Terlanjur Mencintai Mantan

Terlanjur Mencintai Mantan
Kegelisahan dan Kerinduan


__ADS_3

Malam terasa sangat singkat,


Pertemuan yang akan berakhir dengan perpisahan melebur dalam kegelisahan hati,


Sepasang kekasih hanyut dalam kesedihan yang tak terutarakan, hanya tatapan dan kebisuan yang mampu mengusik relung hati yang terdalam.


Bintang-bintang yang meredup tertutup awan tebal di langit, rindu yang terlalu berbisik tentang pertemuan kembali.


Sejak cinta itu tumbuh, bersemi dan mekar, bagai kelopak bunga yang berguguran meninggalkan tangkai tempat keindahan itu berada.


Kasih....


Kenangan tentangmu mungkin terlalu singkat, namun cukup untuk ku dekap dalam hatiku untuk selamanya...


Rifki memeluk Syakila begitu erat, gadis itu membalas pelukan dengan kerinduan yang mendalam,


"Benarkah, kamu akan pergi?"


Syakila masih berbisik dalam hati.


Dari balik pintu Syakila masih bisa melihat pundak Rifki yang semakin menjauh, Mama menepuk bahu Syakila dengan lembut.


"Ma, Rifki..."


"Iya, Mama tau"


"Sebenarnya ada apa Ma?"


Mama terdiam sejenak, untuk mengatur nafas.


"Ada yang ingin Mama beritahukan sama kamu?"


"Apa, Ma?"


"Ini tentang Rifki,"


"Kenapa dengan Rifki?"


"Sebenarnya Rifki sedang sakit, kepergiannya untuk penyembuhannya"


"Ma...maksud Mama gimana?"


"Iya sayang, sejak awal Tante Citra sudah cerita sama Mama dan Papa, atas dasar itulah kami menyetujui pertunangan kalian, sebab mungkin itu adalah keinginan terbesar Rifki, Tante Citra hanya ingin melihat Rifki bahagia"


"Nggak mungkin, Mama bercanda kan?"

__ADS_1


"Nggak, sayang ini kenyataan yang harus kamu terima"


"Syakila harus bagaimana, Syakila sayang sama Rifki"


Syakila merasa sangat cemas, tubuhnya terasa lemas, bibirnya kelu menahan kesedihan yang tak terjabarkan.


"Kamu harus tenang sayang, Rifki nggak mau kamu tau kalau dia sekarang sedang menderita, Ia hanya ingin meninggalkan kesan yang indah bersama kamu"


"Kenapa Rifki ingin menderita sendirian, Dia nggak mau saya tau, tapi apa Dia tau dengan melakukan tindakan seperti ini akan membuat saya selalu merasa bersalah dalam penyesalan, apa Ia ingin pergi seperti itu?"


"Mama juga nggak tau, tapi semua akan berlalu seperti apa adanya"


"Sekarang Syakila harus seperti apa, pura-pura tidak tau?"


"Setidaknya Rifki akan merasa tenang dan mungkin Ia akan lebih bersemangat untuk penyembuhannya, sebab ini bukan pertama kalinya, Ia sudah pernah mengalaminya, mungkin ini akan lebih sulit, kita berdoa saja dan memberi semangat padanya"


"Syakila benar-benar nggak tau, Ma."


Dari lubuk hatinya yang terdalam, Syakila merasa marah karena sudah di bohongi oleh orang-orang yang Ia sayangi, namun Ia juga merasa sangat sedih dan sakit saat harus menghadapi kenyataan bahwa Rifki akan pergi dalam keadaan seperti ini.


Sepenjang malam Syakila sulit memejamkan mata, Ia tak berhenti menangis,


Kamu hadir bagaikan badai yang tak dapat ku hindari,


Kamu pergi bagaikan angin dan tak dapat ku gapai.


Dalam diam Rifki masih menahan rasa sakit yang teramat sangat, kenangan bersama Syakila sedikit demi sedikit mulai memudar, Pemuda itu ambruk dalam perjalanan, Citra yang sedang mengemudi berteriak panik memanggil-manggil nama anaknya, suara decitan ban mobil terdengar saat wanita itu menghentikan mobil, Ia berusaha membangunkan Rifki namun tak ada respon dari pemuda itu, dengan sigap wanita itu memutar balik mobil mencari rumah sakit terdekat.


Dalam situasi yang panik, wanita itu menangis dan masih berusaha menepuk-nepuk wajah Rifki.


"Bangun nak, tolong jangan seperti ini"


Akhirnya Citra melihat ada rumah sakit, Ia bergegas memanggil suster untuk membantunya menggotong tubuh Rifki,


Pemuda itu di tangani oleh dokter, dan Ia dinyatakan koma.


Mendengar pernyataan itu Citra tak dapat menahan air matanya, Ia menangis sejadi-jadinya, suster yang berada di sana mencoba menenangkan wanita cantik itu.


Citra mencari meja resepsionis, Ia meminjam telepon untuk menghubungi suaminya yang berada di luar negri.


Setelah berbincang beberapa menit, akhirnya mereka mengambil keputusan untuk langsung mengirim Rifki ke Jerman di bantu oleh tim medis di sana.


Citra juga sempat menghubungi rumah Syakila, namun panggilan itu tak ada jawaban, kemudian Ia menghubungi Dona dan memberitahukan bahwa malam ini juga mereka akan terbang ke Jerman membawa Rifki yang sudah dinyatakan koma.


Keadaan saat itu sangat mencekam, bahkan Citra terlihat sangat takut, namun Ia berusaha untuk tenang.

__ADS_1


Keesokan harinya, Syakila seperti mendapat firasat yang tak baik tanpa sengaja menjatuhkan gelas yang ada di atas meja belajarnya, hatinya benar-benar gelisah pikiranya tertuju hanya kepada Rifki.


Saat tiba-tiba Mama mendekati Syakila dan memberikan kabar yang mengejutkan, Syakila benar-benar tak bisa menahan tubuhnya sehingga membuat Ia terjatuh dan pingsan.


Beberapa saat kemudian, saat Syakila mulai membuka matanya, Ia dapat melihat semua orang sedang menungguinya, terutama Rio yang menangis ketakutan saat mendapati Syakila tak sadarkan diri.


"Mama, Rifki di mana?"


Mama tak berani mengucapkan sepatah kata pun, Ia mengusap rambut anak gadisnya itu, memeluk tubuhnya dengan lembut.


"Tenang sayang, semuanya akan baik-baik saja"


"Syakila mau ketemu sama Rifki, Ma?"


"Iya, nanti ya sayang, tunggu Papa pulang dari luar kota, kita bicarakan ini lagi nanti"


Sejak saat itu kehidupan Syakila berubah, dari gadis yang dulunya ceria dan penuh ketenanga berubah menjadi gadis yang pendiam dan selalu menyendiri.


Sudah tiga hari Ia tidak masuk sekolah, Ia hanya diam di kamar tanpa berbuat apa-apa, matanya sembab akibat menangis semalaman, seandainya Ia tau akan terjadi hal seperti ini, Ia tidak akan membiarkan Rifki kembali begitu cepat, Ia masih mengingat ucapan terakhir Rifki, Ia akan kembali, sesuatu yang sulit di pastikan, keyakinan itu seakan memudar seakan tak ada harapan.


Riska menjadi khawatir melihat keadaan Syakila yang murung, seakan tak ada semangat dalam hidup anak gadisnya itu, Ia menghubungi suaminya, agar cepat kembali, Ia membutuhkan seseorang yang kuat untuk mendukungnya dalam menghadapi masa sulit ini, namun suaminya belum bisa meninggalkan pekerjaannya, sebab ada beberapa masalah yang belum selesaikan di sana.


Waktu berlalu, seiring dengan kesedihan yang membekas,


Rindu mengusik di dera rasa penyesalan,


Akankah kekasih baik-baik saja?


Pertanyaan yang selalu membisiki relung hati yang pilu.


Mungkin doa penyejuk hati yang sedang gersang,


Gurun kerinduan haus akan Cinta dan kasih sayangnya.


Sejak kapan rasa ini menyakitkan?


Sampai kapan duri ini menusuk hati?


Kenangan, hanya kenangan yang kamu titipkan, untuk sejenak melenyapkan penderitaan ini.


Sulit rasanya bernafas saat menyebut namamu, pikiran terguncang saat mengingatmu,


Entah sampai kapan sepi ini menghilang?


Entah bagaimana cara mendamaikan hati yang gelisah?

__ADS_1


Syakila menatap langit malam mencari bintang yang bersinar terang, berharap Rifki bisa mendengar pesan yang di sampaikan melalui alam,


"Saya Merindukanmu, dan selamanya akan seperti itu"


__ADS_2