
Kenapa Rifki mengatakan Ia akan pergi, apa maksud dari ucapan Cowok itu?
Syakila jelas saja bingung harus jawab apa?
Ia jelas tak akan bisa menjawab, bahkan Ia tak pernah berpikir Rifki akan mengatakan hal seserius itu padanya.
Rifki masih menunggu jawaban dari Gadis itu, Syakila sendiri tampak bingung.
"Emangnya kamu akan pergi kemana?"
Rifki sedikit ragu, tapi kemudian Ia memberitahukan jika Ia akan kembali ke Jerman untuk beberapa tahun, sebab Papanya sedang sakit dan menginginkan mereka bersamanya, tapi saat Papanya membaik mereka akan kembali ke Indonesia.
"Kenapa kamu ingin bersama saya saat kamu akan pergi jauh?"
Syakila jelas kesal mendapat kenyataan bahwa Rifki akan pergi meninggalkannya.
"Saya ingin bersama kamu, karena saya sangat mencintai kamu, saya akan kembali.
saya sudah membicarakan semuanya pada Mama dan Papa saya, awalnya mereka tidak setuju tapi dengan susah payah saya meyakinkan mereka sebagai persyaratannya saya harus ikut bersama Mama ke Jerman"
"Kamu nggak bisa seenaknya seperti ini, kita saja baru mengenal, kenapa kamu berpikir kita akan bisa bersama, Papa saya saja melarang saya pacaran kamu malah mengajak saya tunangan, kamu sudah nggak waras"
"Itulah sebabnya saya mengajak kamu bertunangan, sebab Papamu pasti akan melarang kita berpacaran, saya sudah memikirkan ini sejak hari pertama kita bertemu, apalagi Mama juga sangat menyukai kamu, saat kita pergi ke Mall, Mama berencana ingin menjodohkan saya dengan kamu hanya Mamamu mengganggap Mama saya hanya bercanda, dan Mamamu juga mengatakan Papamu melarang kamu berpacaran"
Syakila benar-benar bingung harus berkata apa.
"Saya hanya butuh jawaban Ia atau tidak dari kamu, jika kamu bilang Ia saya akan merencanakan semuanya hari ini dan mengunjungi kamu besok bersama Mama di rumah kamu, semua harus cepat di urus sebab waktu saya hanya satu bulan, setelah itu saya akan pergi ke Jerman dan selama tiga tahun ini saya akan melanjutka Sekolah di sana sekalian mengurus perusahaan Papa"
"Saya nggak bisa jawab, kamu tanyakan saja sama Mama Papa saya, jika mereka setuju saya juga setuju"
"Baiklah saya akan berusaha mendapatkan restu dari Mama Papa kamu, tapi yang ingin saya tanyakan sebenarnya apakah kamu juga menyukai saya?"
__ADS_1
Deg...
Syakila berdebar mendapat pertanyaan seperti itu dari Rifki.
"Sa...saya sangat menyukai kamu, jujur kamu cinta pertama saya"
Rifki tersenyum manis mendapat jawaban seperti itu dari Syakila, Ia seakan melayang dan terbang ke langit, ternyata cintanya tak bertepuk sebelah tangan.
Sebenarnya saat di Sekolah bukan pertama kali Ia melihat Syakila, kejadian itu terjadi saat Rifki berada di rumah sakit, saat Ia dan Mamanya mengantarkan adiknya kerumah sakit, Ia melihat Syakila sedang duduk di taman rumah sakit sambil berdoa untuk seseorang, Rifki hanya mendengar sedikit saat Syakila mengatakan
"Ya Allah selamatkan adik, jangan biarkan Tante bersedih, Syakila sayang adik"
Kemudian Rifki mendapat kabar bahwa keadaan adiknya semakin memburuk, sebab jantungnya mulai melemah, Rifki bergegas melihat adiknya dan ingin selalu berada di sampingnya.
Sejak saat itu Rifki merasa ada kesamaan di atara Dia dan Gadis kecil itu,
Dan ketika Ia melihat Syakila awalnya Ia tak menyadari kalau Syakila adalah Gadis kecil yang sama yang pernah Ia lihat sewaktu di rumah sakit, namun saat Ia melihat foto Gadis kecil di rumah Syakila tadi Ia teringat Pada Cinta masa kecilnya.
Dan bukan hanya itu, bahkan orang tua mereka juga saling mengenal.
"saya hanya ingin bersama Gadis yang saya cintai, itu adalah tekad dan keinginan saya"
Rifki mengantar Syakila ke rumah, hari ini Ia sangat senang bisa bersama Gadis yang Ia sukai.
Sebelum Syakila memasuki rumah, Rifki membelai rambut Gadis itu, Ia menyentuh wajah lembut Syakila, kemudian berpamitan, sebab Ia tak sabar ingin memberitahukan Mamanya kalau Syakila akan menerimanya, jika orang tuanya setuju, Rifki tak ingin membuang-buang waktu lagi, Ia ingin segera bertunangan dan menjadikan Syakila sebagai miliknya.
Mama mengintip dari balik tirai jendela, Ia memperhatikan raut wajah Syakila yang tampak sangat bahagia, Ia yakin anak Gadisnya itu sedang jatuh cinta, tapi Ia teringat akan kata-kata suaminya yang melarang keras anak Gadisnya dekat-dekat dengan seorang laki-laki, suaminya sangat ingin Syakila menjadi seorang Dokter.
Mama membukakan pintu rumah, Ia mengajak Syakila duduk sebentar di ruang tamu, Ia ingin berbincang-bincang sedikit bersama Syakila.
Syakila menceritakan semua pada Mamanya, awalnya Mama tak percaya akan ucapan Syakila tentang rencana Rifki, Ia bahkan akan menghubungi Citra, kemudian Syakila mengatakan kalau Ia juga menyayangi Rifki, lagi pula mereka tidak berbuat hal yang salah, Rifki akan ke Jerman selama tiga tahun, Mama hanya ingin meyakinkan Syakila apakah Ia menunggu Rifki, hubungan jarak jauh itu tidak gampang, bahkan saat bersama saja sulit untuk menyatukan dua orang yang berbeda apa lagi saat mereka jauh.
__ADS_1
Syakila meyakinkan Mama, jika Ia akan baik-baik saja dan membuktikan semua akan berjalan lancar, Ia akan giat belajar dan mewujudkan cita-citanya begitu juga Rifki, sampai akhirnya mereka akan bersatu.
Mama melihat keyakinan dalam diri Syakila, bahkan Syakila membujuknya agar Mama membantu agar Papa menyetujui Rifki sebagai calon suaminya.
Siska menghubungi Citra, Ia masih tak percaya dengan ucapan Syakila, Ia ingin memastikan langsung, saat Ia akan memegang gagang telepon, tiba-tiba terdengar suara dering dari telepon itu.
Siska mengangkat telepon dan mendapati suara Dona disana.
"Mbak, apa benar Citra ingin melamar Syakila?"
Sisaka masih terdiam mendengar ucapan Dona.
"Tau dari mana kamu?"
"Tadi Citra hubungi saya, Dia cerita ingin melamar Syakila, emang Syakila tau kalau anaknya Citra berniat melamarnya?"
"Saya juga belum yakin, ini saya mau bertanya langsung sama Citra"
"Citra lagi di jalan mbak, tadi Dia bilang mau ke tempat Mbak, saya kasih alamat Mbak sama Dia"
"Oh ya sudah kalau gitu saya mau siap-siap dulu, saya tutup teleponnya"
"Ia Mbak, saya juga akan ke tempat Mbak bersama Rio"
Siska mempersiapkan diri, Ia juga menghubungi suaminya agar pulang lebih awal.
Syakila semakin berdebar, apa benar Ia akan bisa bersama Rifiki, Ia bahkan membayangkan kehidupannya bersama Rifki, pasti akan menyenangkan, Ia ingin menyiapkan makanan, menyiapkan pakaian dan selalu berama Rifki pasti akan membuat dirinya merasa bahagia.
Ia bahkan membayangkan hal-hal yang aneh-aneh, membayangkan ciuman pertamanya bersama Rifki akan seperti apa?
Ia senyum-senyum sendiri, Cinta membuatnya semakin bahagia dan penasaran.
__ADS_1