
Syakila membongkar tas sekolahnya, Ia mencari buku berwarna coklat, buku yang selalu Ia bawa.
Kemudian Ia teringat kejadian saat Ia terkunci di toilet, sebenarnya itu bukan kebetulan ada seseorang yang sengaja menguncinya, Ia mendengar suara seseorang dari balik pintu, suara seorang perempuan, mereka cekikikan saat Syakila menunjukkan ekspresi panik dan ketakutan.
Berkali-kali Syakila minta tolong agar mereka membukakan pintu, namun mereka malah pergi meninggalkan Syakila dalam keadaan terkunci, Ia ingat sebelum memasuki bilik toilet Syakila menggantung tas di dinding toilet.
Syakila masih berusaha mencari buku berwarna coklat itu, tapi buku itu telah menghilang.
Syakila semakin panik, buku itu sangat berharga baginya, Ia mengingat kembali tulisan terakhirnya tentang perasaannya pada seorang Cowok, Ia bahkan menuliskan nama Cowok itu.
"Bagaiman ini?"
Perasaannya benar-benar tidak tenang, apalagi semua masalah pribadinya tertulis jalas di buku itu, bahkan Ia juga menulis tentang keluarganya.
Syakila telah sampai di Sekolah, Ia menunggu Nadia datang, tumben Gadis itu belum datang juga, sampai bel berbunyi Nadia belum juga ada tanda-tanda Nadia akan hadir.
Sampai jam pelajaran pertama selesai Nadia juga belum muncul, dan terdengan kabar kalau Nadia sedang sakit dari Pak Yudha.
Rifki mendekati Syakila, Ia menanyakan kabar Gadis itu.
Syakila berkata kalau Ia baik-baik saja, Syakila ingin bertanya pada Rifki tentang bukunya, mungkin Rifki melihat buku itu saat menolongnya, tapi Ia mengurungkan niatnya, saat Ia mendengar ucapan Rifki
"Syakila, nanti kita haaln yuk?"
"Kemana?"
Rifki mengajak Syakila ke sebuah cafe, ada hal penting yang ingin Ia bicarakan pada Syakila, Syakila mengiyakan ajakan Rifki, mungkin sekalian Ia bisa bertanya tentang bukunya saat mereka di cafe.
Setelah pulang sekolah Rifki menjemput Syakila di rumahnya, setelah itu mereka akan pergi ke cafe yang masih dekat dengan rumah Syakila.
Syakila bersiap-siap, Ia meminta izin pada Mama dan dengan mudahnya Mama mengizinkan saat tau Syakila akan di jemput Rifki, sepertinya Mama menyukai Rifki, karena Ia anak dari Tante Citra, sebaliknya Papa seperti melarang Syakila berhubungan dengan Rifki meski Ia tak mengungkapkannya secara langsung.
Terdengar suara klakson sepeda motor dari luar pagar rumah Syakila, saat Mama Syakila akan membukakan pintu rumahnya, Rifki sudah akan mengetuk pintu rumah itu, namun keduluan Mama yang telah membukakan pintu.
"Selamat siang Tante"
"Siang, masuklah dulu, Syakila masih di dalam kamar, biar Tante panggilkan dulu ya"
Rifki duduk dengan tenang di ruang tamu yang terlihat lengah itu, beberapa foto terpajang di dinding ruang tamu itu, Ia terpesona saat melihat foto Gadis kecil berkepang dua, mata bulat dan bibir kecil tersenyum.
"Sejak kecil Dia memang terlihat imut"
Rifki senyum-senyum sendiri, Ia tak sabar ingin mengungkapkan perasaan pada Gadis kecil yang ada di foto itu.
"Tapi bukan padamu"
Ucapnya sambil melihat foto itu,
__ADS_1
"Saya akan mengungkapkan perasaan saya pada kamu yang sekarang"
Tanpa Ia sadari Mamanya Syakila sedang memperhatikannya dari kejauhan, dengan cepat Rifki kembali ke tempat duduknya dan tersenyum malu pada wanita yang masih terlihat awet muda dan cantik itu.
"Hmm...Syakila masih belum siap"
Ucap mama.
"Iya Tante nggak pa pa"
"Gimana kabar Mama kamu?"
"Mama baik Tante"
"Kalian mau pergi kemana?"
"Cuma ke cafe dekat sini kok Tante"
"Tante boleh ikut, nggak, soalnya Tante bosan ni sendiri di rumah"
Rifki menunjukkan ekspresi cemas, Mama yang menyadari hal itu, langsung tertawa.
"Tante cuma bercanda, kok"
Rifki lega mendengar ucapan Mamanya Shakila.
"Iya Tante"
Syakila menghampiri mereka, Rifki terpesona melihat Syakila yang sudah ada di hadapannya, seperti biasa Gadis itu selalu tampak cantik, tapi kali ini Ia bertambah cantik memakai dress berwarna coklat, polesan bedak yang tipis di tambah lipp bam yang membuat warna pink di bibir Gadis itu tampak berkilau.
Rifki berpamitan begitu juga Syakila, Mama mengingatkan Syakila agar pulang lebih awal dari Papanya, Ia tak ingin suaminya marah karena mengizinkan Syakila pergi bersama Cowok.
Rifki memberikan helm kepada Syakila, mereka pergi menuju cafe, Jantung Syakila berdebar sangat kencang, Ia sangat senang bisa berduaan denagan Rifki, Ia memandangi punggung Rifki menghirup aroma parfum yang membuatnya ingin memeluk Cowok itu, Ia jadi teringat iklan parfum di televisi, saat Gadis-Gadis menempel pada seorang pria yang memakai parfum bermerek terkenal.
Stakila senyum-senyum sendiri mengingat tindakannya itu, sepertinya Ia sudah jatuh cinta pada Rifki, hal itu membuatnya selalu bahagia dan bersemangat.
Sedangkan Rifki fokus mengendarai sepeda motor, Ia tak kalah berdebarnya dari Syakila, Ia mempersiapkan kata-kata yang romantis untuk menujukkan perasaannya pada Syakila, Ia bahkan berniat akan melamar Gadis itu.
Sepertinya Ia ingin memiliki Gadis itu sepenuhnya, meski Ia tau itu tak akan mudah mengingat mereka masih bersekolah, tapi Ia hanya ingin memperjelas status mereka agar tak ada yang berani mendekati Syakila, Ia tak masalah mereka tinggal terpisah sampai mereka cukup bertanggung jawab saat mereka akan bersama.
Tapi Ia ragu, apakah Gadis itu akan menerimanya atau sebaliknya malah akan menolaknya.
Saat mereka sampai di tempat tujuan, Rifki masih dengan wajah tegangnya, mempersilahkan Syakila memesan hidangan yang Ia suka.
Syakila hanya memesan jus jeruk sedangkan Rifki memesan capucino dingin.
Rifki menatap Syakila, dengan sedikit keberanian Ia mencoba membuka pembicaraan, Saat Ia menyebut nama Syakila, secara bersamaan Syakila juga menyebut nama Rifki.
__ADS_1
Mereka menjadi salah tingkah, terutama Rifki yang menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.
Rifki mengisyaratkan agar Syakila yang berbicara diluan.
"Hmmm...saya ingin menanyakan, apakah kamu melihat buku saya sewaktu di toilet?"
"Buku yang seperti apa?"
"Buku agenda berwarna coklat"
"Saya tak begitu memperhatikan, yang memegang tas kamu saat itu Pak Yudha atau Nadia ya, saya nggak begitu memperhatikan, saya sedang mengangkat kamu saat itu, saya hanya fokus padamu saja, emangnya ada apa dengan buku itu?"
"Buku saya hilang, saya sudah berusaha mencarinya tapi tidak ketemu juga"
"Emangnya buku itu sangat penting buat kamu?"
"Iya itu sangat penting"
"Saya akan membantu kamu mencarinya"
Mereka menyeruput minuman mereka masing-masing, Rifki sedikit ragu akan mengungkapkan perasaannya, melihat Syakila yang terlihat cemas memikirkan benda berharganya yang hilang.
"Syakila, saya menyukai kamu"
Mendengar ucapan Rifki sontak membuat Gadis itu tersedak, Ia terbatuk-batuk, membuat Rifki menjadi panik dan berdiri mendekati Syakila agar Ia bisa menepuk pundak Gadis itu.
"Kamu baik-baik saja?"
"I...ya, saya tidak apa-apa"
Rifki kembali duduk dan menatap Syakila yang wajahnya kini berubah semakin merona.
"Saya ingin bertunangan dengan kamu"
Syakila terlihat panik mendengar ucapan Rifki.
"Apa, Dia bercanda kan?"
Syakila membatin.
"Gimana, kamu setuju kan?"
"Tapi, kita kan masih Sekolah"
"Saya ingin memperjelas ikatan ini sebelum saya pergi"
Deg....
__ADS_1
Syakila berdebar saat mendengar ucapan terakhir Rifki.