
Yudha menatap ke arah tempat Syakila duduk, Ia mendapati Syakila bersama seseorang, Ia tak mengenali orang itu, karena Ia hanya dapat melihat punggungnya.
Yudha mencoba mendekat untuk memastikan, Ia menepuk pundak pemuda itu, sontak Rifki menoleh dan mendapati Yudha sudah berada di belakangnya.
"Eh...rupanya kamu, saya kira siapa"
"Selamat ya, Mas"
Rifki menjulurkan tangan untuk bersalaman.
"Iya, makasih, Syakila jangan percaya sama ni Cowok, pacarnya banyak"
Yudha tersenyum penuh kemenangan.
"Mas, jangan fitnah, bukannya Mas yang terkenal play boy"
"Jangan menyebar berita palsu, jatuh harga diri saya di depan murid saya karena kamu"
"Apa-apaan ini, kenapa mereka saling membuka aib kepada saya"
Syakila membatin.
"Sudahlah, Mas pergi sana urus tamu-tamumu"
"Jadi karena Syakila kamu bertengkar"
"Mas, jangan ngomong yang aneh-aneh, pergi sana, senang bener mengganggu saya"
Rifki mulai kesal.
"Ya sudah, saya pamit, kalian lanjutin ngobrolnya"
Yudha kembali menyambut tamu-tamu di depan pintu masuk.
Syakila menatap curiga pada Rifki, Ia penasaran maksud pembicaraan Pak Yudha.
Rifki hanya memandangi Gadis yang ada di hadapannya sepuas mungkin, Ia terpesona dan mencoba memandang dari sisi manapun Gadis ini tetap terlihat mengemaskan.
"Kamu jangan tatapin saya terus, ntar kamu jatuh cinta loh"
Syakila mengulang kata-kata yang pernah di ucapkan Rifki padanya.
"Memang sudah jatuh cinta"
Deg...
Syakila berdebar mendapatkan jawaban seperti itu dari Rifki.
__ADS_1
"Dasar kamu, kalau ngomong jangan suka bercanda"
"Saya nggak bercanda, saya SUKA kamu"
Syakila masih ragu dengan ucapan Rifki, Ia masih lebih percaya dengan ucapan Pak Yudha.
Papa menghampiri Syakila, Ia menatap pemuda yang duduk bersama anak Gadisnya.
Rifki dengan sigap mencium punggung tangan Papanya Syakila.
"Calon mertua"
Batinnya.
"Siapa ni Syakila?"
"Teman sekolah Syakila, Pa"
"Oh, kok bisa ketemu di sini. Ya"
"Iya, Pa Rifki ini anaknya Tante Citra temannya Tante Dona"
"Oh, kamu anaknya Citra"
Papa terlihat kaget bercampur senang, Ia menepuk pundak Rifki, seolah Papa juga mengenal Tante Citra.
"Ya, Papa kenal, Tante Citra, Tante Dona dan Mama kamu kan teman lama"
"Apa-apaan ini, kenapa seperti jadi reunian teman lama"
Syakila membatin.
"Bagaimana kabar Papa kamu?"
"Papa masih di luar negri OM"
"Papa Dia orang Jerman loh, Sya"
Papa menepuk-nepuk pundak Rifki.
"Oh, pantas wajahnya tampan ternyata Dia campuran"
Syakila membatin.
Rifki terlihat sungkan saat Papa Syakila membeberkan tentang Papanya.
"Om kenal sama Papa saya?"
__ADS_1
"Nggak sih, Om tau kan waktu Mama sama Papa kamu menikah, Om di undang, hanya sekali itu saja Om melihat Papa kamu, setelah itu Citra kan di boyong ke Jerman, ternyata kalian sudah balik ke Indonesia"
"Iya, Om. Saya dan Mama sudah tiga tahun di sini"
"Oh, gitu, Kalau gitu kirim salam sama Mama dan Papamu ya, Om dan Syakila mau pamit pulang"
"Om nggak mau ketemu sama Mama?"
"Udahlah, Mama kamu pasti sibuk, Om pamit ya"
Syakila mengikuti Papa, Ia melirik Rifki dan melambaikan tangan secara diam-diam.
Rifki benafas lega, tadi Ia berusaha tida gugup saat berhadapan dengan calon mertua.
"Untung saja respon calon mertua baik, gimana kalau Dia marah saya dekatin anaknya"
Ini serba kebetulan atau keberuntungan, Jalan untuk mendekati Syakila sepertinya akan lebih mudah.
"Sya, kamu nggak pacar-pacarankan, Papa mengingatkan"
"E...enggak kok Pa"
"Ingat pesan Papa, belajar dulu yang benar, gapai cita-citamu, Papa nggak mau karena pacaran kamu jadi lalai dengan tugasmu"
"Iya, Papa ku sayang"
Pak Surya memang melarang Syakila berpacara, Ia ingin Syakila fokus belajar, karena cita-cita Syakila ingin menjadi seorang Dokter.
Yudha mendekati Rifki.
"Mas di sini"
"Dimana Syakila?"
"Sudah pulanglah"
"Oh, itu sebabnya kamu terlihat murung"
"Sudahlah Mas, jangan mengganggu saya"
"Syakila Gadis yang manis ya, saya terkejut loh saat melihat Dia ada di sini, Dia tampak dewasa kalau berpakaian biasa, saya sempat terpesona loh"
"Sudahlah Mas, jangan berharap lebih, Mas kan Guru kami di Sekolah, jangan buat malu nama Guru Mas, sudah ajari kami saja jadi anak yang berguna bagi nusa dan bangsa, itu Mas tugas Guru, bukan tebar-tebar pesona sama anak murid"
"Iya deh, saya jadi bingung dengan kamu, Saya atau kamu sih Gurunya"
Rifki malas meladeni Yudha, lagi pula mereka memang tak terlalu akrab.
__ADS_1