Terlanjur Mencintai Mantan

Terlanjur Mencintai Mantan
Pertemuan Kedua


__ADS_3

Syakila masih termenung, Ia berpangku tangan menatap buku-buku yang berserakan di atas meja belajarnya.


Ia tak habis pikir dengan kejadian saat di Sekolah tadi,


Nadia bersama Cowok itu...


Mereka terlihat akrab, sampai-sampai Nadia tak memperdulikan kehadirannya.


Tanpa basa-basi Nadia menyarankan agar Syakila duduk di kursi Cowok itu bersama Cowok culun yang tadinya teman sebangku Cowok itu.


Syakila menghela nafas, Ia tak ingin terlihat kesal, walaupun sebenarnya Ia ingin marah pada Nadia.


Yang membuat Syakila bertambah kesal adalah posisinya duduk saat ini, Ia bisa melihat denan jelas, Nadia dan Cowok itu bercanda layaknya teman lama yang sedang reunian.


Andi, Cowok di sebelahnya, Ya... Syakila mengetahui nama Cowok berkacamata itu, karena Ia sendiri yang memperkenalkan dirinya kepada Syakila.


"Hai, saya Andi tapi bukan Andi molto"


"Apa sih, nggak lucu"


Syakila menggerutu.


"Si Rifki mulai tebar pesona, dasar Buaya darat"


Cowok itu berbicara sendiri, seolah ingin memberi tahu Syakila tentang kelakuan Cowok itu.


"oh...jadi namanya Rifki"


Syakila membatin dalam hati.


"Hei...nama Kamu siapa?"


"Saya Syakila"


"Syakila, rumah kamu dimana?"


"hm...mau tau aja, emangnya kenapa tanya-tanya alamat?"


"Ya, mana tau kesasar, kan bisa singgah.


Sekalian ngapel gitu"


Syakila mengkerutkan keningnya, Ia tak habis pikir dengan Cowok di sebelahnya.


"Apa-apan sih, bilangin orang lain Buaya ternyata Dia sendiri Kadal"


Syakila mengucapkan kata-kata itu di dalam hati.

__ADS_1


Nadia,


Sampai pulang Sekolah, Ia sama sekali tak menyapa Syakila, Ia sibuk mengejar Rifki.


"Jahat banget sih"


Akhirnya Syakila pulang seorang diri.


Tiba-tiba Syakila teringat dengan secarik kertas yang Ia tinggalkan di laci meja, Ia berusaha keras mengingat nomor telepon itu, tapi Ia benar-benar tak mengingatnya.


"Sial, kenapa harus lupa sih"


Syakila meraih secarik kertas, Ia berniat menulis surat kepada Rifki, tapi Ia mengurungkan niatnya.


kemudian Ia iseng menuliskan perasaannya di secarik kertas.


Untuk sejenak Syakila dapat melupakan kejadian saat di Sekolah tadi.


Ia bersama Mamanya pergi mengunjungi rumah adik dari Mamanya atau bisa dibilang Tantenya Syakila.


Mereka akan menjemput Rio yang sudah tiga hari menginap di sana.


Saat mereka sampai, ternya Tante Dona sedang kedatangan seorang tamu, tamunya itu seorang Ibu muda yang bergaya sosialita, Mamanya langsung nimbrung seolah Ia juga mengenal wanita itu, acara cipika-cipiki adalah pemandangan saat itu.


Syakila segera mencari Rio kedalam kamar, Ia tak sabar ingin bertemu dengan adik kesayangannya itu.


Syakila menyerah dan memutuskan beristirahat di kamar Rio, sedangkan Mama dan Tantenya sibuk bergosip di ruang tamu.


Sayup-sayup Syakila mendengar suara yang mendekati kamar.


"Kak ini kamarku, Aku punya komik seru loh, Kakak mau lihat?"


Suara Rio terdengar semakin jelas saat Ia berada di depan pintu.


Syakila berdiri di balik pintu dan berniat mengejutkan Rio.


Saat gagang pintu terbuka, Syakila bersiap-siap mengejutkan Rio,


Tapi...bukannya Rio yang terkejut, Syakila lah yang terkejut saat melihat orang yang ada disamping Rio.


Untuk sejenak Syakila mematung, Ia tak dapat berkata-kata, begitu juga orang yang ada dihadapannya.


"Kak Sya..."


Rio kegirangan sambil memeluk pinggang Syakila.


Syakila balik mengelus kepala Rio.

__ADS_1


"Kak, Rio nggak mau pulang, Rio mau main sama Kak Ardi"


Syakila melirik Cowok yang ada di belakan Rio.


"Hai"


Cowok itu tersenyum pada Syakila.


Tiba-tiba Syakila teringat kejadian saat di Sekolah.


Rifki...


Bukannya Dia Rifki, kenapa Dia ada di sini?


"Rio, Kak Ardi haus ni, bisa minta tolong ambilkan kakak air minum?"


"Kak Ardi haus ya, tunggu Rio ambilkan air minum ya"


Syakila menatap tajam ke arah Rifki, kemudian Ia berjalan mengikuti Rio, dan tiba-tiba langkahnya terhenti saat Rifki menghentikannya.


"Tunggu"


Syakila kembali.


"Ya, kenapa?"


"Saya Rifki Ardiansyah"


"oh"


"Kita satu kelas kan?"


"hm..."


"Boleh tau nama kamu?"


"Syakila"


"nice"


"Maaf saya permisi dulu, mau nyusulin Rio"


"Oh. Ok"


Syakila memegangi dadanya, Jantungnya hampir copot saat berhadapan langsung dengan Rifki, tapi Ia berusaha senormal mungkin.


Rifki memandangi punggung Syakila, Gadis itu terlihat mengemaskan, Ia tersenyum sambil merapikan rambutnya yang menutupi sebagian matanya.

__ADS_1


__ADS_2