Terlanjur Mencintai Mantan

Terlanjur Mencintai Mantan
Benih cinta mulai bersemi


__ADS_3

Syakila merapikan meja belajarnya, Ia memasukkan sebuah buku berwarna coklat kedalam tasnya.


Setelah selesai bersiap-siap untuk berangkat ke Sekolah, Ia mencoba mencari keberadaan adik kesayangannya Rio, tapi Ia tak mendapati Rio di kamarnya.


"Mungkin Rio nginap di rumah Tante Dona"


Pikirnya.


Tiba-tiba Ia terbayang kenangan masa lalu,


Di ruangan yang serba putih, suara isakan tangis pecah, suara yang begitu menyayat hati siapapun yang mendengarnya.


"Jangan pergi sayang, jangan tinggalin Mama"


Tante Dona mengelus ujung kepala saorang anak balita mungil di hadapannya, tubuhnya saat itu terbujur kaku, namun Ia tersenyum damai dalam tidurnya.


"Kenapa...kenapa kamu tinggalin Mama sayang, Mama sama siapa lagi?"


Tangisannya tak henti, sehingga membuat kedua matanya membengkak.


Lamunan Syakila terhenti saat seseorang menepuk pundaknya,


"Mama?"


"Kamu sedang apa, Rio menginap di rumah Tante Dona"


Mama menjelaskan, seolah Ia tau maksud kedatangan Syakila mengunjungi kamar Rio.


"Iya, Ma. Syakila sekalian pamit berangkat ke Sekolah"


"Iya, kamu hati-hati, ya"


"Iya, Ma"


Syakila mencium punggung tangan Mamanya.


Syakila memasuki kelas, Ia mendapati Nadia sudah berada di sana, Ia meletakkan tasnya di atas meja dan kemudian duduk di samping Nadia, wajah Gadis itu terlihat murung.


"Nadia"


Gadis itu tak bergeming,


Untuk yang kedua kalinya Syakila memanggil Nadia, tapi kali ini dengan menyentuh pundak Nadia, sehingga membuat Gadis itu tersadar.


"Kamu kenapa Nadia?"


"Aku lagi galau, Sya"


"Galau kenapa?"


"Rifki, Sya"


"Kenap dengan Cowok sok ganteng itu?"


"Dia bilang Dia suka Gadis lain, sepertinya Dia suka sama kamu"


Deg...


"Maksud kamu saya"


Shakila pura-pura bertanya.


"Iya"


"Nggak mungkin, kalian kan dekat, bukannya Dia suka sama Kamu?"


"Awalnya saya pikir juga gitu, ternyata Dia cuma mau berteman aja"


"Emangnya Dia ngomong apa?"


"Dia cuma bilang, mau berteman saja, saat saya bilang kalau saya suka sama Dia"


Syakila hanya bisa terdiam mendengar ucapan Nadia.


"Ya sudah, jangan terlalu di pikirin mending kita ke lapangan nonton pertandingan basket"


"Kamu saja yang pergi, saya di sini dulu"


"Ya sudah saya nggak jadi pergi, saya nemanin kamu aja di sini"


"Nggak pa pa, saya lagi pengen sendiri dulu"


"Ya, sudah kalau gitu, tapi kalau kamu sudah baikan kamu datang ya?"

__ADS_1


"Hmm"


Syakila meninggalkn Nadia, Ia menuju lapangan basket, Ia memilih duduk di dekat pohon agar tak terkena sinar matahari, tiba-tiba seorang Cowok mendekatinya dan mengajaknya berkenalan.


Seorang Cowok manis berlesung pipi itu memperkenalkan dirinya.


"Hai, saya Rian"


"Syakila"


"Kelas berapa?


"Kelas 10"


"Saya kelas 11"


Syakila menjawab pertanyaan Cowok itu secara singkat, tiba-tuba terlihat seseorang mendekat ke arah mereka, Ternyat Dia adalah Rifki Ia menenteng seragam Sekolah dan memberikan seragam itu kepada Syakila.


"Tolong simpankan seragam saya ucapnya"


Membuat orang yang ada di samping Syakila terdiam.


Syakila yang bingung menerima saja.


"Doakan saya ya, biar kelas kita menang"


"I...iya..."


Syakila terpesona saat menatap wajah Rifki yang bercahaya dibawah sinar matahari.


"Saya haus, kamu punya air minum?"


Syakila mencari-cari botol air minum yang Ia letakkan disampinggnya dengan tangan salah satunya masih menggenggam seragam Rifki.


"I...ini"


Syakila menyodorkan botol air minum kepada Rifki, Ia memandangi Rifki yang sedang merapatkan mulutnya ke botol air minumnya.


Suara


Glek...glek...terdengar melewati tenggorokannya.


Cowok di samping Syakila masih menatap mereka berdua, Ia tersenyum sinis pada Rifki.


"Kamu ingin menunjukkan, kalau kalian dekat"


Membatin.


Rifki memberikan botol air minum yang isinya tinggal setengah kepada Syakila,


"Saya kembali ke lapangan dulu ya"


Syakila tak menjawab, Ia hanya memandangi pemuda itu dengan keheranan.


"Ada apa dengannya, kenapa Dia aneh hari ini, seolah kami..."


Sykila menghentikan kata-katanya, saat Ia sadar orang di sebelahnya dari tadi memperhatikannya.


"Eh...maaf Kak...hmmm...kak Rian ya?"


"Pacar kamu ya?"


"Nggak kok"


Dengan cepat Syakila membantah.


"Oh, saya kembali kelapangan dulu, soalnya saya juga akan bertanding"


"Iya, Kak. Semangat Syakila mengepalkan tangannya dan mengangkatnya sebagai dukungan ucapan semangatnya.


"Maksih"


Pertandingan hari ini sangat seru, Rifki terlihat keren, seolah Ia seorang pebasket profesional, tubunya yang tinggi memudahkannya memasuki bola ke ring basket membuat skor saat itu berbeda satu angka saja, Rian seolah tak ingin kalah Ia memberikan pertunjukan yang membuat mata terpesona dengan pantulan-pantulan bola basket dan dengan mudah memasukkan bola ke dalam ring, semua bersorak memanggil nama Rian.


Ternyata Ia adalah bintang basket di sekolah itu.


Syakila terlihat gemas saat Rian merebut bola dari Rifki, Ia memberi semangat pada Rifki agar jangan menyerah, sambil memeluk seragam Rifki Ia berdoa semoga Rifki menang.


Rifki yang sedang berlari menghadang lawan yang akan merebut bola tak sengaja menoleh ke arah Syakila, Ia melihat Gadis itu memejamkan mata sambil memeluk seragamnya.


Tiba-tiba seperti ada angin segar yang membuatnya kembali bersemangat, dengan cepat Ia memasukkan bola di saat detik-detik pertandingan akan selesai.


Dan....

__ADS_1


Ia berhasil.


Membuat Syakila meloncat kegirangan.


Akhirnya pertandingan dimenangkan kelas 10 A,


Semua bertepuk tangan, dan menjadikan Rifki sebagai idola baru di lapangan basket.


Rian tampak kesal dengan kekalahannya, Ia gagal membuktikan kehebatannya di depan anak kelas 10, terutama pada Syakila Gadis yang memberikannya semangat.


Rifki mendekati Syakila, dengan cepat Syakila menyodorkan air minum kepadanya.


Rifki tersenyum dan meraih botol itu, melepaskan dahaganya


"Makasih ya"


"sama-sama"


"bukan untuk airnya"


"maksudnya?"


"Untuk Doanya"


Deg...


Syakila semakin berdebar mendengar ucapan Rifki.


"Ini seragam kamu, sebaiknya kamu ganti pakaian mu, itu basah semua"


Rifki membuka pakaian olah raganya yang di penuhi keringat di hadapan Syakila, sontak Gadis itu terkejut, melihat lekuk tubuh Rifki, Ia mengalihkan pandangan kesamping, wajahnya merah merona menahan rasa malu.


Rifki memberikan pakaian olah raganya pada Syakila dan meraih seragam sekolahnya.


Saat Ia selesai memakai seragam Ia mengambil kembali pakaian olah raganya.


"Hei, Kamu sedang apa?"


Syakila menoleh memandang Rifki


"E...enggak pa pa"


Rifki memperbaiki rambutnya yang basah .


"Ya...Tuhan kenapa Dia terlihat sangat keren"


Syakila membatin.


"Kamu nggak ke kelas?"


"I...iya"


Saat mereka berjalan menuju kelas, Sykila tak berhenti menatap Rifki.


Rifki yang menyadari itu tersenyum bahagia,


"Kamu sudah melihat pesonaku, ya"


Ia membatin.


"Jangan tatap saya seperti itu, nanti kamu jatuh cinta loh"


Syakila mengalihkan pandangannya ke depan.


"Jangan GR, saya nggak liatin kamu kok"


"Jadi kamu sedang apa?"


Syakila bingung harus menjawab apa


"Emm..itu, di wajah kamu ada kotoran"


"Dimana?"


Rifki mebersihkan wajahnya dengan tangannya.


Syakila mengambil sapu tangan dari saku rok sekolahnya, kemudian membersihkan kening Rifki yang berdebu.


Rifki menatap dalam Gadis itu, tiba-tiba jantungnya berdebar,


Gadis itu masih sibuk menyeka kotoran yang ada kening Rifki sampai saat Ia sadar mata mereka telah saling beradu.


Waktu seakan berhenti saat itu, mereka saling memuji dalam tatapan mata yang dalam.

__ADS_1


__ADS_2