
Setelah Tante Citra berbicara secara pribadi kepada orang tua Syakila, entah bagaimana Papa akhirnya menyetujui pertunangan antara Syakila dan Rifki, namun acara hanya disaksikan keluarga dekat saja,
Rifki menyematkan cincin yang di berikan langsung oleh Tante Citra, kata Tante Citra cincin itu adalah cincin turun-temurun dari keluarganya Papa Rifki yang kebetulan tidak bisa hadir dikarenakan masalah kesehatan.
Papa juga memberikan nasehat kepada mereka agar lebih bisa menjaga diri, meski mereka sudah bertunangan namun mereka belum sah menjadi sepasang suami istri.
"Terimakasih, Mas dan Mbak sudah mau mewujudkan impiannya Rifki"
"Tapi Cit, kamu harus ingat perjanjian kita, jangan sampai ada di antara mereka yang tetsakiti"
"Saya akan melindungi anak-anak kita, Mas sama Mbak jangan khawatir, ini hanya masalah waktu saja, saya juga menyayangi Syakila seperti anak saya sendiri, nggak mungkin saya menyakiti Syakila"
"Saya pegang kata-kata kamu Cit, jangan kecewakan kami"
"Mas bisa percaya sama saya"
Kedua remaja itu terlihat sangat bahagia, Rifki terlihat sangat menyayangi Syakila Ia tak pernah melepaskan genggaman tangannya dari Syakila.
"Hari ini kamu cantik sekali"
"Jadi hanya hari ini saya tetlihat cantik?"
"Bukan gitu maksud saya, kamu memang selalu terlihat cantik, tapi hari ini lebih cantik, karena kamu sekarang tunangan saya"
"Kenapa sih kamu ingin kita bertunangan?"
"Sebenarnya saya ingin menikahi kamu hari ini, tapi Mama melarang, sebab kita belum cukup umur, ha...ha...ha..."
"Kamu bercandakan? Benaran kamu bilang gitu sama Tante Citra?"
"Iya, kalau nggak percaya kamu tanyakan saja langsung"
"Tapi kenapa?"
__ADS_1
"Karena saya Cinta sama kamu"
Syakila berdebar mendengar pengakuan Rifki, meski ini sudah yang ke sekian kali Rifki mengatakan jika Ia mencintainya.
"Saya akan membahagiakan kamu selama kita bersama, saya akan memanfaatkan sisa waktu saya selama satu bulan ini, jadi kamu tunggu kejutan dari saya"
"Maksud kamu apa?"
Syakila menatapa dalam pada sosok Rifki yang hari itu terlihat sangat tampan.
Wajahnya yang berseri, hidung yang runcing serta bibir yang merah seperti habis makan bakso mercon.
Rifki hanya tersenyum pebuh rahasia.
Syakila mengacak-acak rambut Rifki, yang kemudian Rifki merapikan kembali rambutnya menggunakan jari-jarinya.
"Kenapa Dia tetap terlihat tampan meski saya sudah mengacak-acak rambutnya"
Syakila membatin.
Rifki mengusap bibir Syakila dengan jari telunjuknya, Syakila semakin berdebar, Ia benar-benar gugup menghadapi situasi seperti itu, sebab Ia benar-benar belum berpengalaman masalah cinta.
Rifki mengacak-acak rambut Syakila, yang membuat gadis itu menjadi kesal, sebab Rifki sudah membuat jantungnya hampir copot, Ia mengira Rifki akan menciumnya, ternyata Rifki hanya mengerjainya, Rifki malah tertawa melihat ekspresi ketakutan di wajah Syakila.
Rifki memeluk Syakila dan mencium ujung kepala Syakila, baru kali ini Syakila merasakan kehangatan dan kelembutan, Ia seakan melayang dan rasanya Syakila hanya ingin berada di dalam pelukan Rifki, namun waktu berlalu begitu cepat mereka harus berpisah sebab Tante Citra dan Rifki harus pulang.
"Tante pulang dulu ya, jaga dirimu baik-baik"
Sambil memeluk erat Syakila.
"Iya, Tante"
Rifki berpamitan kepada kedua orang tua Syakila, Papa menepuk pundak Rifki.
__ADS_1
"Hati-hati ya Nak, jaga Mamamu"
"Iya Om, Tante saya pamit"
Rifki melambaikan tangan pada Syakila begitu juga Syakila.
Ia merasa ada sesuatu yang aneh dengan perasaannya saat melihat Rifki melambaikan tangannya, seolah Syakila tak ingin berpisah dari Rifki.
Rifki merasa bahagia, Ia tak berhenti tersenyum, Mama memperhatikan Rifki dari kursi kemudi mulai berbicara.
"Kamu senang sekarang?"
"Senang sekali, Ma"
"Lalu apa rencanamu selanjutnya?"
"Saya mau membahagiakan Syakila sebelum kita kembali ke Jerman"
"Kamu yakin bisa bertahan?"
"Saya akan berusaha sekuat tenaga saya, agar saya bisa mewujudkan keinginan saya"
"Mama harap kamu menepati janji kamu, Jangan buat Mama Papa sedih da kecewa, karena cuma kamu satu-satunya harapan kami, jika memang gadis itu yang bisa membuat kamu bertahan Mama tidak akan menentang"
"Syakila cinta pertama saya, Ma saya akan mati jika terjadi sesuatu padanya"
"Jangan bicara seperti itu, nak Mama benar-benar tidak suka mendengarnya"
"Mama juga orang yang salah satu wanita yang paling saya cintai, terimakasih, Ma"
"Iya, sayang"
Citra membelai rambut Rifki, dengan tatapan berkaca-kaca seakan menahan air mata kepedihan.
__ADS_1
"Saya akan bersamanya sebelum saya kehilangan kesadaran"
Rifki membatin, Ia tak henti-hentinya membayangkan rencananya besok, Ia akan membawa Syakila ke suatu tempat setelah pulang Sekolah, bahkan Ia sudah meminta izin kepada orang tua Syakila dan mereka juga akan membawa Rio.