
Tante Dona menjemput Rio, mereka akan pergi memenuhi undangan dari Tante Citra yaitu Mamanya Rifki, sebenarnya Mama ingin sekali ikut bersama Tante Dona tapi Mama sibuk mempersiapkan keperluan untuk acara Sekolahnya.
"Mbak izin bawa Rio, ya"
"Iya, kalian hati-hati di jalan"
"Syakila di mana Mbak, Dia nggak mau ikut?"
"Biasalah tu anak, hobbynya bersemedi di dalam kamar"
"Ya sudah kami jalan dulu ya Mbak?"
"Iya"
Mama melambaikan tangan pada Rio.
Syakila menatap langit-langit kamarnya, terbayang di pikirannya tentang ucapan Rifki saat di Sekolah.
"Saya nggak perduli, terserah Dia mau pacaran dengan Nadia atau tidak, bukan urusan Saya"
Rio tampak gembira, Ia berlari menghampiri Rifki.
"Rumah Kakak bagus banget"
"Terima kasih Rio, tapi ini bukan rumah Kakak, ini rumah orang tua Kakak"
"Kan sama aja, berarti rumah Kakak juga"
"Iya deh"
Rifki melirik ke arah pintu seperti mencari seseorang yang ingin di lihatnya.
__ADS_1
"Kakak cari siapa?"
"nggak cari siapa-siapa?"
"Cari Kak Sya ya?"
Rifki hanya tersenyum mendengar ucapan Rio yang menggemaskan itu.
Rifki mengajak Rio ke sebuah kamar, di dalam kamar itu terdapat banyak mainan dan rak buku.
"Wah, bagus banget, Kak. Ada mainan juga Rio boleh pinjam"
"Boleh dong, tapi ada syaratnya"
"Apa syaratnya, Kak?"
"Rio harus bantuin Kakak"
"Rio jawab pertanyaan Kakak"
"Ok"
"Kak Syakila udah punya pacar nggak?"
"Hmmm...punya nggak ya, kayaknya nggak ada deh, Kak"
"Kak Syakila hobbynya apa?"
"Hmm...apa ya...mungkin belajar, soalnya Rio sering lihat kak Syakila nulis-nulis gitu"
"Satu lagi ya, Makanan kesukaan Kak Syakila apa"
__ADS_1
"Hmm...mungkin Kak Syakila sukanya masakan Mama"
Rifki geleng-geleng kepala mendengar jawaban Rio.
Semuanya jawabannya mengandung kata mungkin, berarti bisa jadi bukan.
"Ya sudah Rio main aja, kalau mau baca komik, pilih saja di rak buku, ya"
"Gimana caranya saya mendekati Syakila, apa saya titip surat ke Rio, tapi apa yang harus saya tulis, saya nggak bisa merangkai kata-kata, biasanya kan langsung ngomong aja.
"Atau saya langsung bilang, kalau saya tertarik padanya, tapi nggak mungkin ngomong gitu, bisa-bisa Dia marah, kata Nadia Dia nggak suka sama saya, apa saya tanya Nadia aja ya"
"Atau saya pendekatan saja dulu, tapi sepertinya Dia judes banget kalau saya ajak bicara, Gadis yang unik, biasanya Gadis lain lansung akrab kalau ngomong sama saya"
Rifki membayangkan saat pertama kali Ia bertemu dengan Syakila, Ia bercahaya saat pancaran sinar matahari pagi menyinari tubuhnya yang putih, Rambutnya yang tergerai tertiup semilirnya angin, mata bulat yang sedang kebingungan mencari-cari sesuatu, lama Ia berdiri membuat mata ini tak bisa berhenti menatapnya.
Apakah Gadis ini bidadari yang di turunkan Tuhan untukku?
Tak pernah merasakan ini sebelumnya, apa ini yang dikatakan jatuh cinta saat pandangan pertama?
Di hari kedua, saat Ia berada di Kantin, Ia mendengar beberapa Cowok sedang membicarakan Gadis yang saya icar, seenaknya mereka memilihnya sebagai calon pacar mereka, bahkan mereka menjadikannya sebagai barang taruhan.
Darah terasa mendidih, kecemburuan menyelimuti hati, apa hak mereka menyukainya?
Rifki memberikan tanda mata berupa beberapa pukulan kepada mereka, yang akhirnya membuat Ia di keroyok sehingga wajah dan bibirnya terluka.
Untung saja Guru itu datang dan menyelamatkannya, kalau tidak Dia bisa babak belur.
"Kenapa saya melakukan itu, apa saya begitu menginginkannya?"
Ia juga membayangkan saat mereka di dalam rumah hantu, Gadis itu memeluknya begitu erat, Ia bisa merasakan aroma parfumnya, aroma buah strawberi, sama seperti buah kesukaannya.
__ADS_1
"Apa saya ungkapkan saja perasaan saya padanya besok?"