Terlanjur Mencintai Mantan

Terlanjur Mencintai Mantan
Pertanyaan tanpa jawaban


__ADS_3

Semua Siswa dan Siswi sudah berbaris menurut kelasnya masing-masing, setiap kelas dipimpin oleh dua orang Kakak kelas .


Syakila dan teman-teman yang lain berdiri dengan mengenakan atribut-atribut yang menjadi persyaratan dari Sekolah, seperti topi, kalung permen dan bed nama.


Seorang Kakak kelas memanggil mereka satu persatu dan mempersilahkan mereka memperkenalkan diri, layaknya orang yang sedang di interview.


tibalah saatnya Syakila yang harus maju ke depan, tampak seorang Kakak kelas yang bernama Laura berbisik kepada teman di sebelahnya, dengan tatapan tajam memperhatikan Syakila dari ujung kaki sampai ujung kepala.


Syakila merasakan ada aura yang menakutkan, saat kedua Kakak kelas itu berbicara ketus padanya


"Tunggu apa lagi, cepat dong"


Syakila sontak terkejut mendengar ucapan yang terdengar seperti membentak.


"Perasaan sama yang lain mereka bicaranya nggak gitu deh"


Syakika membatin.


"Hei...cepatan, malah bengong"


"I...iya, Kak. Emm...nama saya Syakila Aurelia"


Belum selesai Syakila melanjutkan ucapannya, Kakak kelas sudah menyela


"Udah...sana kamu, lama banget, next"


Syakila kembali kebarisannya, Ia sedikit kesal mendapati tindakan seperti itu.


"Ada gila-gilanya Kakak kelas ini, kenapa sama saya gitu sih"


Syakila membatin.


Saat Rifki yang maju ke depan, mereka malah terlihat sok imut dan sok ramah.


"apa-apaan ini, kenapa hanya saya yang di perlakukan jutek"


Syakila berguman dengan suara pelan.


Nadia yang melihat tingkah kedua Kakak kelas yang kecentilan itu juga merasa kesal.


"Sya, lihat mereka kecentilan banget sih"


"husttt...jangan bilang gitu, ntar kalau mereka dengar, bisa-bisa kita di hukum"


Tampak Rifki tersenyum saat Kakak kelas menanyainya.


"Udah punya pacar dek?"


Kakak yang sebelahnya menimpali


"Kakak udah tiga tahun loh jomlo"


Mereka berdua cekikikan seperti kuntilanak yang sedang mencari mangsa.


Rifki sama sekali tak menjawab pertanyaan dua orang stres yang ada di samping kanan dan kirinya.

__ADS_1


Syakila yang melihat pemandangan itu bertambah kesal, apa lagi Cowok sok Ganteng itu memamerkan senyuman manisnya saat di goda dua kuntilanak berkedok manusia.


"Saya permisi ke barisan ya, Kak?"


"Loh, kok udahan, kita kan belum selesai"


Sambil menepuk-nepuk pundak Rifki.


"Ya sudah deh, nanti ketemu di Kantin ya"


Kakak Kelas yang bernama Eva mengedipkan sebelah matanya.


Nadia kepanasan melihat tingkah Kakak kelas ganjen itu, samapai-samapai Ia tak sadar sudah mencubit tangan Syakila yang berada didepannya.


"Au....sakit Nadia, kamu kenapa sih?"


"Sorry...kesel lihat Kakak kelas ganjen"


"Kenapa saya yang kena batunya, cubit mereka sana"


"Ya...sorry"


Akhirnya acarapun selesai mereka kelelahan dan banyak diantara mereka pergi ke Kantin untuk mencari minuman ataupun makanan.


Syakila meluruskan kaki di kursi taman sekolah, Sedangkan Nadia pergi ke Kantin untuk membeli minuman.


Disela-sela kesendirian tiba-tiba Rifki duduk disebelah Syakila.


"Hei, sendirian aja"


"Nadia dimana?"


"Ke Kantin"


Syakila memijat-mijat kakinya yang terasa lelah.


"Kaki Kamu sakit?"


Syakila menghentikan kegiatannya dan menatap Rifki.


"Kenapa ini, Dia kok tampan banget"


Syakila membatin.


"Kamu cari Nadia kan, ya sudah pergi sana Dia ada di Kantin"


"Siapa bilang saya cari Nadia"


"Terserah deh, saya mau ke kelas, bye"


"Saya juga mau ke kelas, kita barengan aja"


"Terserah"


"Apa katanya terserah! bukannya di kamus wanita, kata terserah itu berarti:

__ADS_1


Ayo ikut saya, saya mau di temani sama kamu"


Rifki berjalan mensejajarkan diri dengan Syakila, Ia melirik Gadis di sebelahnya dengan tatapan takjub.


"Kok ada ya, Gadis secantik kamu"


"Kenapa lihatin saya?"


Ternyata Syakila sadar bahwa dirinya sedang dilihat.


"Ehmm, Kamu nggak ikut ketempat saya, nanti malam?"


"Ngapain saya ikut, emangnya kita teman, saudara atau tetangga?"


"Rio adik yang manis ya, nggak seperti Kakaknya sombong dan jutek"


Syakila melebarkan kelopak matanya, Ia sedikit terusik dengan ucapan Rifki yang mengatakan kalau Ia sombong dan jutek.


"Jangan tatap saya dengan mata yang terbuka lebar, ntar kamu menyadari betapa tampannya saya"


"Dasar Cowok aneh, terlalu percaya diri juga nggak baik bung"


"Kamu nggak cemburu kan kalau Rio lebih sayang sama saya dari pada sama kamu?"


"Nggak mungkin, Rio itu cuma sayang sama Kakaknya yaitu saya, Eh...tapi saya boleh bertanya?"


"Tanya apa?"


"Kenapa sih Rio panggil kamu dengan nama Ardi bukannya nama kamu Rifki?"


"Ternyata kamu ingat nama saya juga"


"Kenapa jawabannya nggak nyambung sih?"


Rifki tersenyum mendengar ucapan Syakila.


"Nggak, saya cuma senang aja, Ardi itu nama panggilan saya waktu Almarhum adik saya masih hidup, Rio udah saya anggap seperti adik sendiri jadi nama itu untuk orang yang istimewa di hati saya"


"oh, gitu. Maaf ya kalau saya sudah membuat kamu teringat dengan Almarhum adikmu"


"Nggak masalah, itu juga sudah berlalu"


"Kamu suka ya sama Nadia?"


Rifki kembali tersenyum, kali ini senyumannya itu penuh tanda tanya


"Kalau mau tau kamu datang ke rumah saya bersama Rio, nanti malam"


"Maaf, nanti malam saya sibuk"


Syakila jengkel melihat Cowok satu ini, kenapa juga saya harus perduli, Dia mau suka sama Nadia atau dua kuntilanak tadi juga bukan urusan saya.


Syakila duduk di kursinya, begitu juga denga Rifki.


Rifki memandangi punggung Syakila, tiba-tiba Ia tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala.

__ADS_1


"Sepertinya Dia gusar saat saya bersama Nadia, bukanya itu berarti Dia cemburu?"


__ADS_2