Terlanjur Mencintai Mantan

Terlanjur Mencintai Mantan
Moment berdua


__ADS_3

Pagi itu Yudha menegur Syakila,


"Syakila, apa yang terjadi dengan rok kamu?"


Syakila panik dan memperhatikan rok sekolahnya, ternyata roknya sobek di bagian belakang, Syakila merasa sangat malu dan mencoba menutupinya dengan bersandar ke tiang dinding yang kebetulan ada di sampingnya.


Yudha melepas Jaket yang Ia pakai dan memberikan jaket itu kepada Syakila agar Syakila bisa menggunakannya untuk menutupi roknya yang sobek.


Syakila mengikat jaket itu ke pinggangnya sehingga menutupi bagian belakang roknya yang sobek.


"Kok bisa sobek begitu?"


"Mungkin tersangkut saat turun dari angkutan umum Pak, maaf saya jadi merepotkan Bapak, nanti saya kembalikan Jaket Bapak"


"Nggak masalah, kamu pakai saja dulu"


"Makasih ya, Pak, saya masuk kelas dulu"


Yudha mempersilahkan Syakila untuk pergi, tapi Ia tak berhenti menatap gadis itu, Ia sangat mengagumi dan semakin hari perasaannya pada gadis itu semakin bertambah.


Dari awal Rifki sudah memperhatikan Yudha, Ia mengerti arti tatapan Yudha pada Syakila, tapi Ia berusaha untuk tenang.


"Pagi, Pak?"


Yudha terlihat gelagapan saat mengetahui Rifki yang sudah berada di sampingnya.


"Pagi"


"Saya ke kelas dulu, Pak"


Rifki langsung berpamitan, dan berjalan meninggalkan Yudha.


Yudha sendiri berjalan menuju ruangannya, ada rasa tak nyaman di hatinya, satu sisi Ia tak bisa menahan perasaannya pada Syakila, satu sisi lagi Ia harus berlaku profesional, Ia adalah seorang pendidik yang menjadi contoh, Ia merasa kurang pantas mencintai seorang Siswinya.


Rifki menyentuh bahu Syakila


"Hai"


Syakila menoleh kearah Rifki, Syakila menarik tangan Rifki dan memaksa Rifki duduk di sampingnya.


Rifki menatap dalam wajah Syakila


"Ada apa?"


Syakila mendekatkan wajahnya kepada Rifki, saat itu Jantung Rifki berdebar kencang, Syakila kemudian berbisik pada Rifki.


"Rok ku sobek"


Rifki tersenyum, Ia mengutuk dirinya karena sudah berpikir yang aneh-aneh, Ia berharap Syakila akan menciumnya.


"Kamu kok malah tertawa, emangnya lucu ya, melihat orang lain kesusahan?"


"Nggak gitu"


Rifki jadi semakin salah tingkah.


"Saya mau pulang aja, mau ganti rok, tapi takutnya nggak keburu, kamu antarin saya ya?"


"Kamu di sini aja, biar saya yang ambilkan rok kamu di rumah"


"Tapi di rumah nggak ada orang, kuncinya saya bawa"


"Ya sudah, kasih tau saya ukuran pinggang kamu"


"Untuk apa?"

__ADS_1


"Kasih tau aja"


Syakila sedikit ragu, kemudian Ia memberitahu Rifki,


"27"


Rifki meninggalkan Syakila, Ia menuju toko seragam sekolah yang berada di persimpangan jalan dekat sekolah, toko itu masih tertutup, beberapa menit kemudian pemilik toko datang, Rifki mendesak agar pemilik toko segera membuka toko, akhirnya Rifki mendapatkan apa yang Ia cari dan membayar satu set seragam sekolah itu kepada pemilik toko, saat Rifki akan menghidupkan sepeda motornya, tiba-tiba kepalanya terasa sakit, kali ini sakitnya tak seperti biasanya, sampai-sampai Ia terjatuh dari sepeda motornya, pemilik toko yang menyaksikan itu mencoba membantu Rifki, Ia memberi sebotol air mineral untuk menenangkan Rifki, saat Rifki sedikit membaik, Ia berpamitan pada pemilik toko dan mengucapkan banyak terima kasih karena sudah membantunya.


Rifki melirik jam tangannya, saat itu sudah menunjukkan pukul 8 lewat 4 menit, sudah telat pikirnya, Ia mempercepat laju sepeda motornya.


Saat Ia sampai, ternyata gerbang sudah di tutup, Rifki bingung bagaimana caranya Ia bisa masuk kedalam, saat Ia akan memanjat tembok, Syakila menghentikannya.


"Rifki?"


"Kamu, Kok di sini?"


"Saya tadi izin pulang"


"Emangnya boleh?"


"Pak Yudha mengizinkan, tapi sebelum istirahat saya harus kembali, kamu dari mana aja, saya khawatir"


Rifki menyodorkan kantong pelastik kepada Syakila


"Apa ini?"


"Saya pergi membeli ini"


"Kenapa repot-repot begini, kamu jadi terlambat, kan!"


"Ayo kita cari tempat biar kamu bisa ganti rok"


Rifki menarik Syakila ke sepeda motornya kemudian mengajak gadis itu berkeliling-keliling mencari supermarket, Syakila memasuki toilet, saat Ia membuka kantong pelastik itu, Ia menemukan seragam sekolah juga.


"Rifki, kenapa beli seragam juga, anak ini ada-ada saja"


"Ini banyak sekali"


Syakila sedikit protes,


"Masih ada setengah jam lagi, kita nongkrong sambil ngemil di sini"


Kebetulan supermarket itu memiliki taman kecil yang biasa di jadikan tempat orang-orang menunggu atau mengajak bermain anak-anak sembari menunggu berbelanja.


Syakila sangat terharu melihat perhatian Rifki, Ia merasa sangat bahagia bisa bersama dengan Rifki.


Mereka duduk sambil bercerita panjang lebar, membayangkan masa depan saat mereka bisa bersama, Rifki ingin sekali mengajak Syakila ke Jerman dan menetap di sana.


Syakila yang terpesona menatap pemuda itu, saat Ia memperhatikan wajah pemuda itu ada sesuatu yang berbeda, kali ini Rifki terlihat sangat pucat pelipisnya tampak berkeringat.


Syakila memegang wajah Rifki, Ia merasa pemuda itu sangat dingin.


"Kamu kenapa, kamu sakit ya?"


"Nggak, saya baik-baik saja, kita kembali ke sekolah yuk"


Ajak Rifki.


Kali ini Syakila merasa sangat khawatir, Ia merasa Rifki menyembunyikan sesuatu kepadanya.


Sepanjang perjalanan Syakila memeluk erat tubuh pemuda itu, tak seperti saat pertama mereka bertemu pemuda itu terasa sangat dingin.


"Rif, kamu baik-baik aja, kan?"


"Iya, emangnya kenapa?"

__ADS_1


"Kamu nggak sedang sakit, kan?"


Rifki tak menjawab pertanyaan Syakila, Ia hanya diam sambil pokus mengendarai sepeda motornya.


Syakila menulis kata-kata ke punggung Rifki menggunakan jari telunjuknya.


I LOVE YOU


Rifki yang menyadari itu, tiba-tiba saja merasa sangat sedih, Sampai-sampai Ia tak sadar sudah meneteskan air mata, di lubuk hatinya yang terdalam Ia sangat takut jika harus berpisah dengan gadis yang di cintainya.


Syakila kembali memeluk Rifki, akhirnya mereka sampai di gerbang sekolah, kebetulan gerbang sudah di buka, Syakila menunjukkan bed yang di berikan Pak Yudha padanya kepada Pak satpam, Pak satpam mengizinkan mereka kembali masuk.


Syakila ke ruangan Pak Yudha sedangkan Rifki kembali ke kelas.


Syakila mengembalikan bed dan juga Jaket yang tadi di pinjamkan Pak Yuda kepadanya.


"Makasi ya Pak, sudah mengizinkan saya keluar"


"Kamu pergi bersama Rifki?"


"Iya, Pak"


"Seharusnya Rifki nggak bisa masuk, Dia tidak minta izin sama saya"


"Maaf, Pak tadi Dia hanya membantu saya"


"Ya sudah, kamu kembali ke kelas saja"


"Baik, Pak"


Syakila meninggalkan ruangan itu.


Saat di kelas Rifki mendapatkan banyak pertanyaan dari Andi, teman sebangkunya itu memang suka mengurusi kehidupan orang lain.


"Keman aja kamu, kamu sama Syakila bolos ya?"


Rifki tak menggubris semua pertanyaan Andi, Ia sedang pokus menahan rasa sakit di kepalanya.


Saat Syakila muncul, Nadia sudah heboh.


"Sya dari mana aja?"


"Saya izin ganti rok, soalnya rok saya sobek"


"Kamu tau nggak?"


"Tau apa,"


"Saat jam pelajaran Pak Yudha, Ia kelihatan marah banget, saat tau Rifki nggak ada di kelas, sepertinya Dia marah karena Dia yakin kalian pergi berdua"


"Iya saya sudah jelasin sama Pak Yudha, sepertinya Dia nggak marah lagi"


"Kamu yakin?"


"Maksudnya?"


"Menurut saya Pak Yudha ada rasa sama kamu"


"Hust...jangan ngomong sembarangan, nggak mungkinlah Pak Yudha suka sama saya, Pak yudha itu kan Guru kita"


"Ini kan cuma perasaan saya saja"


"Nggak ada yang seperti itu"


"Kalau sama Rifki gimana?"

__ADS_1


Syakila tak menjawab pertanyaan Nadia, karena Ia yakin Nadia sebenarnya sudah tau kedekatannya dengan Rifki.


__ADS_2