
Hari ini belum berlalu,
Laki-laki itu terlalu rupawan, sorot matanya membuat setiap Gadis terpaku.
Syakila menghela nafas panjang, Ia tak ingin larut dengan perasaannya.
Ia masih mendengarkan ocehan Nadia, meski pikirannya entah berada dimana, seketika lamunannya buyar saat seseorang memukul meja yang ada didepannya, pandangan Syakila tertuju pada orang yang membuatnya terkejut.
Namun orang itu dengan cepat meninggalkan meja Syakila, Ia meninggalkan secarik kertas di atas meja.
Syakila sedikit ragu untuk mengambilnya, namum tidak demikian dengan Nadia, dengan cepat Nadia meraih kertas itu dan tanpa rasa bersalah Ia membaca isi kertas itu.
...Tampak senyuman menghiasi wajah Gadis imut yang bernama Nadia itu....
...Sesekali Ia melirik teman sebangkunya, sambil mengangguk-angguk seperti anak ayam yang sedang mencari makan....
...Kemudian Nadia memberikan kertas itu kepada Syakila, Nadia memberi isyarat agar Syakila membaca isinya....
Syakila sedikit bingung dengan isi kertas itu, Tertulis "Call me" dan sebuah angka-angka yang sepertinya nomor telepon rumah "06173936693".
Syakila melipat kembali kertas itu dan menyimpannya di laci meja, Nadia tersenyum melihat Syakila yang tampak gerogi.
terdengar suara Nadia menyela kebisuan.
"Lumayan"
"Apanya yang Lumayan?" Syakila bertanya maksud ucapan Nadia.
"Cowok tadi, siapa lagi."
"oh"
__ADS_1
"Kamu kenal dengan Dia?"
"nggak"
"oh"
Tampak Cowok itu memasuki kelas, yang tadinya Ia pergi keluar saat meletakkan secarik kertas di meja Syakila.
Syakila memalingkan wajahnya, Ia tak berani menatap lagsung pada Cowok itu, Ia tak bisa membiarkan Cowok itu melihat wajahnya yang memerah saat bertatapan dengannya.
Langkahnya begitu pasti, sesekali melirik ke arah Syakila, namun Gadis itu seakan memalingkan wajahnya, seolah Ia enggan bertatapan langsung dengannya.
Rifki tersenyum tipis, sambil merapikan rambut yang menutupi sebagian matanya.
Nadia terkesima saat memandang Cowok itu, sampai-sampi Ia tak sadar mulutnya hampir dimasuki lalat.
"Ganteng banget sih Dia"
"Nadia, Kamu genit, ih"
Nadia menjadi malu dan memukul maja Syakila.
"Beneran Ganteng, kalau aja bukan gebetan Kamu udah saya sikat Dia"
"Sikat...Sikat, emangnya Dia toilet, siapa bilang Dia gebetan saya, kan kami belum kenalan"
"Ya, tunggu apa lagi, tinggal ajak kenalan, kan selesai"
"ih...nggak deh, kok Kita yang ngajak kenalan, kita kan Cewek, malu dong"
"emangnya kenapa kalau Cewek, emansipasi neng, jangan kebanyakan dengarin nenekmu mendongeng"
__ADS_1
"Nggak ah, itu sesuatu yang tabu di keluarga kami, nggak ada sejarahnya Cewek yang dekatin Cowok diluan"
"terserah deh"
Syakila sedikit kesal melihat tingkah Nadia yang kecentilan sambil melirik Cowok itu, Ia seakan tak rela jika Cowok itu tergoda pada Nadia.
'Hello....Apa kabarnya dengan saya, gigit jari"
Syakila melirik Nadia kemudian melirik Cowok itu, terlihat Ia tersenyum ramah pada Nadia.
Seketika hatinya merasa panas, Ia tak rela melihat pemandangan itu, Ia pun beranjak dari kursinya, dan meninggalkan kelas untuk menghirup udara segar, sebab tiba-tiba Ia merasa sesak.
Syakila merapikan seragamnya, Ia menepuk-nepuk wajahnya agar Ia segera sadar.
"Ayo Sya, Kamu harus bersikap normal, emangnya Dia siapa, Pangeran?
cuma Cowok biasa, anggap aja nggak ada.
ih...Cowok macam apa sih Dia, bukannya tadi Dia menatapku, melirikku, tapi dengan sekejap Ia melupakanku"
Syakila terlibat argumen dengan dirinya sendiri.
"Tenang"
Syakila menarik nafas dalam kemudian membuangnya perlahan.
"Ok, pasti bisa"
Syakila kembali ke kelas, Ia tersenyum pada Nadia, seolah tak terjadi apa-apa.
Tapi....senyum itu memudar saat Syakila mendapati kursinya telah di isi oleh orang lain, dan orang itu adalah...
__ADS_1