Terlanjur Mencintai Mantan

Terlanjur Mencintai Mantan
Kenangan masa lalu


__ADS_3

Sore telah berlalu berganti dengan pekatnya malam, di ruang yang lengah Rifki sedang memikirkan sebuah ketakutan di dalam hidupnya, yaitu PERPISAHAN.


Tinggal beberapa minggu lagi kebahagian dalam hidupnya akan sirna, akibat dari kata Perpisahan, Ia tak bisa membayangkan betapa sepi dan hampa hidupnya saat harus berjauhan dari gadis yang Ia cintai, Ia juga merasa bersalah jika tak bisa membahagiakan gadis itu, setidaknya sisa waktu dapat memberikan sebuah kenangan yang indah, untuk mengobati hari-hari yang penuh badai dan luka.


Rifki benar-benar egois, Ia hanya ingin bahagia di sisa waktu yang tinggal menghitung bulan.


Ia kembali teringat kenangan masa lalu yang menghancurkan perasaannya.


Saat Ia masih berada di Jerman bersama kedua orang tuanya, pernah suatu hari Ia tiba-tiba pingsan saat di kelas, ketika Ia membuka mata, Ia melihat pemandangan yang aneh, Mama tak henti-hentinya mengeluarkan air mata meski bibirnya berusaha untuk tersenyum, seolah Ia ingin memberi kekuatan untuk dirinya yang sedang hancur, sedangkan Papa hanya berdiri menatap jendela kamar, seolah Ia menghindar untuk bertatapan langsung dengannya.


Rasa sakit yang tiba-tiba menyerang kepala semakin terasa, membuat remaja laki-laki itu berkali-kali pingsan, Dokter belum bisa memastikan penyakit apa yang sedang di alami Rifki, sebab pemeriksaan belum selesai.


Namun gejala yang timbul ada indikasi dengan penyakit otak,


Setelah hasil pemeriksaan keluar, betapa hancurnya mereka, harus menghadapi kenyataan jika Rifki terkena kangker Otak, penyakit yang sangat mengerikan itu kembali lagi di dalam kehidupan mereka, Papa Rifki juga pernah mengalaminya dan Ia tau betapa tersiksanya Ia saat menjalani pengobatan itu, untungnya Ia berhasil selamat dengan menjalani kemotrapi.


Rifki mengalami banyak penderitaan, mulai dari sakit kepala yang semakin hari semakin intens, mual-mual yang membuatnya muntah-muntah, penglihatan yang mulai menurun, semua seakan hilang dalam hidupnya, hanya ada rasa sakit yang segera mengantarkannya kepada kematian.

__ADS_1


Dokter menyarankan untuk operasi, meski kemungkinan berhasil sangatlah sedikit, tapi Papa Rifki tak menyetujui saran dari Dokter, Ia tak ingin kehilangan Rifki.


Dengan usaha dan doa yang tulus, berangsur-angsur Rifki mengalami perubahan yang signifikan, semua perhatian tertuju padanya, saat Rifki dinyatakan sembuh keluarga itu sangat bersyukur, tapi yang membuat Rifki merasa bersalah adalah saat Mama memutuskan untuk mengirim Difki ke Indonesia menjauhkannya dari kembarannya, yang ternyata Difki juga sedang sakit di sana.


Oma menghubungi kami, memberitahukan keadaan Difki yang semakin hari semakin menurun, hal itu memaksa Mama untuk kembali ke Indonesia meski harus meninggalkan Rifki.


Beberapa bulan mereka terpisah Mama dan Difki di Indonesia sedangkan Rifki dan Papa di Jerman.


Keadaan yang sulit memaksa mereka harus saling berjauhan, namu tak ada tanda-tanda Difki akan kembali pulih, justru keadaannya semakin menurun meski sudah beberapa bulan di rawat di rumah sakit.


Akhirnya Papa memutuskan untuk menyusul Mama dan Difki ke Indonesia, awalnya Rifki akan tetap berada di Jerman, namun Rifki seperti merasakan perasaan yang aneh, Ia ingin bertemu dengan saudaranya Difki, begitu juga dengan Difki, Ia tak henti-hentinya memanggil nama Rifki.


Oma bercerita saat Difki baru saja sampai di Indonesia, awalnya Difki terlihat murung, Ia bahkan jarang keluar kamar, Oma berusaha menenangkan Difki, berusaha meyakinkannya, jika Rifki akan baik-baik saja, Mama dan Papamu pasti akan berusaha menyembuhkannya.


Semua terlihat baik-baik saja, Difki mulai terbiasa, namun di suatu malam tiba-tiba Difki mengalami demam yang sangat tinggi, Oma sangat cemas mendapati Difki sudah kejang-kejang di dalam kamar, Oma segera menghubungi supir yang sudah terlanjur pulang, segala upaya sudah di lakukan Oma untuk meredakan demam Difki, dari mengompres sampai memberikan obat penurun demam, untuk beberapa saat keadaan Difki sedikit membaik meski panas tubuhnya masih ada, saat itu Difki sempat memohon kepada Oma untuk tidak memberitahukan masalah ini kepada ke dua orang tuanya, Ia tak ingin mereka cemas sebab mereka sedang merawat Rifki yang juga sedang sakit parah.


Malam itu juga Oma membawa Difki ke rumah sakit, Dokter mengatakan tak ada hal yang perlu di takutkan hanya demam tinggi biasa, namun Oma tak serta merta percaya, Oma menyarankan kepada Dokter untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut dan detail, agar jika terjadi sesuatu mereka bisa mengantisifasinya lebih awal.

__ADS_1


Dokterpun akhirnya melakukan pemeriksaan yang lebih detail, ternyata Difki mengidap meningitis, Oma benar-benar terpukul mendapati kenyataan seperti itu, sejak saat itulah Difki di rawat di rumah sakit, Oma bingung bagaimana menjelasksn hal ini kepada Citra, Ia berusaha merawat Difki, namun beberapa hari ini keadaan Difki semakin menurun, bahkan Difki sering sekali mengigau memanggil nama Rifki.


Sebab itu Oma tak bisa lagi merahasiaksn keadaan Difki kepada anaknya, Ia segera menghubungi Citra, meski Ia tau hal ini akan menghancurkan perasaan anaknya, tapi Ia tak bisa menutupinya lagi.


Hal yang mereka takutkan akhirnya terjadi, Difki sudah mengakhiri rasa sakitnya, Ia kembali kepada Rabbnya dengan senyuman di bibirnya, teriakan Mama terdengar begitu memilukan, bahkan Papa tak kuasa menahan kesedihannya, Ia memukul-mukul tembok rumah sakit, sedangkan Oma hanya terduduk lemas tak bisa berkata apa-apa.


Rifki seperti melihat banyangan Difki yang tersenyum padanya, saat itu Ia tak kuasa menahan kesedihan, berlari mencari tempat untuk sendiri.


Rifki merasa sangat bersalah kepada Difki, bahkan Ia merasa harusnya Ia yang meninggal bukanlah Difki, saat itulah Rifki melihat Syakila yang sedang mendoakan seseorang, gadis kecil itu bukannya merasa bersedih, Ia malah berdoa agar orang yang di tinggalkan menerima dan di beri kekuatan, sebab sejatinya semua juga akan kembali, namun kesedihan ini membuat kita menyalahkan akan kehendak Tuhan, dan itu akan membuat orang yang kita sayangi akan menjadi lebih sedih.


Sejak saat itu Rifki meyakini jika Ia menyalahkan dirinya, Difki akan merasa sedih sebab yang terjadi memang sudah menjadi kehendakNya.


Tersadar dalam kenangan masa lalunya


Malam itu Rifki benar-benar sangat takut, Ia tak ingin Syakila mengalami perpisahan yang menyedihkan seperti yang di alaminya bersama Difki, Ia tak ingin Syakila mengetahui apa yang sebenarnya terjadi padanya, Ia hanya ingin memberikan hari-hari indah pada Syakila.


Beberapa hari ini Rifki mengalami sakit kepala yang hebat, meski Ia tak bisa memastikan apakah penyakit lamanya kembali lagi, bahkan Ia takut menghadapi kenyataan itu, tapi Mama meyakinkannya agar mereka kembali saja ke Jerman untuk melakukan pemeriksaan dan pengobatan kembali, berharap Rifki bisa bertahan, namun Rifki meminta satu hal pada Mamanya, Ia ingin bersama Syakila, sebab Ia benar-benar menyayangi Syakila, awalnya Mama melarang, sebab itu akan menghancurkan perasaan Syakila, namun Rifki tetap memaksa, sebab jika dalam pengobatan kali ini Ia tak selamat maka Ia akan menyesal karena tidak bisa memiliki orang yang Ia sayangi.

__ADS_1


Akhirnya Mama menyetujui meski dengan berat hati, Ia tak tau harus bagaimana memohon izin kepada orang tua Syakila, Ia bahkan rela bersujud agar orang tua Syakila mengizinkan Rifki dan Syakila bertunangan.


Untungnya Dona juga membantunya untuk meyakinkan ke dua orang tua Syakila, dan Ia juga berjanji akan berusaha agar Rifki akan segera pulih, selama itu Ia akan selalu memberi kabar kepada calon besannya itu.


__ADS_2