Terlanjur Mencintai Mantan

Terlanjur Mencintai Mantan
Ingin Menghindarinya


__ADS_3

Syakila hanya bisa termenung dan meratapi kebodohannya,


Kenapa juga Ia harus sedih, hanya demi seorang Cowok, lagi pula Dia bukan siapa-siapa.


Syakila mendapati Rio sedang bermain di atas kasurnya,


"Rio sudah pulang?"


"Iya, Kak"


"Tapi besok Rio ketempat Tante Dona lagi"


"Kok gitu?"


"Iya, Kak. Besok Rio di ajak Tante ke rumahnya Kak Ardi"


"Emangnya Rio mau ngapain ke sana?"


"Mau mainlah sama Kak Ardi, kata Kak Ardi Dia punya banyak komik yang seru-seru"


"Emangnya Rio nggak rindu sama Kak Sya?"


"Rindu sih, tapi Kak Sya nggak seru, nggak seperti Kak Ardi"


Seru apanya, Cowok sok ganteng gitu di bilang seru, kenapa sih semua orang menyukainya.


Syakila membatin.


Ia tersenyum miris mendengar ucapan adik kesayangannya itu.


"Kakak nggak mau ikut?"


"Ngapain juga Kakak ikut, Kakak di rumah aja, Rio aja yang pergi"


"Tapi Kakak juga di ajak loh sama Kak Ardi"


"Nggak deh, Kakak banyak tugas"


Syakila beralasan.


Syakila ingin menjauhi Cowok yang bernama Rifki itu, Ia takut perasaannya semakin dalam dan membuatnya melakukan hal-hal yang bodoh, seperti tadi saat di Sekolah.


Bisa-bisanya Dia menangis.


"Dasar air mata bodoh, kenapa harus tumpah hanya untuk seseorang yang bukan siapa-siapa"


Syakila menyesali kelakuannya itu.


Tanpa Ia sadari Rio sudah tertidur di sampingnya, tiba-tiba terdengar suara ketukan dari pintu kamarnya.


Syakika bergegas membuka pintu kamar dan mendapati Mamanya sedang berdiri di hadapannya.


"Kenapa, Ma?"


"Rio udah Bobok, Ya?"


"Iya, Ma"


"Kamu di panggil Papa"


"Ada apa Ma?"


"Mana Mama tau, kamu temui aja Papamu di ruang tamu"


Syakila bergegas menemui Papanya yang sedang duduk di sofa sambil menyeruput tehnya.

__ADS_1


"Papa panggil Syakila, ya?"


Papa mengisyaratkan agar Syakila duduk di sampingnya.


"Syakila, hari minggu kamu bisa ikut Papa"


"Ikut kemana Pa?"


"Ada acara wisuda anak teman Papa"


"Kenapa nggak ngajak Mama aja, Pa?"


"Hari minggu Mama mau pergi keluar kota dan kembali di hari senin sore"


"Emangnya ada acara apa di Sekolah Mama, Pa?"


"Kata Mama ada study tour bersama anak-anak didiknya"


"Rio juga ikut, Pa?"


"Emangnya Rio mau meninggalkan kesempatan berjalan-jalan"


"Hm...ya udah deh Syakila temani Papa"


"Gimana Sekolahmu, nggak ada masalah kan?"


"hm...Biasa aja sih Pa"


"Ya sudah semangat belajarnya ya"


"Iya Papa ku sayang"


Pria setengah baya itu, tersenyum mendengar ucapan sayang dari anak Gadisnya.


"Ya sudah pergi sana, suruh Mamamu temani Papa, Ya"


Syakila geli melihat tingkah orang tuanya yang seperti anak remaja.


Syakila mengecek kembali semua barang bawaannya, semua sudah lengkap dan Ia bergegas berangkat ke Sekolah.


Di kelas semua Siswa sibuk membicarakan tentang keseruan hari ini, mereka tak sabar mengikuti acara yang sudah di siapkan pihak Sekolah.


Begitu juga dengan Nadia, Ia kegirangan sampai-sampai Ia melompat seperti anak kelinci.


Tiba-tiba Rifki memasuki kelas di ikuti teman-teman lain yang mulai berdatangan, Syakila tak memperdulikan kehadiran Rifki padahal Rifki sedang memandanginya meski Ia sedang berjalan melewati kursi Syakila.


Nadia yang menyadari kehadiran Rifki dengan gerak cepat menghampirinya.


Terlihat Rifki tersenyum hangat menyambut Nadia.


Mereka terlihat semakin akrab layaknya sepasang kekasih.


Perasaan Syakila semakin tak karuan, Ia kesal melihat pemandangan itu.


Syakila memilih pergi ke toilet, meski Ia berjanji pada dirinya untuk tidak perduli tapi hatinya merasa sakit, Ia masih membayangkan kedekatan merka saat di dalam rumah hantu.


Sejujurnya Ia masih merasakan hangatnya genggaman tangan Rifki serta saat Ia memeluk tubuh Rifki.


"Apa ini, kenapa saya terlalu baper"


Syakila menatap wajahnya di cermin toilet.


Setelah itu Syakila memutuskan untuk pergi ke Kantin, Ia berniat membeli air mineral.


Saat Ia berjalan menju arah ke Kantin, tiba-tiba Rifki sudah berada di hadapannya, Syakila mentap Rifki dan kemudian menghindarinya dan memutuskan kembali berjalan menuju Kantin.

__ADS_1


"Syakila"


Panggilnya


Syakila tak memperdulikan Rifki yang sedang memanggil namanya.


"Apa sih mau Dia, Saya sudah bersusah payah untuk melupakannya"


Rifki berlari mensejajarkan diri dengan Syakila.


"Sombong banget sih, di panggil kok malah cuek"


"Saya lagi sakit gigi, jadi malas bicara sama orang yang nggak penting"


"Pasti kamu jarang sikat gigi makanya gigi kamu sakit"


Syakila menatap sinis mendengar ucapan Rifki.


"Kamu marah ya sama saya, kok kamu cuek sih?"


"Terus Saya harus gimana, harus kecentilan seperti Nadia?"


Rifki tersenyum saat mendengar jawaban ketus dari Syakila.


"Jangan bilang kamu cemburu"


Syakila terperanjat menyadari tindakan bodohnya, Ia memang terdengar seperti orang yang sedang tidak percaya diri atau kata lain dari CEMBURU.


"Nggak usah GR, siapa juga yang cemburu, emangnya situ penting?"


"hmm...Nggak penting ya, tapi semalam kok kamu hadir di mimpi saya"


Deg...


Syakila merasa detakan jantungnya melonjak.


"Apa sih, gombalannya nggak bemutu"


"Beneran,di mimpi saya katanya kamu rindu"


"Cih...saya ngomong gitu, pasti itu cuma mimpi kan"


"Kan saya bilang memang mimpi"


"Terus Saya harus bilang WAW gitu"


"Jangan bilang WAW, bilang aja Iya"


"Jangan mimpi"


"Tadi malam memang mimpi, mana tau sekarang jadi nyata"


"Sebenarnya mau kamu apa sih?"


"Nggak mau apa-apa, cuma mau Kamu"


"Kamu mau modusi saya, Kamu kan lagi dekat dengan Nadia?"


Rifki tertawa mendengar ucapan Syakila.


Syakila bertambah kesal melihat tingkah Rifki yang seolah merasa tak bersalah.


Syakila memutuskan kembali ke kelas dan meninggalkan Rifki.


Rifki mengikuti Syakila menuju kelas, sambil berjalan Ia memandangi wajah Syakila yang cemberut.

__ADS_1


__ADS_2