Terjerat Hasrat With Pria Lumpuh

Terjerat Hasrat With Pria Lumpuh
Diara dengan kelicikannya


__ADS_3

Nafas Diara terengah-engah saat ia sudah melakukan pelepasan yang kedua kalinya. "Hah...hah...hah..."


Ruli lalu mencabut miliknya dan tertidur disamping Diara. Ia memandang dari samping wajah istrinya yang dipenuhi oleh keringat itu.



"Mau lanjut lagi?"



Diara melihat kesampingkannya. "Apa? Aku...aku lelah" Ucap Diara menyerah karena ia sudah begitu lemas.



"Aku belum mengalami pelepasan sayang" Ucap Ruli dengan mengusap keringat istrinya yang bercucuran dipelipisnya.



Mata Diara melotot. "Jadi, kau belum pelepasan? B-bagaimana bisa? Kita melakukan itu sudah cukup lama" Titah Diara seakan tak percaya.



Ruli mengangkat bahunya tidak tau, lalu ia mengambil tangan Diara dan mengarahkannya untuk memegang benda pusa\_ka miliknya. "Lihatlah, dia masih saja berdiri tegak sayang..."



Diara menggenggam pusa\_ka milik Ruli yang masih saja berdiri tegak. Rasanya aneh, licin dan begitu besar hingga tidak muat digenggaman tangannya. "Aku harus bagaimana?" Tanya Diara kemudian yang tidak tau harus berbuat apa.



"Bergerak di ata\_sku sayang"



"Hah?!" Diara melotot semakin tidak mengerti.



"Cobalah untuk duduk diatas ku dan bergerak sama seperti ku tadi." Ucap Ruli yang membimbing istrinya agar mau bergerak bergantian di atasnya.



Diara akhirnya menuruti. Ini juga karena ia merasa tidak enak saat Ruli belum juga pelepasan sama sekali, padahal dirinya sudah dua kali. Diara akhirnya bangun, dan anehnya kenapa rasanya tidak ada perih-pedih seperti artikel yang ia baca. Tapi, Diara tidak peduli dengan itu.


__ADS_1


Ia kini sudah duduk diatas perut kotak-kotak suaminya. "Aku harus bagaimana lagi?"



"Sedikit berdiri, lalu perlahan kau duduk dan memasukkan milikku kedalam milik mu" Jelas Ruli dengan suara serak. Ia melipat kedua tangannya dibawah kepalanya. Dibawah Diara, Ruli benar-benar penasaran dengan sensasi itu lagi, ia tersenyum menyeringai menatap Diara yang kini sudah mulai sedikit berdiri.



Diatas, Diara benar-benar ragu untuk duduk lagi, karena masalahnya jika duduk maka pusaka itu akan masuk ke miliknya sendiri. Tapi, karena dia ingin adil, jadi dengan terpaksa Diara pun perlahan menurunkan tubuhnya.



"Aahhhh!!!!" Des\_ah mereka secara berbarengan saat Diara sudah berhasil memasukkan semuanya kedalam lembahnya.



Diara duduk sebentar menikmati sensasinya yang terasa nyut-nyutan karena milik Ruli benar-benar mentok sampai ke rahim miliknya. Kemudian, seperti yang Ruli bilang, ia harus bergerak sama seperti yang Ruli lakukan tadi.



Tubuh Diara pun mulai bergerak naik turun diatas tubuh Ruli.



"Ah..terus sayang...jangan berhenti" Des\_ah Ruli dibawah sana. Tangannya kini berganti mere\_mas sprei dengan mata yang merem melek dan mulut menganga saat Diara mulai bergerak diatasnya.




Seperti dalam video yang pernah ia tonton sesekali, Diara pun menggoyangkan ping\_gulnya semakin lihai dan cepat diatas tub\_uh suaminya. Tubuhnya yang naik turun membuat dua bongkahan itu ikut naik turun juga.



Namun, Ruli dibawah sana yang ingin sekali meremasnya tapi tidak bisa karena dirinya terlalu merasakan lemas dan nikmat yang luar biasa. Benar-benar, Diara kali ini benar-benar membuatnya tidak bisa berkutik hingga menjadi pria lemah. "Ah..Diara stop ah...!" Perintah Ruli yang justru tidak Diara dengarkan sama sekali, ia justru semakin bergerak manja dan cepat dia\_tas Ruli.



Ia merasa sebentar lagi akan berada dipuncak ingin keluar. "Say~ah...aku akan keluar ah.." Des\_ah Ruli dibawah sana yang terlihat hampir gemetar juga.



Diara ingin sekali tertawa diatas sana melihat wajah itu. Ia yang juga akan mengeluarkan pelepasan ketiga itupun semakin dipercepat lagi.


__ADS_1


Ruli menjambak kepalanya sendiri dengan rasa yang sulit dijelaskan. Nikmat lebih dari apapun.



Diara berhenti saat merasakan miliknya dan milik Ruli mengeluarkan cairan itu secara bersamaan. Rahim\_nya terasa sangat hangat saat sper\_ma milik Ruli dikeluarkan didalam. Beberapa saat kemudian, Diara tergeletak diatas tub\_uh Ruli dengan nafas yang juga terengah-engah sama seperti Ruli.



Untuk beberapa saat, mereka saling terdiam dengan mengatur nafasnya masing-masing.



Diara yang otaknya memang jahat bin licik itu berniat untuk mengerjai Ruli lagi diatasnya, beruntung ular sawah itu belum keluar dari miliknya. Diara bangun, ia tersenyum penuh kelicikan.



Alis Ruli berkerut melihat senyuman istrinya, tidak bisa dibiarkan ini terus terjadi, dan istrinya pasti akan semakin senang diatas sana, Ruli dengan memaksakan tubuhnya untuk kembali bangkit dan membalikkan semuanya.



"Ah..kau sangat nakal sayang!" Geram Ruli kesal saat dirinya berhasil mengendalikan semuanya, dan Diara sudah diba\_wah nya lagi. "Kau lihai namun begitu nakal dengan penuh dendam padaku"



Diara sedikit tertawa mendengarnya. "Haha...kau baru tau jika aku perempuan penuh dendam? Bagaimana rasanya?"



"Hmm...sangat nikmat. Aku mencintaimu"



Cup!



Satu kecupan manis mendarat di bibir Diara.



"Yakin? Aku perempuan yang jahat dan tega pada seseorang"



"Aku suka perempuan berani yang jahat dan tega pada seseorang" Jawaban Ruli justru membuat Diara semakin mengembangkan senyuman nya.

__ADS_1



"Oke...aku akan coba juga untuk mencintaimu kalau begitu"


__ADS_2