Terlanjur Mencintai Mantan

Terlanjur Mencintai Mantan
Kehadiran Seseorang


__ADS_3

Beberapa Bulan Kemudian...


Kehidupan terus berjalan, namun ada yang hilang sejak kepergian Rifki,


Seketika senyuman itu lenyap, hanya tinggal kehampaan dalam hati Syakila, seakan separuh jiwanya hilang bersama kepergian pemuda yang selalu Ia sayangi.


Gadis yang dulu selalu berpikiran optimis dan ceria, berubah menjadi gadis yang dingin dan cuek, fokus dalam hidupnya hanya ingin mewujudkan impian dalam hidupnya yaitu belajar dengan giat sembari melupakan segala beban di dalam hatinya.


Kini buku adalah sahabat yang bisa menemaninya saat masa-masa sulit dalam hidupnya, dan perubahan itu membuat Ia semakin jauh dari dunia luar.


Pagi ini...


Syakila meletakkan tasnya di atas meja, Ia termenung sejenak,


Beberapa saat kemudian Nadia hadir, seperti biasa, sudah beberapa hari ini Ia selalu melihat pemandangan yang sama.


Melihat Syakila yang termenung dan melamun.


Jika Ia bertanya, jawaban yang di dapatkannya hanyalah tatapan dingin dari gadis itu, Nadia sudah ke habisan akal untuk membuat Syakila tersenyum, sehingga Ia hanya bisa pasrah saja.


Terkadang Nadia harus pindah ke kursi kosong dibelakang, tempat dimana Rifki dulu menghabiskan waktu di Sekolah itu, seiring waktu berjalan Nadia dan Andi semakin dekat, di belakang mereka selalu berdiskusi tentang apa yang terjadi antara Syakila dan Rifki yang sampai saat ini masih menjadi misteri, hanya sedikit informasi yang mereka dapatkan dari Pak Yudha, mereka hanya mengetahui Rifki sudah pindah sekolah, di tambah Syakila yang tiba-tiba menjadi pendiam dan irit dalam berbicara.


Sedangkan murid lain sibuk dengan urusan mereka masing-masing, Suara riuh di pagi itu tiba-tiba berubah menjadi keheningan saat seseorang memasuki kelas mereka.


Seseorang yang belum pernah mereka lihat sama sekali, berjalan ke arah satu-satunya kursi kosong saat itu, yaitu kursi yang ada di sebelah Syakila, Gadis itu tak bergeming, Ia hanya pokus menatap ke depan bahkan Ia tak sadar seseorang sudah duduk di sebelahnya.


Nadia yang ingin kembali ke kursinya tiba-tiba di hentikan Andi, Andi menarik tangan Nadia.


"Biarkan saja"


Nadia menatap Andi dengan wajah penasaran.


Beberapa saat kemudian Pak Yudha memasuki kelas dengan membawa beberapa berkas di tangannya, matanya seperti mencari sesuatu di penjuru kelas dan beberapa saat kemudian Ia menemukan apa yang Ia cari, tepat di sebelah Siswi kesayangannya yaitu Syakila.


Pak Yudha memanggil Pemuda berpenampilan urak-urakan itu.


Rambutnya acak-acakan, lengan baju yang di gulung layaknya pereman pasar.


Pemandangan yang membuat semua mata tertuju pada pemuda aneh bak dari dunia lain, meski tak dapat di pungkiri Pemuda itu memiliki paras yang cukup tampan, mata bulat berpadu dengan alis yang tebal khas timur tengah, hidung mancung menambah kesan sempurna di wajahnya, di tambah senyum sinis yang membuat mata yang memandangnya semakin terpesona.


Tanpa perintah dar Pak Yudha, seakan Pemuda itu sudah tau, Ia berjalan kedepan kelas dengan tanpa basa basi langsung memerkenalkan dirinya.


" Hai...Semuanya, Perkenalkan Gue Dreyansyah


Gue pindahan dari Sekolah XX, semoga Gue betah di sini"


Mereka berbisik saat mendengar kata Sekolah XX yang terkenal dengan Siswa-Siswinya yang sering membuat masalah dan pembuat onar.


"Kenapa Dia di terima di sini?"


Bisik Andi kepada Nadia, bahkan seketika kelas itu menjadi gempar saat mendengar nama Sekolah XX.


Pak Yudha berusaha menenangkan mereka, sedangkan Pemuda yang berdiri tepat di sampingnya itu, tersenyum sambil mengeluarkan aura menyeramkan.


"Semuanya tenang, jangan ada yang berisik, kita mulai pelajaran"


Pak Yudha mempersilahkan Drey kembali ke kursinya yang ternyata kursi itu sudah di tempati Nadia, melihat hal itu Drey menjadi kesal pemuda itu tiba-tiba saja melempar tas Nadia ke belakang, yang membuat semua mata tertuju padanya tak terkecuali Syakila yang tadinya tak perduli dengan kehadirannya.


Nadia yang mendapat perlakuan seperti itu merasa tak senang dan marah-marah kepadanya, bahkan Andi juga tampak kesal melihat tingkah kurang ajar Pemuda itu.

__ADS_1


Pak Yudha yang melihat langsung kejadian itu berusaha melerai dan menyuruh Nadia untuk mengalah saja, sehingga membuat Nadia semakin kesal,di sepanjang pelajaran Nadia mengomel sendir yang membuat Andi menjadi stres sendiri.


Pamuda itu seperti berada di atas awan, Ia sama sekali tidak memperhatikan apa yang di jelaskan Pak Yudha, Ia malah sibuk mengipas-ngipas buku ke wajahnya.


"Panas sekali, kelas apa ini, sumpek banget"


Gerutunya.


Syakila sama sekali tak memperdulikan pemuda aneh itu, namun Ia sedikit terusik sebab Pemuda itu sudah mengganggu konsentrasinya saat memperhatikan Pak Yudha, seakan Pak Yudha memahami ketidak nyamanan Syakila Pak Yudha memanggil Syakila dan memberikan catatan pelajaran langsung ke meja Syakila.


"Ini saya pinjamkan kamu catatan saya"


Ucap Pak Yudha.


"Terimakasih, Pak"


Seketika pemandangan itu membuat Drey memperhatikan Gadis yang duduk di sebelahnya, sejenak Ia berpikir sepertinya gadis ini istimewa, bahkan Guru songong ini begitu memperhatikannya.


Ia mulai memperhatikan Syakila dari ujung rambut sampai ujung kaki, menurutnya biasa saja, lebih cantik juga mantan-mantan pacarnya pikirnya, namun saat Syakila tak sengaja menoleh dan mata mereka sempat beradu untuk beberapa detik, Drey sempat terhipnotis, sejenak Ia terpaku.


"Dia misterius, Gue nggak bisa ngerti gadis ini, ada apa dengannya, Dia penuh dengan penderitaan"


Drey membatin.


Syakila cuek bahkan terkesan tak memperdulikan keberadaannya, saat Drey mencoba tersenyum Syakila langsung memalingkan wajah dan kembali pokus dengan buku yang ada di hadapannya.


"Apa Dia sengaja cuek, sombong banget, Cowok setampan Gue di acuhkan, belum pernah Gue di abaikan seperti ini, harga diri Gue jatuh"


Drey kembali membatin.


Akhirnya pelajaran pertama selesai, Pak Yudha berpamitan untuk meninggalkan kelas, Syakila menghampiri Pak Yudha dan mengembalikan catatan yang tadi di berikan Pak Yudha padanya, Drey tak henti memperhatikan tingkah ke dua orang yang berada di hadapannya, Ia dapat melihat tatapan Pak Yudha kepada Syakila, tatapan penuh harapan dan cinta yang terpendam.


Drey tersenyum sinis.


Nadia sudah tak sabar menunggu kepergian Pak Yudha, Ia ingin menghajar anak baru yang songong dan kurang ajar itu.


Dan benar saja saat Pak Yudha meninggalkan kelas, Nadia langsung menghampiri Drey dengan wajah yang penuh kemarahan.


"Hei anak baru, berani banget kamu buang tas saya, asal kamu tau ya, ini itu kursi saya"


Drey tak menanggapi ocehan Nadia, Ia malah pokus dengan kehadiran Syakila yang sudah duduk di sebelahnya.


Saat Nadia akan membuang tas Pemuda itu, tiba-tiba tangannya di hentikan oleh Drey, Pemuda itu meremas pergelangan tangan Nadia yang membuat gadis itu meringis kesakitan.


"Lepasin"


Nadia hampir saja menangis kesakitan, amarah Drey membuat gadis itu bergidik ketakutan Ia menatap Nadia dengan wajah penuh kemarahan.


Syakila yang merasa kelakuan Pemuda itu sudah sangat keterlaluan tiba-tiba bersuara.


"Lepasin Dia"


Pandangan Drey tiba-tiba tertuju pada suara lembut yang sedikit bergetar.


Drey menghempaskan tangan Nadia dan memberikan sedikit ancaman kepada Gadis itu.


"Jangan coba-coba mencari masalah sama Gue, kalau hidup lo mau tenang"


Kata-kata yang membuat Nadia tertegun untuk sejenak, dengan wajah yang kesal Ia kembali ke kursi belakang.

__ADS_1


Nadia yang kesal malah mendapati Andi yang sedang menertwakannya, yang membuat gadis itu semakin bertambah kesal.


"Bukannya bantuin, kamu malah tertawa, dasar cowok brengsek"


"Hahahaha...


Nadia, Nadia singa betina ternyata akut sama anak baru"


"Diam....!!!


Saya lagi kesal jangan buat saya tambah marah"


"Ok...Ok...saya tutup mulut demi kedamaian dunia ini"


"Kamu meledek saya ya?"


"Mana berani saya sama Kamu"


Andi mengunci rapat mulutnya sebab Ia sudah pusing dengan ocehan Nadia dari tadi.


Drey kembali menatap Syakila yang saat itu sedang sibuk dengan beberapa buku yang ada di hadapannya, Ia memperhatikan wajah Syakila dari samping mengamati lekuk tubuh Gadis itu, kemudian menatap kembali wajah Gadis itu memperhatikan dari setiap sudut, seakan Ia tak memiliki celah untuk mengomentari Gadis itu, sungguh sangat mempesona, dan memiliki karakter Gadis idaman para lelaki.


"Hei..."


Drey mencoba menyapa Syakila, namun Gadis itu tak memperdulikannya.


Drey menendang sepatu Syakila, agar Gadis itu setidaknya memperhatikannya.


"Hei...Cantik"


Syakila menghela nafas panjang, seperti mencari udara sebagai asupan untuk energinya, kemudian Ia kembali membaca buku yang ada di hadapannya, membolak balik lembar demi lembar halaman buku itu, terkadang Ia memberi tanda pada bagian-bagian penting yang ada di dalam buku itu dengan penanya.


Drey yang merasa sebagai makhluk halus yang tak terlihat, bukannya merasa kesal malah semakin tertarik memperhatikan Syakila, terkadang Gadis itu memperbaiki rambutnya yang sedang menutupi pandangannya, terkadang Ia mengerutkan keningnya seperti sedang memikirkan sesuatu, terkadang ia menggigit penanya, terkadang Ia menggigit bibirnya seperti seseorang yang sedang kebingungan.


Apapun yang di lakukan Syakila seperti tontonan yang sangat menarik bagi Drey, meski Gadis itu tak bersuara tapi Ia dapat memikat seseorang dengan tindakannya yang menggemaskan.


Andi yang menyadari ada sesuatu yang aneh pada diri Drey mencoba memberi tahu Nadia ,


"Nad, coba deh kamu perhatikan si anak baru, dari tadi tatapannya tertuju pada Syakila, sepertinya Dia suka deh sama Syakila"


Nadia juga merasakan hal yang sama.


"Dia pikir Syakila mau apa sama Dia, Dia belum tau yang ada di hati Syakila hanya Rifki seorang, Dia mana bisa di bandingkan sama Rifki, bahkan sekelas Pak Yudha yang Ganteng maksimal dan juga pintar aja nggak pernah di gubris sama Syakila"


"Gimana kalau kita taruhan"


"Taruhan apa?"


"Saya yakin pasti si anak baru bisa merebut hati Syakila"


"Ok, Saya yakin seribu persen Syakila nggak akan pernah mau sama cowok modelan begitu"


"Kalau saya menang kamu harus turuti apa yang saya suruh sama kamu selama satu minggu"


"Ok, kalau saya menang kamu juga harus turuti apa yang saya mau ya"


"Ok, Deal ya"


Mereka berjabat tangan.

__ADS_1


Sedangkan di sisi lain Drey merencanakan sesuatu di dalam pikirannya.


__ADS_2