Terlanjur Mencintai Mantan

Terlanjur Mencintai Mantan
Cinta yang tersembunyi


__ADS_3

Yudha membuka buku berwarna coklat itu, memperhatikan tulisan yang ada di dalamnya,


Cerita tentang keseharian seorang gadis, curahan hati yang menarik perhatiannya.


"Seseorang yang di sayang tak selamanya ada di samping kita, saat kehilangan adalah hal yang paling menakutkan di dalam hidup ini, air mata dan rasa bersalah bercampur menjadi satu.


Mungkin waktulah yang dapat menyembuhkan luka di hati, namun bukan berarti mampu melupakannya, semua tersimpan bagaikan kotak-kotak kenangan yang suatu saat akan di buka kembali.


Semoga Tante Dona bisa bahagia, setelah menghadapi duka dan kehilangan yang begitu menyesakkan dada, suatu hari pasti akan bahagia"


"Kebahagiaan kini menghampiri keluarga kami, seorang malaikat kecil telah lahir di tengah-tengah kami, seolah menghapuskan segala duka yang pernah singgah, Adik kecil yang selalu kami nantikan, kami sayangi dan kami jaga sepenuh hati"


Lembar terakhir dari buku itu, bertuliskan tentang:


"Seseorang yang akhir-akhir ini mengusik hari-hariku, menatapku dengan mata yang tajam, wajahnya begitu mudah terekam dalam ingatan, tingkah dan senyumnya menarik perhatian, belum lama mengenalnya tapi hati seakan terpaut dengannya.


Seseorang yang bisa membuat hati terbakar api kecemburuan, seakan Ia milik ku seorang.


setiap hari waktu berlalu sangat cepat, seakan kurang waktu untuk selalu bersamanya, kenapa sepi saat tak ada Dia, Apakah ini kerinduan?"


Saat raga ini bersentuhan dengannya, getaran terasa sampai di dasar hati yang paling dalam, bergenggaman tangan dengannya seakan memberi kekuatan, memeluknya seakan memberi kenyamanan di hati ini. seseorang yang beberapa hari ini kutemui, namun Ia seakan begitu dekat di hatiku, ini perasaan apa?


Sekali lagi Ia membuat hati ini terjebak dalam rasa cemburu, jangan mengharapkannya jika takut,


Bodohnya mencintai seseorang, bodohnya berharap padanya, pasti bisa melupakannya, harus kembali pada diriku yang dulu, selalu bahagia.


Yudha seakan terpesona membaca kalimat-kalimat yang ada di dalam buku itu, Ia melihat sebuah foto tertempel di buku itu, foto seorang gadis cantik sedang duduk termenung.


"Syakila!"


Yudha memandangi foto Syakila, Ia memperhatikan wajah gadis itu, kemudian senyumnya mengembang.


"Sejak kapan saya memperhatikan kamu?"


Ia bertanya pada foto yang ada di tangannya.


Kemudian Ia membayangkan saat Syakila menabraknya sewaktu di acara Wisudanya.


"Mungkin sejak saya melihat kamu sebagai seorang gadis, bukan sebagai seorang anak didikku"


Kini Yudha menjadi salah satu penggemar berat Syakila.


Rifki menggandeng tangan Syakila,


"Kamu mau makan apa?"


Syakila menggelengkan kepalanya.


"Mau minum?"


"Iya, air mineral aja"

__ADS_1


Andi yang mendapati pemandangan kemesraan Rifki dan Syakila, seketika jiwa kejombloannya meronta-ronta.


"Ingat, ini masih di Sekolah"


"Cari pacar sana biar nggak ngurusin hidup orang"


Rifki meledek Andi yang juga sedang mengantri di Kantin.


"Syakila, kamu jadian ya sama Rifki, kamu kok mau sih sama Dia, mending juga sama saya"


"Enak aja, Syakila itu cuma milik saya, nggak ada yang boleh gangguin Dia, kalau mau kejar aja Nadia"


"Nadia, si cewek judes itu, amit-amit, bukan tipe saya tu"


"Ih...Andi kok gitu, jangan gitu, ntar kalian jodoh baru tau"


"Udah di bilang Amit-amit, berarti nggak ada kesempatan untuk Dia"


"Jangan sombong kamu, nanti kamu yang bucin sama Dia"


"Nggak deh, mending sama kambing dari pada sama Dia"


"Eh...orangnya datang, awas lo saya kasih tau ya"


Syakila mengancam Andi


Seketika raut wajah Andi menjadi cemberut, saat Nadia ikut duduk bersama mereka.


"Kalian di sini, nggak ajak-ajak saya, kamu lagi Syakila tega-teganya ninggalin saya, mentang-mentang ada Rifki saya di lupakan, benarkan kalian da jadian?"


"Teman tapi sayang maksudnya?"


Andi menimpali.


"Apaan sih ikut-ikutan, nggak ada yang nanyak pendapat kamu"


Seketika Rifki dan Syakila saling bertatapan, sepertinya mereka mencium aroma-aroma pertengkaran Andi dan Nadia.


Dua orang ini setiap bertemu pasti selalu berdebat.


"Kasihan banget, cinta di tolak"


"Siapa cintanya di tolak? Dasar cowok culun, sok tau"


"Ya ada deh cewek judes, ya nggak mungkinlah ada yang mau"


"Eh culun jangan bikin saya marah kamu"


"Marah aja, siapa juga yang takut sama kamu"


"Eh...udah jangan bertengkar, nanti kita di usir sama mbak Kantinnya"

__ADS_1


Syakila mencoba mendinginkan suasana


"Nadia, kita ke kelas aja yok"


"Iya malas saya di sini, apalagi kalau ada si culun, bikin selera makan saya hilang aja"


"Udah jangan marah-marah"


Syakila menarik tangan Nadia dan meninggalkan tempat itu.


"Ini karena kamu, jadi Syakilanya pergi"


"kamu ini bukannya belain saya, malah mikirin pacar kamu, dasar teman durhaka kamu"


"Hahaha...emangnya ada ya, teman durhaka?"


"Ya kamu itu, teman durhaka, teman nggak ada Akhlak"


"Ya maaf deh, teman yang Soleha"


"Gila kamu, emang saya banci di bilang soleha, otak kamu rusak karena kebanyakan pacaran"


"Saya nggak pacaran, kok"


"Dasar penipu, nggak pacaran kok pegang-pegang tangan, kamu pikir Syakila nenek-nenek mau menyebrang jalan"


"Nggak percaya ya sudah"


"Eh...kalian udah perna ciuman?"


"Dasar gila, pertanyaan macam apa itu"


"Pasti pernah, kok tiba-tiba wajah kamu memerah gitu"


"Bukan urusan kamu, saya masuk ke kelas aja deh, malas ladeni orang gila"


"Mau melarikan diri, bilang sama saya Iya atau tidak?"


"Nggak!"


Rifki pergi meninggalkan Andi, Ia malas meladeni pertanyaan teman sebangkunya itu.


"Si Syakila mau aja di cium sama si Rifki, dasar Si Rifki beruntung, coba aja Syakila saya yang cium pasti tujuh hari tujuh malam nggak saya cuci bibir saya"


Andi tersenyum membayangkan Ia dan Syakila.


Deg...


Yudha yang dari tadi duduk di belakang mendengarkan pembicaraan anak muridnya.


Yudha merasa panas mendengar ucapan Andi.

__ADS_1


"Rifki mencium Syakila?"


Ia menahan amarah, saat kata-kata itu menggema di telinganya, Ia sangat cemburu, gadis itu tidak boleh di miliki siapa pun selain dirinya.


__ADS_2