar"
Cup!
Ruli mengecup kening istrinya mesra sebelum berangkat. Ia pun kemudian pergi keluar dan langsung berangkat menggunakan mobil pribadinya menuju markas.
Melihat kepergian Ruli, membuat Diara tersenyum miring. Ia pun lalu membenarkan kembali bajunya yang berantakan dan turun dari ranjang.
Matanya melihat pada sebuah gelang yang kemarin wanita bernama Stefani memberikannya, kemudian segera memencet sebuah tombol kecil yang menghubunginya dengan Stefani.
"*Diara?" Tanya Stefani yang keluar dari dalam kalung yang ia pakai*.
"Iya ini aku"
"*Ada apa*?"
"Dia pergi, mungkin ini waktu yang pas" Ucap Diara kemudian.
"*Jadi kau ingin sekarang*?"
__ADS_1
"Lebih cepat lebih baik"