
Syakila menata rambutnya di hadapan cermin, Ia bingung harus di apakan rambutnya apakah dibiarkan tergerai atau mengikatnya.
Akhirnya Ia memutuskan membiarkan rambutnya tergerai, memberi sedikit polesan bedak dan pelembab bibir, membuat wajahnya yang imut semakin cantik.
Ia juga bingung harus memakai pakaian apa, hari ini Ia akan pergi bersama Papanya, dan Ia memilih pakaian layaknya anak muda celana panjang berbahan katun dan kemeja berlengan panjang membuatnya seperti orang yang akan melamar pekerjaan,
"Apa-apaan ini, ini aneh sekali"
Ia menatap bayangannya di cermin,
"Nggak cocok"
Ia membongkar isi lemarinya dan melihat sebuah dress yang kelihatannya cocok untuk di kenakannya, dress berwarna pink.
Ia kembali menatap bayangannya di cermin.
"Apa ini, apa saya akan fasion show sebagai barbie"
Ia pusing sendiri pakaian apa yang akan Ia kenakan di acara yang akan mereka hadiri.
Akhirnya Ia memilih setelan baju kaos berwarna putih dan celana jens berwarna biru.
"Ya sudahlah pakai ini aja, terlihat lumayan"
Papa sudah menunggu di dalam mobil.
"Syakila, cepat"
"Iya, Pa"
Syakila berlari sambil memakai tas selepang berwarna coklat, tas itu terlihat imut dan cantik saat Gadis itu memakainya.
"Kamu nggak salah, kostum apa yang kamu pakai, emang kamu pikir kita mau ke Mall?"
"Udahlah Pa, yang pentingkan Syakila nyaman"
"Ya sudahlah, terserah kamu saja, Papa nggak ngerti dengan fasion anak jaman sekarang, kalau Mamamu dulu biasanya selalu pakai pakaian yang meriah kalau di ajak ke pesta"
"Ih...Mama norak"
"Siapa bilang norak, Mamamu cantik seperti Miss World"
"Papa berlebihan, Syakila tau fasion Mama, semuanya norak, apa lagi warna bajunya, semua warna terang, membuat mata yang melihatnya kesakitan"
Mereka menyusuri jalan sore itu, jalanan saat itu cukup lancar, tak seperti biasanya sering terjadi kemacetan.
Syakila menghidupkan musik, sambil bersenandung pelan, Papa pokus menyetir sambil sesekali melirik anak Gadisnya yang sedang asyik besenandung.
Akhirnya mereka sampai di parkiran mobil.
Kemudian mereka mulai memasuki tempat acara, ternyata sudah banyak tamu undangan yang hadir, acara itu tampak sederhana, namun cukup meriah.
Ya lagi pula ini hanya acara Wisuda biasa.
Papa bersalaman kepada pemilik acara, tampak mereka saling berpelukan.
"Terimakasih Mas, udah menyempatkan diri hadir di acara sederhana kami"
"Ah...kamu ini, jangan gitu, kayak saya orang penting saja"
"Ini anaknya Mas ya?"
"Oh, iya Shakila salim tangan Om nya"
Syakila menyalim tangan teman Papanya itu.
"Sudah besar kamu, ya. Waktu cepat berlalu ya Mas"
"Ha..ha..ha...Iya, ya, jadi rindu masa muda dulu"
"Mbak Riska nggak ikut?"
"Eh...iya, Dia ada urusan"
"Mbak Riska masih marah ya sama saya?"
__ADS_1
"Hust...jangan bicarakan itu di sini, bisa panjang cerita kita nanti"
"Bagaiman kabarnya Dona?"
"Dia baik-baik saja, lebih baik jangan bicara masalah Dona, kamu tau kan sifat istrimu"
Tiba-tiba seseorang menghapiri mereka, yaitu anak dari temannya Papa.
"Mas ini Yudha anak saya, Dia ini yang baru lulus S2"
"Wah hebat kamu, nak"
Papa menepuk pundak pemuda itu.
"i...ni"
Papa tak melanjutkan ucapannya saat Ia melihat kesmpingnya, ternyata Syakila sudah kabur meninggalkannya yang sedari tadi sedang berbicara dengan teman lamanya.
"Ha..ha...anak saya sudah menghilang, mungkin Dia lagi cari makanan"
"I...iya Om nggak pa pa"
Jawab pemuda itu sopan.
Papa kembali ngobrol dengan teman lamanya, sedangkan Yudha pamit menyambut tamu-tamu yang lain.
Syakila membawa banyak makanan di tangannya, sampai-sampai Ia kerepotan sendri membawanya, tanpa Ia sadari ternyata Ia sudah menabrak seseorang yang membuat pakaian orang itu basah semua.
"Eh...Maafkan saya"
Syakila tak berani menatap orang itu secara langsung.
"Syakila, Kamu Syakila kan?"
Syakila yang mendengar namanya di sebut sontak merasa kaget, Ia mengangkat wajahnya dan mendapati seseorang yang tak asing baginya.
"Pak Yudha"
Syakila refleks membersihkan pakaian Yudha dengan kedua tangannya.
"Ma...maafkan saya Pak, saya nggak sengaja"
"Sudah...sudah tidak apa apa, saya tinggal ganti baju saja"
"Ini acara Bapak?"
Syakila semakin merasa bersalah.
"Iya"
"Sekali lagi saya minta maaf ya Pak"
"Ya sudah kamu duduk saja, nikmati hidangannya, saya ganti pakaian dulu"
Syakila menggerutu mengutuk kebodohannya, bisa-bisanya Ia menunpahkan air ke pakaian Gurunya,
"Saya murid durhaka"
Ia tak berselera lagi untuk makan, kemudian perutnya bersuara dan tanpa sadar Ia sudah menghabiskan semua makanan di hadapannya.
Pak Yudha menghampiri meja Syakila, kali ini denga pakaian yan sudah rapi, pemuda itu tampak manis dan berkarisma.
"Kamu di sini, bersama siapa?"
"Saya sama Papa Pak"
"Oh"
"Bapak hebat, ya sudah S2 masih mau mengajar anak SMA"
"Hmm...nggak ah, Bapak cuma mau menabah pengalaman saja, saya permisi dulu ya, kami bersenang-senanglah anggap saja ini acaramu"
"Eh...I...iya Pak"
Syakila bosan setengah mati di antara orang-orang yang sama sekali tak di kenalnya, ingin rasanya Ia pulang dan meninggalkan Papanya.
__ADS_1
"Pantas saja Mama nggak mau ikut, Papa sih, kalau udah ketemu temannya lupa sama semuanya, apa-apan saya cuma jadi kambing congek di sini"
Sekilas Syakila melihat Pak Yudha yang sibuk menerima selamat dari beberapa tamu.
Ia jadi teringat dengan Rifki, seandainya Dia ada di sini.
Tiba-tiba seseorang sudah duduk di hadapannya, orang itu adalah Rifki
"Kenapa bayangan ini terlihat nyata"
"Hei"
suara itu membuyarkan lamunannya
"Dia di sini juga?"
Syakila membatin.
"Ka...kamu di sini?"
"Bukannya kamu berharap saya di sini, sekarang saya di sini kamu malah kebingungan"
"Kok bisa kamu di sini?"
"Ya, karena kamu merindukan saya"
"Benar-benar gila, saya sudah tidak waras"
Syakila membatin.
"ha...ha...ha"
Rifki tertawa geli melihat Syakila yang kebingungan.
"Jangan bingung gitu ah, kamu membuat saya gemus, saya bersama Mama"
"Emangnya Mama kamu di undang juga?"
"Iya dong, ini kan acara dari adiknya"
"Maksudnya gimana sih"
Syakila semakin bingung.
"Gini loh, Mamanya Pak Yudha itu adik sepupunya Mama"
"Jadi kamu dan Pak Yudha masih ada hubungan saudara dong"
"Iya, tapi kami nggak begitu akrab cuma saling kenal saja"
"oh, gitu"
"Kamu cantik banget hari ini?"
Mendengar ucapan Rifki Syakila menjadi salah tingkah, Ia merapikan rambutnya padahal rambutnya sama sekali tidak berantakan.
Rifki tersenyum melihat Syakila yang salah tingkah.
"Sudah rapi kok, cantik juga"
"Kamu nggak usah gombalin saya, dasar pembohong"
Syakila terlihat kesal sambil menutupi rasa malunya.
"Makasih ya"
"Untuk apa?"
"Untuk yang tadi saat di Sekolah"
Tiba-tiba saja wajah Syakila memerah
Syakila membayangkan kejadian saat Ia sedang membersihkan kening Rifki, Ia terbawa suasana dan tak sengaja memeluknya.
"Kamu membuat saya merasa nyaman"
__ADS_1
"Saya bukan sengaja memeluk kamu seseorang mendorong saya saat mereka berlari, kamu jangan Gr dulu"
Padahal Syakila juga merasa senang saat berpelukan dengan Rifki.